Siapakah Jay Smith? Setiap orang yang sering terlibat dalam debat Islam - Kristen
akan segera mengenal nama Jay Smith. Ia yaitu seorang penginjil yang tinggal di
London, Inggris. Ia juga seorang apologetis, yakni ahli dalam menerangkan dan
mempertahankan keimanan agamanya dalam debat agama.
Namun jangan anda salah sangka. Penerjemah bukanlah seorang Kristen, dan
tentu tidak tertarik dengan penjelasan tentang apa itu kekristenan. Penerjemah
hanya berfokus pada kritik terhadap iman Islam dan tradisi Islam yang dilatar
belakangi dengan pemikiran yang kritis, bukan dengan kecurigaan dan
kedengkian. Dan sayangnya kekritisan yang cukup , yang memakai analisa
moderen tidak pernah datang dari tubuh islam sendiri.
Islam sudah terlalu lama dikungkung dalam kecurigaan dan kebencian pada Barat,
Kristen dan Yahudi, sehingga kita menjadi bagai katak dalam tempurung yang hanya
mendengar kisah kita saja tanpa mau mendengarkan kisah orang. Kita melihat dunia
dalam kacamata kita sendiri, tanpa mau menyadari bahwa kaca mata kita sudah
membentuk kita dalam perspektif yang dogmatis.
Kebenaran harus jadi kebenaran manakala ia dicecar dengan kritik dan
pertanyaan. Jika ia tidak kuat diterpa pertanyaan dan kritikan, dan tidak ditopang
oleh bukti-bukti valid sejarah, maka ia bukanlah kebenaran, ia hanyalah
pembenaran.
Manusia dewasa hidup atas dasar nilai-nilai kebenaran, bukan atas dasar
emosionalitas agama. Sejauh apa kita bisa berpikir dengan tenang dan
mempertimbangkan apa yang layak dipercaya sebab bukti-bukti yang
menyokongnya, sejauh itu pula kedewasaan kita berkembang. Kita hidup di abad
21 dimana kita belajar dengan memakai otak, bukan perasaan. Dan tidak
patut kita, demi membuat tameng bagi kelemahan dogma yang kita percayai,
dengan entengnya berkata , “saya tetap beriman, walau tanpa bukti yang
menopang kebenaran dogmatis itu.”
Untuk itu para pembaca di harapkan terbuka dalam setiap kritik. Karya Jay Smith ini
merangkum banyak poin-poin penting dari berbagai buku yang terbaik mengenai kritik
terhadap Islam.
Tidak ada caci-maki atau pelecehan di sini. Sehinggga anda tidak perlu
membuangnya sesaat anda membaca judulnya saja, kecuali memang anda sudah
punya prasangka buruk, hal mana sangat disesalkan.
Penerjemah berupaya untuk mendekatkan terjemahan ini dengan format kalimat asli
dari penulis yang sayangnya sering kali panjang dan kompleks,
Pada bulan Agustus tahun 1995 saya diundang untuk ikut dalam acara debat dengan
tema usulan, "Apakah Quran Pewahyuan Ilahi?" dengan Dr. Jamal Badawi. Perdebatan
ini berlangsung di Trinity College, Cambridge, dan setelah paparan kami selesai
disajikan perdebatan dibuka untuk audiens selama satu jam pertanyaan baik dari Muslim
dan Kristen yang hadir. Berikut yaitu isi dari makalah, yang saya berikan dalam debat,
dan materi lebih lanjut, yang saya digunakan dalam sesi tanya jawab, dan data lebih
lanjut, yang telah saya keluarkan pada saat sesi debat. sebab ketertarikan yang
ditunjukkan pada topik itu, kami telah menempatkan makalah ini bersama dengan
sepuluh masalah apologetik lainnya, dan beberapa sanggahan muslim terhadap materi
itu , dan beberapa 99 Traktat Kebenaran populer di situs-web, di internet (silakan
mengaksesnya di :
Harapan kami yaitu bahwa materi debat di situs web ini dapat menyebar ke seluruh
dunia, dan membantu untuk menghidupkan dialog yang telah dimulai dalam Debat
Cambridge.
(Catatan: Saya telah mencoba untuk memberi catatan kaki pernyataan-pernyataan yang
terbukti menjadi sumber perdebatan, atau yang akan merangsang pembaca untuk
mencari data lebih lanjut. Saya telah memakai model Harvard, yang dimulai dengan
nama penulis, diikuti dengan tanggal publikasi, dan nomor halaman).
Mari kita mulai pelajaran kita.
Islam mengklaim bahwa Al Qur'an bukan hanya Firman Tuhan, tetapi ia yaitu
wahyu terakhir diberikan kepada manusia. Qur’an datang dari "Ibu dari segala kitab"
menurut Surah 43:2-4. Muslim mempertahankan keyakinan bahwa Qur'an yaitu
salinan yang tepat kata perkata dari pewahyuan Allah yang terakhir, yang ditemukan di
naskah asli yang selalu tersimpan di surga. Mereka merujuk pada Surah 85:21-22, yang
berbunyi :
Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al- Quranul Majid
yang tersimpan dalam Lauh Mahfuz. (QS 85:21-22)
Ulama Islam berpendapat bahwa bagian ini mengacu pada kitab yang tidak pernah
dibuat. Mereka percaya bahwa Qur'an yaitu salinan identik dari buku surgawi yang
kekal, bahkan sejauh tanda baca, judul dan divisi dari bab yang bersangkutan.
Menurut tradisi Muslim, "wahyu-wahyu ini mulai diturunkan (Tanzil atau Nazil) (Surah
17:85), dari level terendah dari surga tujuh lapis di bulan Ramadhan, pada malam
Lailatul Qadar (Pfander, 1910:262). Dari sana wahyu-wahyu ini diturunkan kepada
Muhammad secara berangsur, seiring dengan munculnya kebutuhan akan suatu hal,
melalui malaikat Jibril (Surah 25:32). Akibatnya, setiap huruf dan setiap kata bebas dari
pengaruh manusia, yang memberikan Al Qur’an aura otoritas, bahkan kekudusan, dan
dengan demikian, integritas.
Kebanyakan orang Barat selama ini menerima klaim ini dari umat Islam sebagai
penakdiran. Mereka tidak pernah memiliki kemampuan untuk berdebat lewat kejujuran
mereka, sebab klaim-klaim ini tidak bisa dibuktikan atau dibantah sebab
otoritasnya berasal hanya dari Al Quran itu sendiri (termasuk merontokkan klaim muslim
tentang terpenuhinya nubuatan-nubuatan Alkitab dalam Ulangan 18 , Yohanes 14, 16
oleh Muhammad, dan mungkin lainnya).Pula telah terjadi keengganan untuk
mempertanyakan Qur'an dan Muhammad sebab respon negatif dari umat Islam yang
diarahkan kepada mereka yang cukup berani untuk mencobanya di masa lalu. Faktanya
yaitu bahwa Sarjana Barat telah terlalu lama menyenangkan dirinya dengan
mengasumsikan bahwa umat Islam memiliki bukti dan data untuk mendukung klaim
mereka.
Baru sekarang ini, saat para cendekiawan sekuler tentang Islam (dikenal sebagai "
Para Orientalis") menguji kembali sumber-sumber Islam, bahwa bukti tengah ditemukan
yang mengarah pada pertanyaan yang jauh dari apa yang kepadanya kita telah dituntun
untuk percaya; tentang Muhammad dan wahyu-Nya, yakni Qur'an.
Temuan para sarjana ini menunjukkan bahwa Al Qur'an bukan diturunkan pada satu
orang, tetapi merupakan kompilasi dari redaksi (atau edisi) yang terkemudian yang
dirumuskan oleh sekelompok orang, selama lebih dari beberapa ratus tahun (Rippin
1985:155 dan 1990:3,25, 60). Dengan kata lain, Al Qur’an yang kita baca sekarang tidak
sama dengan Quran yang ada di pertengahan abad ketujuh , tapi mungkin lebih dari
sebuah produk dari abad kedelapan dan kesembilan (Wansbrough 1977:160-163). Pada
jaman kurun waktu itu, para orientalis mengatakan, khususnya pada abad kesembilan,
Islam mengambil identitas klasik dan menjadi apa yang dikenal saat ini. Akibatnya
mereka berpendapat bahwa tahap pembentukan Islam terjadi tidak pada jaman saat
Muhammad hidup, tapi berkembang selama 200-300 tahun
Sumber bahan yang merujuk pada kurun waktu itu, bagaimanapun, yaitu jarang.
Pada dasarnya satu-satunya sumber yang tersedia bagi para sejarawan yaitu sumber-
sumber muslim. Terlebih lagi di luar Al Qur’an, semua sumber merupakan produk yang
terkemudian. Sebelum tahun 750 M kita tidak memiliki dokumen muslim yang bisa
diverifikasi yang dapat memberi kita jendela ke masa pembentukan Islam Tidak ada yang dapat digunakan untuk menguatkan materi Tradisi Muslim
(yaitu, sejarah Islam berdasarkan tradisi mereka). Dokumen terkemudian hanya
memanfaatkan dokumen-dokumen sebelumnya, yang tidak ada lagi pada kita saat kita
ini (jika memang mereka sama sekali pernah ada) (Crone 1987:225-226; Humphreys
1991:73). Periode Klasik ini (sekitar 800 M) menggambarkan periode sebelumnya, tetapi
dari sudut pandangnya sendiri, sama seperti orang dewasa yang menulis tentang masa
kecil mereka, mereka akan cenderung mengingat momen-momen menyenangkan saja.
Dengan demikian catatan tradisi Islam sudah diwarnai dan bias, dan tidak dapat
diterima sebagai otentik oleh para ahli sejarah (lihat studi Crone tentang masalah tradisi,
"terutama yang tergantung pada pendongeng lokal, di Meccan Trade .... 1987, pp.203-
230 dan Slaves on Horses, 1980, hlm 3-17).
Akibatnya, garis demarkasi antara apa yang sejarawan terima dan apa yang Tradisi
Muslim pertahankan melebar lebih lanjut sebab alasan berikut: Islam, menurut ulama
Muslim ortodoks, memberikan kepercayaan penuh untuk intervensi ilahi bagi wahyunya.
Tradisi Muslim menegaskan bahwa Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad
melalui malaikat Jibril (Gabriel) selama dua puluh dua tahun (610-632 M), dimana pada
masa itu banyak hukum dan tradisi yang menggambarkan apa yang kita definisikan
sebagai Islam dirumuskan dan berlangsung.
Namun skenario inilah yang sejarawan sekuler tolak keras saat ini, sepertinya klaim
ini mengandaikan bahwa pada abad ketujuh awal, Islam, sebuah agama dengan
kecanggihan yang luar biasa, dengan hukum dan tradisi yang rumit dirumuskan dalam
budaya nomaden yang terbelakang dan secara penuh berfungsi hanya dalam 22 tahun.
Sebelum jaman itu, Hijaz (Arabia pusat saat itu) hampir tidak pernah dikenal di dunia
beradab. Bahkan tradisi terkemudian merujuk pada periode ini sebagai Jahiliyyah (atau
periode kebodohan - menyiratkan keterbelakangannya). Arabia sebelum Muhammad
tidak memiliki budaya kota (urbandized culture), juga tidak mungkin membanggakan
infrastruktur canggih yang dibutuhkan untuk menciptakan, apalagi mempertahankan
skenario yang dilukis oleh tradisi-tradisi terkemudian sebagai periode awal Islam (Rippin
1990:3-4). Jadi, bagaimana mungkin ia datang secara serentak begitu rapi dan begitu
cepat? Tidak ada preseden sejarah untuk skenario semacam ini. Kita akan
mengharapkan derajat kecanggihan itu tercipta selama satu atau dua abad, sepanjang
ada sumber-sumber lain, seperti budaya yang melingkupinya dari mana tradisi dan
hukum bisa dipinjam, tapi jelas tidak mungkin lingkungan padang pasir yang tidak
canggih dan terbelakang, dan jelas tidak mungkin dalam periode dari 22 tahun saja.
Sejarawan sekuler tidak bisa begitu saja menerima posisi yang diasumsikan oleh
tradisi-tradisi terkemudian bahwa semua ini muncul melalui wahyu ilahi, sebab mereka
berpegang bahwa seluruh sejarah harus didan i dengan bukti sejarah. Mereka dipaksa
untuk tenang dan bertanya bagaimana kita tahu apa yang kita tahu, di mana informasi
ini berasal, dan apakah ini ada sebab suatu ‘bias’ atau analisis sejarah netral.
Oleh sebab itu, para sejarawan, telah didorong ke dalam dilema. Sebab lewat
presuposisi sekuler mereka tidak bisa mendasarkan penelitian mereka atas dasar
keberadaan Tuhan, namun mereka tidak bisa membuang elemen Tradisi Muslim (yang
tentu mengandaikan keberadaan-Nya), sebab sumber tradisi ini yaitu yaitu yang
terbaik yang dimiliki dan kadang-kadang hanya itulah dokumen yang tersedia.
Itulah yang terjadi sampai saat ini.
Sederet ahli sejarah baru tentang Islam (seperti Dr John Wansbrough, Michael Cook
[keduanya dari SOAS], Patricia Crone, yang sebelumnya dari Oxford sekarang mengajar
di Cambridge, Yehuda Nevo dari University of Jerusalem, Andrew Rippin dari Kanada,
dan lain-lain ), sementara mengakui bahwa ada suatu misteri bekenaan dengan
pertanyaan mengenai intervensi ilahi, sekarang melihat lebih dekat pada sumber-sumber
lain tentang Al-Quran untuk memastikan petunjuk untuk asal-usulnya. yaitu sumber-
sumber ini yang kini mulai mengungkapkan bukti penjelasan alternatif awal dari sebuah
agama yang saat ini dianut seperlima populasi dunia, dan juga tumbuh lebih cepat dari
agama besar lainnya.
Dengan demikian, yaitu hasil karya mereka yang akan saya gunakan untuk
memahami dengan lebih baik asal-usul yang memungkinkan dari Al Qur'an. Ini yaitu
materi mereka, dan teman sejawat lainnya, yang saya rasa para apologetis Muslim
harus hadapi secara serius dalam tahun-tahun mendatang, sebanyak ini data baru yang
secara serius meragukan banyak klaim diteruskan oleh para sarjana Muslim tradisional
tentang kitab suci mereka, Al Qur'an, dan Muhammad. Untuk itu mari kita mulai analisis
kita dengan melihat pada sumber-sumber yang kita ketahui yang menyoal Islam, nabi
dan kitabnya.
B. Masalah-masalah dalam Tradisi Islam
Dalam rangka untuk membuat kritik terhadap Al Qur'an, yaitu penting untuk tidak
menekankan pada apa yang para penafsir jaman ini katakan, namun langsung kembali
ke awal, ke sumber-sumber paling awal dari Al Qur'an yang kita miliki untuk memetik
petunjuk yang berkenaan dengan otentisitasnya. Kita akan berasumsi bahwa ini
seharusnya cukup mudah dilakukan sebab merupakan suatu bentuk sastra yang relatif
muda yang muncul di tempat kejadian, yang menurut Muslim “hanya 1.400 tahun yang
lalu."
Pertanyaan mengenai sumber-sumber selalu menjadi area perdebatan bagi sarjana
sekuler Islam, seperti halnya studi Al Qur’an harus dimulai dengan masalah sumber-
sumber primer atau sekunder.
- Sumber primer yaitu bahan-bahan yang terdekat, atau memiliki akses langsung ke
kejadian ini .
- Sumber sekunder berkenaan dengan material yang cenderung lebih baru dan,
akibatnya, tergantung pada sumber-sumber primer.
Dalam Islam, sumber-sumber primer yang kita miliki yaitu 150-300 tahun setelah
kejadian yang mereka gambarkan, dan oleh sebab itu cukup jauh dari peristiwa-
peristiwa ini (Nevo 1994:108; Wansbrough 1978:119; Crone 1987:204). Untuk
alasan ini mereka disebut sumber-sumber sekunder, sebagai tujuan praktis,
sebab mereka bergantung pada bahan lain yang banyak tidak lagi ada. Yang pertama
dan terbesar dari sumber-sumber ini yaitu "Tradisi Islam atau Tradisi Muslim"
sebab pentingnya Tradisi Muslim ini, maka sangat penting bagi kita untuk mengupas
mereka terlebih dahulu
Tradisi Muslim terdiri dari tulisan-tulisan yang disusun oleh Muslim di akhir abad
kedelapan sampai awal abad kesepuluh awal tentang apa yang nabi Muhammad
katakan dan lakukan di masa hidupnya di abad ketujuh, dan tentang komentar-komentar
Al Qur’an. Sejauh ini catatan-catatan seperti itulah yang menjadi bahan yang paling luas
yang kita miliki saat ini tentang periode awal Islam. Mereka juga ditulis secara lebih
mendetil dari pada apapun yang kita miliki saat ini, dalam catatan ini memasukan
tanggal dan penjelasan atas apa yang terjadi. Catatan-catatan ini menjadi
pelengkap Al Qur'an.
Al Quran pada dirinya sendiri yaitu sulit untuk diikuti, sebab membuat pembaca
bingung saat temanya melompat dari cerita satu ke cerita lainnya dengan sedikit latar
belakang narasi atau penjelasan. yaitu pada titik ini bahwa tradisi menjadi penting
sebab mereka mengisi rincian yang dinyatakan hilang. Dalam beberapa kasus Tradisi
menang atas Al Qur'an. Sebagai contoh : saat Al Qur'an mengacu pada tiga doa harian
(Surah 11:114, 17:78-79, 30:17-18 dan mungkin 24:58), sedang dalam Tradisi
Muslim shalat lima waktu ditetapkan oleh tradisi terkemudian telah diadopsi oleh kaum
Muslim (Glasse 1991:381).
beberapa genre dapat kita temukan dalam tradisi-tradisi. Para penulis Tradisi ini
bukanlah penulis professional, melainkan pengumpul kisah dan editor yang
mengumpulkan informasi yang “diturunkan kepada mereka," dan terciptalah Tradisi itu.
Ada banyak pengumpul kisah, tapi empat yang dianggap oleh banyak umat Islam yang
paling berwibawa dalam genre masing-masing. Para pengumpul kisah ini hidup dan
mengumpulkan materi mereka antara 750-923 M (atau 120-290 tahun setelah kematian
Muhammad).
Mungkin akan membantu untuk mendaftar karya-karya mereka, bersama dengan
tanggal mereka:
1. Sirat Nabi yaitu catatan tentang kehidupan tradisional nabi (termasuk
pertempuran-pertempurannya). Sirrat yang paling komprehensif ditulis oleh Ibn Ishaq
(wafat 765 M), meski tidak satupun dari manuskrip yang ia miliki ada pada kita saat ini.
Akibatnya, kita tergantung pada Sira Ibn Hisham (w. 833 M), yang katanya ia ambil dari
Ibn Ishaq, meskipun menurut pengakuannya sendiri (berdasarkan penelitian dari Patricia
Crone) Ibnu Ishaq menghilangkan bagian-bagian yang mungkin memicu
kontroversi (yakni kisah manapun yang ia rasakan menjijikkan, puisi yang tidak bisa
dibuktikan di bagian-bagian lain, dan hal-hal yang dia tidak bisa terima sebagai dapat
dipercaya) (Crone 1980:6).
2. Hadis / Hadits yaitu ribuan laporan pendek atau narasi (Akhbar) tentang perkataan
dan perbuatan nabi yang dikumpulkan oleh Muslim di abad kesembilan dan kesepuluh.
Dari enam koleksi Hadis yang paling terkenal, hadis-hadis al-Bukhari- lah (w. 870 M)
yang dianggap oleh banyak muslim sebagai yang paling otoritatif.
3. Tarikh yaitu sejarah atau kronologi kehidupan nabi, yang paling terkenal ditulis oleh
al-Tabari (w. 923 M) pada awal abad kesepuluh.
4. Tafsir yaitu komentar dan penafsiran atas teks-teks Al Qur'an, tata bahasa dan
konteksnya, yang paling dikenal juga ditulis oleh al-Tabari (w. 923 M).
B.2. Kemunculan Yang Begitu Terlambat
Jelas, pertanyaan pertama yang harus kita pertanyakan yaitu mengapa tradisi ini
ditulis begitu terlambat, yakni 150-300 tahun setelah kejadian? Kita sama sekali tidak
memiliki “catatan dari komunitas Islam selama 150 tahun pertama , antara penaklukan
Arab pertama, yakni dari awal abad ketujuh, hingga kemunculan komunitas islam,
dengan narasi sira-maghazi, sebagai awal literatur Islam, yakni di akhir abad kedelapan
(Wansbrough 1978:119). Kita seharusnya berharap untuk menemukan dalam masa 150
tahun itu setidaknya sisa-sisa bukti pengembangan agama Arab tua menuju Islam,
namun kita menemukan apa-apa (Nevo 1994:108; Crone 1980:5-8) .
Ada Muslim yang tidak setuju dengan fakta di atas, dengan tetap mempertahankan
bahwa ada bukti tradisi sebelumnya, utamanya Muwatta oleh Malik ibn Anas (lahir 712
M dan meninggal pada 795 M). Norman Calder dalam bukunya Study in Early Muslim
Jurisprudence tidak setuju dengan penanggalan awal seperti itu dan banyak pertanyaan
menyangkut karya ini dapat dikaitkan dengan penulis-penulis yang disebutkan di
situ. Dia berpendapat bahwa sebagian besar teks yang kita miliki dari para penulis ini
,yang dianggap sebagai penulis islam awal, yaitu "kumpulan teks" yang ditransmisikan
dan dikembangkan selama beberapa generasi, dan mencapai bentuk yang kita ketahui
lebih terkemudian sebagai karya dari "penulis" yang disangkakan, yaitu mereka yang
dianggap menulis kisah-kisah itu.
Dengan mengikuti anggapan bahwa saat itu "aliran Syafi'i" (yang menuntut bahwa
semua hadis ditelusuri kepada Muhammad) belum berlaku sampai setelah 820 M, ia
menyimpulkan bahwa sebab Mudawwana tidak berbicara tentang otoritas kenabian
Muhammad sedang Muwatta tidak. Muwatta selayaknya jadi dokumen yang
terkemudian. Akibatnya, posisi Calder Muwatta harusnya hadir sebelum tahun 795 M,
tapi kadang setelah Mudawwana yang ditulis pada tahun 854 M. Kenyataannya Calder
menempatkan Muwatta bahkan tidak di Arab abad kedelapan namun di Cordoba,
Spanyol abad kesebelas (Calder 1993). Jika ia benar maka kita memang ditinggalkan
dengan begitu sedikit bukti dari setiap tradisi dari masa awal Islam.
Humphreys mengkristal masalah ini saat dia menunjukkan bahwa, "Kita akan
menganggap umat Islam pastilah dilecut sedemikian rupa untuk mencatat prestasi spektakuler
mereka, sementara yang kaum terpelajar dan masyarakat perkotaan yang akan segera
ditundukkan oleh Islam hampir tidak mengetahui nasib yang akan menimpa mereka"
(Humphreys 1991:69). Menurut Humphreys semua yang kita temukan dari periode awal
ini merupakan sumber yang, " entah perspektif yang fragmentaris, atau sangat spesifik , atau
bahkan eksentrik," benar-benar membatalkan setiap kemungkinan untuk merekonstruksi Islam
abad pertama secara memadai (Humphreys 1991: 69).
Untuk itu pertanyaan yang harus ditanyakan di sini yaitu dari mana para
pengumpul kisah nabi di abad 8 & 9 mendapat bahan cerita mereka? Jawabannya
yaitu bahwa kita tidak tahu. "Bukti yang kita miliki dokumentasi sebelum 750 M hampir
seluruhnya terdiri dari kutipan yang agak meragukan dari kompilasi yang dilakukan
terkemudian.." (Humphreys 1991:80) Akibatnya, kita tidak memiliki bukti yang dapat
dipercaya jika tradisi benar-benar berbicara tentang kehidupan Muhammad, atau bahkan Qur'an
(Schacht 1949:143-154). Kita diminta untuk percaya bahwa dokumen-dokumen ini, yang
ditulis ratusan tahun kemudian, sebagai dokumen yang akurat. Sayangnya kita tidak
disajikan dengan bukti kejujuran mereka; di luar isnad - yang tidak lebih dari daftar yang
dimaksudkan untuk memberikan nama-nama mereka dari lisan yang ini tradisi
diturunkan. Bahkan isnad sendiri kurang dalam dokumentasi pendukung yang dapat
digunakan untuk menguatkan otentisitas mereka (Humphreys 1991:81-83), namun
dilebih-lebihkan dalam tulisan-tulisan di kemudian hari.
B.2.a. Belum Berkembangnya Tradisi Tulis Menulis ?
Muslim mempertahankan pandangan bahwa begitu terlambatnya sumber primer
dapat disebab kan budaya tulis menulis belum berkembang luas di daerah terisolasi
seperti Arab pada saat itu. Asumsi ini sama sekali tidak berdasar, sebab budaya menulis
di atas kertas sudah dimulai jauh sebelum abad ketujuh. Menulis di atas kertas
ditemukan pada abad keempat, dan digunakan secara luas di dunia beradab sejak saat
itu. Dinasti Umayyah bermarkas di daerah Siria, bekas provinsi Bizantium, dan bukan di
Arab. Siria saat itu yaitu suatu masyarakat yang canggih dimana para sekretaris
dipekerjakan untuk tulis menulis di pengadilan Khalifah. Ini membuktikan bahwa budaya
menulis naskah sudah dengan baik dikembangkan di sana.
Lebih jauh lagi kita diberitahu bahwa Arab (yang lebih dikenal sebagai Hijaz ) di abad
ketujuh dan sebelumnya, yaitu daerah perdagangan, dimana rombongan karavan
pedagang bolak-balik rute utara-selatan, dan mungkin timur-dan barat. Sementara bukti-
bukti menunjukkan bahwa perdagangan terutama bersifat lokal (seperti yang akan kita
bahas kemudian). Bagaimana para pedagang menyimpan catatan mereka jika alat tulis
menulis tidak tersedia saat itu? Mereka tentu tidak menghafal angka-angka di luar
kepala sebagai catatan jual beli mereka bukan? Dan akhirnya kita harus bertanya :
bagaimana Al-Qur'an ada dalam bentuk sekarang jika tidak ada seorangpun yang
mampu memakai pena dan kertas untuk menulis pada waktu itu?
Muslim mengklaim adanya beberapa mushaf / naskah Qur'an tidak lama setelah
kematian Muhammad, seperti mushaf Abdullah ibn Mas'ud, Abu Musa, dan Ubayy b.
Ka'b (Pearson 1986:406). Dalam bentuk apakah mushaf ini jika mereka bukan dokumen
tertulis? Teks Usman sendiri harus sudah ditulis, jika tidak maka tidak akan disebut teks!
Budaya tulis menulis sudah ada, tapi untuk suatu alasan tertentu, mengapa tidak ada
catatan sebelum tahun 750 M yang tersimpan?
. Usia Ketahanan Kertas
Sarjana Muslim lain mempertahankan bahwa tidak adanya dokumentasi awal bisa
disalahkan pada usia ketahanan kertas. Mereka percaya bahwa bahan atas mana
sumber-sumber utama ini ditulis entah hancur dari waktu ke waktu, sehingga yang
tersedia pada kita hanya sedikit saja, atau rusak sebab perlakuan yang kasar oleh
penggunanya sehingga hancur.
Argumen ini agak meragukan, sebab dii British Library kita memiliki cukup banyak
contoh dokumen yang ditulis oleh individu dalam masyarakat yang tidak terlalu jauh dari
Arab, yang hidup ratusan tahun sebelum Muhammad hidup. Terpampang di museum itu
manuskrip Perjanjian Baru seperti Codex Syniaticus dan Codex Alexandrinus, baik yang
ditulis pada abad keempat, tiga sampai empat ratus tahun sebelum jaman Muhammad
hidup! Mengapa mereka tidak hancur sebab usia?
saat kita menerapkannya pada Al Qur'an argumen ini sangatlah lemah. Mushaf
Usman, yakni kanon Quran terakhir disusun oleh Zaid ibn Thabit, di bawah arahan
khalifah ketiga Usman, dianggap oleh semua umat Islam sebagai bagian paling penting
dari literatur yang pernah ditulis. Seperti yang kita catat sebelumnya, menurut Surah
43:2-4, Quran yaitu "ibu dari semua kitab". Pentingnya Al Qur’an terletak pada
keyakinan bahwa ia dianggap sebagai replika yang tepat dari "kitab abadi" yang ada di
surga (Surah 85:22). Tradisi Muslim memberitahu kita bahwa semua mushaf dan
dokument pesaing lainnya telah dimusnahkan setelah 646-650 M. Bahkan mushaf yang
Hafsah simpan, dari mana resensi final Quran diambil, akhirnya dibakar. Jika Mushaf
Usmani ini begitu penting, mengapa saat itu tidak ditulis di atas kertas, atau bahan lain
yang akan berlangsung sampai hari ini? Dan tentu saja, jika naskah awal robek atau
rusak sebab penggunaan, mengapa tidak diganti dengan mushaf yang ditulis pada kulit,
seperti begitu banyak dokumen lama lainnya yang masih ada saat ini?
Kita sama sekali tidak memiliki bukti untuk teks asli Al Qur’an asli (Schimmel 1984:4).
Kita juga tidak memiliki salah satu dari empat salinan yang konon dibuat sebagai resensi
ini dan dikirim ke Mekah, Madinah, Basrah dan Damaskus (lihat argumen Gilchrist dalam
bukunya Jam’ Al Quran, 1989, hal 140-154, dan Ling & Safadi The Qur'an 1976, hlm
11-17). Bahkan jika salinan ini entah bagaimana hancur sebab usia, pasti akan
ada beberapa fragmen dokumen yang masih kita bisa lihat.
Pada akhir abad ketujuh Islam telah meluas di seluruh Afrika Utara dan sampai ke
Spanyol di barat , sampai ke India di timur, dan Al-Qur'an (menurut tradisi) yaitu inti
dari iman mereka. Tentu saja dalam bahwa lingkup pengaruh sebesar itu harus ada
dokumen atau manuskrip Al-Qur'an yang masih eksis sampai hari ini. Namun, tidak ada
dari periode itu sama sekali.
sedang kekristenan dapat mengklaim lebih dari 5.300 manuskrip berbahasa
Yunani yang dikenal dari Perjanjian Baru, 10.000 dokumen berbahasa Latin Vulgata dan
setidaknya 9.300 versi awal lainnya, ditambah lebih dari 24.000 manuskrip Perjanjian
Baru yang masih ada (McDowell 1990:43-55), sebagian besar yang ditulis antara 25
sampai 400 tahun setelah kematian Yesus (atau antara abad ke-1 dan ke-5) (McDowell
1972:39-49).
Ironisnya Islam tidak dapat memberikan sebuah naskah tunggal hingga memasuki
abad kedelapan (Lings & Safadi 1976:17; Schimmel 1984:4-6). Jika Kristen bisa
mempertahankan begitu banyak ribuan naskah kuno, yang semuanya ditulis jauh
sebelum abad ketujuh, pada saat kertas belum diperkenalkan, dan berkutat pada
ketergantungan pada papirus yang mudah rusak, kemudian orang bertanya-tanya
mengapa Muslim tidak mampu meneruskan sebuah naskah tunggal dari periode yang
begitu belakangan ini? Kapan saat wahyu sebenarnya diungkapkan? Ini memang
menyajikan masalah bagi argumen bahwa semua mushaf Al Qur’an awal hanya hancur
sebab faktor usia, atau hancur sebab mereka usang dipakai.
B.2.c. Dokumen-dokumen Yang Ada Sampai Saat Ini
Sebagai tanggapan, umat Islam berpendapat bahwa mereka memiliki beberapa
“turunan mushaf Usman". Salinan asli dari abad ketujuh masih milik mereka. Saya
mendengar Muslim mengklaim bahwa ada salinan asli di Mekah, di Kairo dan di hampir
setiap komunitas Islam kuno. Saya sering meminta mereka untuk melengkapi dengan
data yang akan membuktikan keberadaan naskah kuno mereka, sebuah tugas yang
sampai saat ini tak seorang pun telah mampu lakukan..
Bagaimanapun ada dua dokumen yang memiliki kredibilitas, dan banyak dirujuk oleh
umat Islam. Ini yaitu Naskah Samarkand, yang terletak di Perpustakaan Negara di
Tashkent, Uzbekistan (di bagian selatan dari bekas Uni Soviet), dan Naskah Topkapi,
yang dapat ditemukan di Museum Topkapi Istanbul, Turki
Kedua dokumen ini memang tua, dan telah dilakukan analisis etimologis dan
paleografis yang cukup banyak pada dokumen ini oleh para scriptologists, dan
ahli dalam kaligrafi Arab untuk menjamin diskusi mereka di sini.
Naskah Samarkand – (diambil dari Jam ' Al Quran Gilchrist 1989, pp 148-150) :
Naskah Samarkand ini sama sekali tidak lengkap. Bahkan, dari 114 Surah yang ada
dalam Al Qur’an saat ini, hanya bagian dari Surah 2 sampai dengan 43 yang ada di
naskah Samarkand ini. Dari sekian Surah yang ada pun banyak teks yang hilang.
Inskripsi yang sebenarnya dari teks dalam naskah Samarkand ini menghadirkan
masalah nyata, sebab sangatlah tidak teratur. Beberapa halaman disalin rapi dan
seragam, sementara yang lain tidak rapi dan tidak seimbang (Gilchrist 1989:139 dan
154). Pada beberapa halaman teks cukup luas, sedang di halaman lain teksnya
ditulis padat berjejalan. Pada jaman itu aksara Arab KAF telah dikecualikan dari teks,
sementara pada bagian lain, aksara ini tidak hanya diperluas tetapi menjadi dominan
dalam teks. sebab begitu banyak halaman dengan naskah berbeda satu sama lain,
maka asumsi kita hari ini yaitu bahwa naskah ini yaitu produk pengumpulan,
disusun dari beberapa bagian-bagian naskah yang berbeda (Gilchrist 1989:150).
9
Juga dalam teks kita dapat menemukan iluminasi artistik antara Surah, biasanya
terdiri dari beberapa baris kotak medali sebanyak 151 dengan warna merah, hijau, biru
dan oranye. Iluminasi ini membimibing skriptologis untuk memberikan penanggalan
akurat asal dokumen ini sebagai produk dari abad kesembilan, sebab sangat tidak
mungkin bahwa hiasan seperti itu muncul di abad ketujuh saat konon naskah Usman
dikirim ke berbagai propinsi (Lings & Safadi 1976:17-20; Gilchrist 1989: 151).
Naskah Topkapi :
Naskah Topkapi di Istanbul, Turki juga ditulis di perkamen, dan tidak memiliki
vokalisasi (lihat Gilchrist, 1989, hal.151-153). Seperti naskah Samarkand, naskah inipun
dilengkapi dengan medali hias yang menunjukkan usianya yang terkemudian (produk
dari abad kesembilan) (Lings & Safadi 1976:17-20).
Muslim menyatakan bahwa ini juga pastilah salah satu salinan asli, jika bukan yang
asli yang disusun oleh Zaid ibn Thabit. Namun kita hanya perlu membandingkannya
dengan Naskah Samarkand untuk menyadari bahwa kedua naskah ini bukanlah naskah
Usman asli. Misalnya, Naskah Istanbul Topkapi memiliki 18 garis per halaman
sementara codex Samarkand di Tashkent hanya memiliki antara 8 dan 12 baris per
halaman. Naskah Istanbul ditulis seluruhnya dengan cara yang sangat formal, kata-kata
dan baris cukup ditulis seragam, sementara naskah Samarkand sering serampangan
dan sangat terdistorsi. Kita tidak dapat meyakini bahwa kedua manuskrip disalin oleh
para penulis kitab yang sama.
Analisa Naskah :
Para ahli dalam analisa naskah memakai tiga tes untuk memastikan usia
mereka. Pertama, mereka menguji usia kertas dimana naskah itu ditulis, dengan
memakai proses kimia seperti penanggalan karbon-14. Metoda ini cukup memadai
untuk mengukur usia naskah seperti Al Qur'an. Ketepatan penanggalan biasanya
berkisar dalam toleransi + / - 20 tahun. Namun selalu ada keengganan untuk
memakai nya sebab jumlah bahan yang harus dihancurkan dalam proses ini
(1 sampai 3 gram) akan memerlukan hilangnya terlalu banyak naskah. Bentuk yang
lebih halus dari carbon-14, yang dikenal sebagai AMS (Accelerator Mass Spectometry)
yang sekarang digunakan, hanya membutuhkan 0,5-1,0 mg dari bahan uji (Vanderkam
1994: 17). Namun, sampai saat ini tak satu pun dari naskah ini telah diuji oleh metode ini
canggih ini.
Para ahli juga mempelajari tinta naskah dan menganalisis materi non kertasnya.
Kemudian menemukan dimana bahan tinta ini berasal, atau apakah ia telah dihapus dan
ditimpa. Namun usia untuk dokumen-dokumen ini akan sulit untuk ditentukan sebab
keterlambatan dokumen. Masalah-masalah ini diperparah oleh tidak diberinya ijin untuk
mempelajari naskah ini secara rinci, sebab rasa ketakutan dari orang-orang yang
menjaga naskah ini (penerjemah -jika klaim mereka terbukti salah).
Jadi para spesialis harus pergi menganalisa naskah itu sendiri, menganalisa apakah
naskah itu baru atau lama. Penelitian ini lebih dikenal sebagai paleografi. Gaya
penulisan naskah terus berubah dari waktu ke waktu. Perubahan ini cenderung
seragam sebagai naskah biasanya ditulis oleh ahli tulis kitab profesional. Jadi tulisan
tangan cenderung mengikuti konvensi yang berlaku saat itu, dengan hanya modifikasi
10
secara bertahap (Vanderkam 1994:16). Dengan memeriksa tulisan tangan pada naskah
ini , tanggal penulisaannya sudah bisa diketahui. Paleograper bisa
membandingkannya dengan teks dengan tanggal penulisan lainnya dan dengan
demikian memastikan dari mana jangka waktu penulisan mereka berasal.
Aksara Kufik :
Apa yang kebanyakan Muslim tidak sadari yaitu bahwa kedua naskah ditulis dalam
aksara kufik, aksara yang menurut para ahli Al Qur’an modern, seperti Martin Lings dan
Yasin Hamid Safadi, tidak pernah muncul sampai akhir abad kedelapan (tahun 790-an
dan kemudian), dan sama sekali tidak digunakan di Mekkah dan Madinah pada abad
ketujuh (Lings & Safadi 1976:12-13,17; Gilchrist 1989:145-146, 152-153).
Alasannya cukup sederhana. Pertimbangk an: aksara Kufik, biasanya dikenal
sebagai al-Khatt al-Kufi, namanya berasal dari kota Kufah di Irak (Lings & Safadi
1976:17). Akan tampak aneh jika aksara ini dijadikan naskah resmi dari Al Qur'an
bahasa Arab, sebab Kufah , aksara yang dari nama kotanya diambil ini, baru ditaklukan
10-14 tahun kemudian.
Penting untuk dicatat bahwa kota Kufah, berlokasi di Irak saat ini, yaitu sebuah
kota yang bercorak Sassanid atau Persia sebelum waktu itu (637-8 M). Jadi, sementara
Arab akan telah dikenal di sana, Kufik tidak akan menjadi bahasa dominan, apalagi
aksara dominan, sampai lama kemudian.
Pada kenyataannya kita ketahui bahwa aksara Kufik mencapai kesempurnaannya
selama abad kedelapan akhir (sampai seratus lima puluh tahun setelah kematian
Muhammad) dan setelah itu banyak digunakan di seluruh dunia Muslim (Lings & Safadi
1976:12,17; Gilchrist 1989:145-146). Ini masuk akal, sebab setelah tahun 750 M Dinasti
Abbasiyah mengendalikan Islam, dan sebab mereka berlatar belakang Persia mereka
bermarkas di daerah Kufah dan Baghdad. Mereka dengan demikian ingin aksara Kufik
mendominasi. Setelah mereka sendiri didominasi oleh Bani Umayyah (yang berbasis di
Damaskus) selama sekitar 100 tahun sebelumnya. Sekarang akan cukup dimengerti
apabila tulisan bercorak Arab yang berasal di wilayah pengaruh mereka, seperti aksara
Kufik, akan berevolusi menjadi apa yang kita temukan dalam dua dokumen yang
disebutkan di atas.
Format Lanskap Tulisannya :
Faktor lain yang menunjuk pada tanggal terkemudian dari dua manuskrip ini
yaitu format di mana mereka ditulis. Kita akan mengamati bahwa sebab gaya
memanjang dari aksara Kufik ini, kedua naskah memakai lembaran yang lebih
lebar bukannya tinggi. Hal ini dikenal sebagai 'format landskap'. Format dipinjam dari
Syria dan dokumen Kristen Irak dari abad kedelapan dan kesembilan. Semua naskah
berbahasa Arab sebelumnya selalu ditulis dalam 'format tegak' (terima kasih kepada Dr
Hugh Goodacre dari Kantor Koleksi Oriental dan India, yang menunjukkan fakta ini
kepada saya untuk debat South Bank).
Oleh sebab itu, sebab kedua naskah ini ditulis dalam aksara Kufik, dan sebab mereka
memakai format lanskap, yaitu masuk akal jika baik Manuskrip Topkapi dan Samarkand
11
tidak mungkin ditulis lebih awal dari 150 tahun setelah jaman naskah Usman, atau seperti
perkiraan awal yaitu antara awal akhir thn 700 atau 800-an awal (Gilchrist 1989:144-147).
Naskah Ma'il dan Mashq :
Jadi naskah Quran macam apa yang digunakan di Hijaz (Arab) pada saat itu? Kita
tahu bahwa ada dua naskah Arab awal yang muslim moderen tidak kenali. Kedua
naskah itu yaitu naskah al-Ma'il, yang dikembangkan di Hijaz, khususnya di Mekah
dan Madinah, dan Naskah Mashq, yang juga dikembangkan di Medinah (Lings & Safadi
1976:11; Gilchrist 1989:144-145). Aksara al-Ma'il mulai dipakai pada abad ketujuh dan
mudah diidentifikasi, seperti yang ditulis sedikit miring (lihat contoh pada halaman 16
Jam’ Al Quran, Gilchrist -1989). Sebenarnya kata al-Ma'il itu sendiri berarti "miring."
Aksara ini bertahan selama sekitar dua abad sebelum akhirnya tidak digunakan sama
sekali.
Naskah Mashq juga ditulis pada abad ketujuh, tetapi terus digunakan selama
berabad-abad. Naskah ini bercirikan huruf yang lebih horizontal dan dapat dibedakan
dengan gaya agak kursif / melengkung dan santai (Gilchrist 1989:144). Jika Al Qur’an
telah disusun saat ini pada abad ketujuh, maka kita beranggapan quran pasti ditulis baik
dalam aksara Ma'il atau Mashq.
Menariknya, kita memang memiliki Al Qur’an yang ditulis dalam aksara Ma'il, dan
dianggap quran yang paling awal di tangan kita hari ini. Namun naskah ini tidak
ditemukan entah di Istanbul atau Tashkent, tapi, ironisnya berada di British Library di
London (Lings & Safadi 1976:17,20; Gilchrist 1989:16,144). Naskah ini telah dianalisa
penanggalannya dan diketahui ditulis di akhir abad kedelapan, oleh Martin Lings,
mantan kurator naskah Perpustakaan Inggris, yang yaitu seorang Muslim juga. Oleh
sebab itu, dengan bantuan analisis naskah, kami cukup yakin bahwa tidak ada
manuskrip yang diketahui dari Al Qur'an yang kita miliki sekarang yang dapat tanggal
dari abad ketujuh (Gilchrist 1989:147-148,153).
Selain itu, hampir semua fragmen manuskrip awal Al-Quran yang kita miliki dan telah
diperiksa tanggal kemunculannya, tidak ada dari naskah ini yang ditulis dalam
jangka waktu 100 tahun setelah kematian Muhammad. (pent :Semuanya lebih
terkemudian dari 1 abad pertama setelah kematian Muhammad.)
Dalam bukunya Kaligrafi dan Kebudayaan Islam, Annemarie Schimmel
menggarisbawahi poin ini saat ia menyatakan : “kecuali naskah Qur'an yang baru-baru
ini , semua fragmen dapat ditelusuri kemunculannya sejauh sampai kuartal pertama
abad kedelapan. (Schimmels 1984:4) (penerjemah -berarti paling tua hanya muncul
sekitar tahun 725 M)
Menariknya, Al Qur’an dari Sanaa ini masih tetap menjadi misteri, sebab pemerintah
Yaman belum mengijinkan para peneliti Jerman yang menganalisa naskah itu untuk
menerbitkan temuan mereka.
Mungkinkah ini ada sebuah usaha untuk menutup-nutupi apa yang naskah ini mungkin
akan ungkapkan? Ada kesan bahwa naskah dalam Al Qur’an awal abad kedelapan ini
tidak sesuai dengan Quran yang kita miliki saat ini. Kita masih menunggu untuk
mengetahui seluruh kebenarannya.
12
Namun dari bukti-bukti yang kita miliki, tampaknya tidak mungkin bahwa bagian-
bagian dari Al-Qur'an yang disalin pada jaman Usman selamat. Apa yang tersisa pada
kita yaitu usaha campur tangan 150 tahun kemudian yang kita tidak dapat jelaskan.
Sebelum melanjutkan topik kita ke Al Qur'an, mari kita kembali ke tradisi Muslim dan
melanjutkan diskusi kita pada poin terpenting apakah sumber-sumber awal Qur'an ini
dapat memberikan penilaian yang memadai akan otoritas Al-Qur'an. Kumpulan tradisi
yang paling banyak digunakan yaitu Hadis.
B.3. Kredibilitas
Ada banyak diskusi mengenai kredibilitas kompilasi hadis, tidak hanya di kalangan
sejarawan sekuler, tetapi dalam Islam juga, bahkan sampai saat ini.
Seperti kita catat sebelumnya, sebagian besar teks sejarah kita tentang Islam awal
yang disusun antara tahun 850-950 M (Humphreys 1991:71). Semua kumpulan naskah
terkemudian ini digunakan sebagai standar mereka, sedang materi sebelum tahun-
tahun itu tidak bisa menjadi bukti yang menguatkan berkaitan dengan akurasinya
(Humphreys 1991:71-72). Bisa jadi bahwa tradisi sebelumnya tidak lagi relevan, dan
begitu juga dibiarkan lapuk, atau dihancur. Kita tidak tahu. Apa yang kita tahu yaitu
bahwa para pengumpul itu kemungkinan besar mengambil materi mereka dari koleksi
yang dikumpulkan dalam dekade sekitar 800 M, dan bukan dari dokumen yang ditulis
pada abad ketujuh, dan tentu bukan dari pribadi Muhammad atau sahabatnya
(Humphreys 1991 : 73, 83; Schacht 1949:143-145; Goldziher 1889-90:72).
Kita juga tahu bahwa banyak dari mereka kompilasi parafrase dari Akhbar
sebelumnya (anekdot dan frase) yang mereka anggap dapat diterima, meskipun apa
kriteria yang mereka pakai untuk membedakan yang bisa dan tidak bisa diterima masih
tidak jelas (Humphreys 1991:83). Sekarang tampak jelas bahwa awal abad kesembilan
"aliran hukum / fiqih" mengotentifikasi agenda mereka sendiri dengan menegaskan
bahwa doktrin-doktrin mereka datang awalnya dari sahabat nabi dan kemudian dari nabi
sendiri (Schacht 1949:153-154).
Schacht berpendapat bahwa asal muasal pengambil-alihan ini berasal dari sarjana
al-Syafi'i (meninggal pada 820 AD). Dialah yang menetapkan bahwa semua tradisi
hukum harus dilacak kembali ke Muhammad untuk mempertahankan kredibilitas
mereka. Akibatnya beberapa besar tradisi hukum oleh aliran Fiqih klasik pada masa itu
diserukan seakan-akan bersumber dari jaman nabi, yang akibatnya memunculkan
ekspresikan doktrin-doktrin lain seperti halnya dari aliran Iraqian, dan bukan dari Arab
awal (Schacht 1949: 145). Inilah agenda yang ditekankan oleh masing-masing sekolah
hukum tentang pilihan tradisi dalam abad kesembilan dan kesepuluh yang banyak orang
percayai berasal dari hadis.
Wansbrough setuju dengan Humphreys dan Schacht saat ia mengatakan bahwa
catatan sastra ini, walaupun menampilkan setting waktu yang kontemporer dengan
peristiwa yang mereka gambarkan, sebenarnya milik masa jauh sesudah kejadian
ini , yang menunjukkan bahwa mereka telah ditulis sesuai dengan poin
terkemudian untuk memenuhi tujuan dan agenda di jaman terkemudian (Rippin
1985:155-156). (pent- dengan kata lain, hadis-hadis itu menggambarkan Muhammad
yang berbicara menyoal ini dan itu, padahal itu tidak pernah terjadi, semua itu dijadikan
alat untuk melegitimasi keyakinan dan produk hukum kaum fiqih pada tahun 800an.
13
Untuk memperkuat keyakinan mereka maka figur Muhammad dicomot sebagai figur
komunikator ).
Ambil contoh dari Syiah. Agenda mereka memang cukup transparan, sebab mereka
mempertahankan bahwa dari 2.000 hadis yang valid mayoritas (1.750) berasal dari Ali,
menantu nabi, yang kepadanya kaum Syi'ah mencari inspirasi. Bagi seorang pengamat
selintas kelihatannya ini agak mencurigakan. Jika premis keaslian Syiah itu murni politik,
lalu mengapa tidak kita simpulkan premis yang sama pada para penyusun lain dari
tradisi?
Pertanyaan yang harus kita ajukan disini yaitu adakah "butiran kebenaran sejarah"
yang mendasari yang tersisa bagi kita untuk digunakan? Schacht dan Wansbrough
keduanya skeptis mengenai hal ini (Schacht 1949:147-149; Wansbrough 1978:119).
Patricia Crone mengambil argumen satu langkah lebih jauh dengan berpendapat
bahwa kredibilitas tradisi ini sudah hilang akibat bias dari setiap individu
pengumpul kisah. Dia menyatakan:
“Karya-karya para penyusun pertama seperti Abu Mikhnaf, Sayf bin ‘Umar’ Awana, Ibn
Ishaq dan Ibn al-Kalbi yaitu tumpukan sekadar dari tradisi yang berbeda-beda, tidak
mencerminkan satu kepribadian, aliran, waktu atau tempat: Sebagai seorang Madinah
Ibnu Ishaq mentransmisikan tradisi yang mendukung Irak, sehingga tradisi Saif Irak
menentangnya. Dan semua kompilasi dicirikan dengan dimasukkannya materi dalam
mendukung pendekatan hukum dan doktrinal yang bertentangan. (Crone 1980:10) “
Dengan kata lain, sekolah-sekolah lokal hukum sebenarnya membentuk tradisi-
tradisi yang berbeda, bergantung pada konvensi lokal dan pendapat ulama setempat
(Rippin 1990:76-77). Nantinya para sarjana menyadari keragaman ini dan melihat
perlunya menyatukan hukum Islam. Solusinya ditemukan dengan cari mengaitkan kisah-
kisah itu dengan tradisi Nabi, yang akan membut kisah itu memiliki otoritas, bukan hanya
pendapat seorang ulama. Oleh sebab itu tradisi-tradisi yang dikaitkan dengan
Muhammad mulai berkembang biak dari sekitar 820 seterusnya AD (Schacht 1949:145;
Rippin 1990:78).
Ambil contoh Sirah, yang memberi kita bahan terbaik tentang kehidupan nabi.
Tampaknya Sirah mengambil beberapa informasi dari Al Qur'an. Meskipun Isnad
digunakan untuk menentukan keaslian (yang kita ketahui sekarang menjadi tersangka,
seperti yang akan kita lihat nanti), otoritasnya tergantung pada otoritas Al Qur'an, yang
kredibilitas sekarang juga diragukan (juga akan dibahas dalam bagian selanjutnya).
Menurut G. Levi Della Vida, dalam artikelnya tentang Sirah, pembentukan Sirah sampai
ke periode reduksi kemudian dibakukan bentuk tampaknya telah terjadi sebagai berikut:
Seiring meningkatnya penghormatan yang terus kepada figur Muhammad, hal ini
memprovokasi suatu hagiographical (pengagungan / pemberhalaan) dari figur yang
kurang lebih cacat secara historis menjadi figur legenda dimana kisah-kisahnya
mengambil model dari tradisi Yahudi dan Kristen (mungkin juga Iran , meskipun pada
tingkat yang jauh lebih rendah). (Levi Della Vida 1934:441)
Dia melanjutkan penjelasannya bahwa bahan-bahan ini menjadi, terorganisir dan
sistematis di sekolah-sekolah muhaddithun Madinah, melalui 'pengisahan sebagaimana
midrash yahudi,' secara halus dan penuh kombinasi, terdiri dari bacaan-bacaan dar Al
Qur'an yang penafsirannya telah didekat-dekatkan dengan kejadian dalam kehidupan
nabi. Ini yaitu cara bagaimana kisah-kisah tentang kehidupan nabi di Madinah
dibentuk (Levi Della Vida 1934:441).
14
Oleh sebab itu kita ditinggalkan dengan dokumen-dokumen islam yang tingkat
kredibilitasnya rendah (Crone 1987:213-215). Bahkan materi sebelumnya hanya sedikit
membantu kita. Kisah-kisah Maghazi, yang bercerita tentang pertempuran nabi , yaitu
dokumen muslim paling awal yang kita miliki. Mereka seharusnya memberi kita
gambaran terbaik tentang jaman itu, namun mereka menceritakan begitu sedikit tentang
kehidupan nabi atau ajarannya. Bahkan, anehnya tidak ada dalam dokumen ini bagian
yang menunjukan penghormatan terhadap Muhammad sebagai nabi!
B.4. Kontradiksi
Masalah lebih lanjut dengan tradisi-tradisi ini yaitu yaitu kontradiksi,
kebingungan dan inkonsistensi dan anomali yang nyata diseluruh kisahnya. Misalnya
Crone bertanya, "Apa yang kita lakukan dengan pernyataan Baladhuri bahwa kiblat
(arah sholat) di masjid Kufah pertama yaitu di sebelah barat ... bahwa ada begitu banyak
Fatima, dan bahwa Ali kadang-kadang disebut sebagai saudara Muhammad? Ini yaitu tradisi
di mana informasi nya tidak bernilai dan tidak menghasilkan apa-apa."(Crone 1980:12)
Beberapa penulis menuliskan laporan yang bertentangan dengan kisah-kisah yang
mereka pernah tulis sebelumnya. (Humphreys 1991:73; Crone 1987:217-218). Al-Tabari,
misalnya, sering memberikan kisah yang berbeda, dan kadang-kadang bertentangan
dari insiden yang sama (Kennedy 1986:362). Pertanyaan tentang seberapa jauh al-
Tabari mengedit tetap mengemuka. Apakah dia memilih Akhbar (cerita pendek) yang
digunakan dalam rangka untuk mengembangkan dan mengilustrasikan tema-teman
utama tentang sejarah negara Islam? Kita tidak tahu.
Ibnu Ishaq memberitahu kita bahwa Muhammad mengalami kekosongan politik
saat memasuki Yathrib (Medina), tetapi kemudian ia mengatakan bahwa Muhammad
merenggut otoritas dari penguasa di sana (Ibn Hisham ed.1860: 285, 385, 411). Ibnu
Ishaq juga menceritakan bahwa orang-orang Yahudi di Madinah mendukung tetangga
Arab mereka, namun kemudian mengatakan bahwa Muhammad dilecehkan oleh mereka
(Ibn Hisham ed.1860: 286, 372, 373, 378). Manakah dari catatan-catatan ini yang
jelas bertentangan yang harus kita percaya? Sebagaimana Crone tunjukkan, "cerita-
cerita ini dikisahkan dengan pengabaian, tanpa memandang fakta tentang situasi
Madinah yang memungkinkan atau tidak." (Crone 1987:218)
Kesulitan lain yaitu catatan-catatan lain yang bertentangan yang diberikan oleh
pengumpul yang berbeda-beda (Rippin 1990:10-11). Banyak variasi pada tema umum.
Ambil contoh 15 catatan yang berbeda dari pertemuan Muhammad dengan perwakilan
dari agama non-Islam yang mengakui dia sebagai seorang nabi masa depan (Crone
1987:219-220). Beberapa tradisi menyebutkan kejadian ini terjadi selama masa kanak-
kanak (Ibn Hisham ed.1860: 107), yang lain saat ia berusia sembilan atau dua belas
tahun (Ibn Sa'd 1960:120), sementara yang lain mengatakan dia berusia dua puluh lima
pada waktu (Ibnu Hisyam ed.1860: 119). Beberapa tradisi menyatakan bahwa ia
diramalkan oleh orang Kristen Ethiopia (Ibn Hisham ed.1860: 107), atau oleh orang-
orang Yahudi (Abd al-Razzaq 1972: 318), sementara yang lain seorang peramal atau
Kahin entah di Mekah, atau Ukaz atau Dhu'l-Majaz (Ibn Sa'd 1960:166; Nu'aym Abu
1950:95, 116f; Abd al-Razzaq 1972:317). Crone menyimpulkan bahwa apa yang kita
miliki di sini tidak lebih dari "lima belas versi fiktif tentang suatu peristiwa yang tidak
pernah terjadi." (Crone 1987:220)
15
Akibatnya sulit untuk memastikan mana laporan yang otentik, dan mana yang harus
dibuang. Inilah masalah yang mengacaukan Muslim dan para orientalis bahkan sampai
saat ini.
B.5. Kemiripan-kemiripan
Di sisi lain, banyak dari tradisi mencerminkan materi yang sama seperti yang lain,
menyiratkan daur ulang dari tubuh data yang sama selama berabad-abad tanpa
referensi apapun dari mana ia berasal.
Ambil contoh sejarah al-Tabari tentang kehidupan nabi yang sama seperti Sira Ibn
Hisham, dan banyak yang sama dengan karyanya "Penjelasan tentang Al Qur'an,"
yang sama seperti koleksi Hadis Bukhari. sebab kesamaan mereka di tanggal yang
kemudian, mereka tampaknya menunjukkan sumber tunggal pada awal abad
kesembilan, yaitu dari sumber dimana semua kisah kutip (Crone 1980:11). Apakah ini
menunjukkan adanya "kanonisasi" materi disahkan oleh para ulama? Mungkin, tapi kita
tidak pernah bisa yakin.
Akibatnya, bahan-bahan ini menciptakan masalah besar bagi sejarawan yang hanya
dapat mempertimbangkan mereka otentik jika ada data yang dapat diobservasi yang
dapat secara obyektif dinilai berasal dari sumber-sumber luar yang sekunder, seperti
sumber utama dari sumber-sumber utama yang darinya tradisi-tradisi ini didapatkan.
Namun jika pun ada, kita hanya memiliki sedikit untuk dirujuk. Oleh sebab itu,
pertanyaannya yang harus diajukan yaitu : apakah sumber-sumber utama pernah
ada? dan jika demikian akankah kita dapat mengenali mereka dengan memakai
bahan sekunder yang kita miliki?
B.6. Pengembang-biakan Kisah-kisah Yang Mendadak
Masalah lebih lanjut dengan tradisi-tradisi ini yaitu proliferasi atau perkembang-
biakan kisah(Rippin 1990:34). Seperti yang telah kami sebutkan, karya-karya awal ini
baru muncul mulai abad kedelapan akhir dan seterusnya (hampir 200-300 tahun setelah
kejadian yang dilaporkan). Kemudian tiba-tiba mereka berkembang biak hingga ratusan
ribu kisah. Mengapa? Bagaimana kita bisa menjelaskan perkembang-biakan kisah-kisah
ini?
Ambil contoh kematian 'Abdullah, ayah dari Muhammad. Para penyusun abad kedelapan
pertengahan hingga (Ibnu Ishaq dan Ma'mar) menyepakati bahwa Abdullah sudah
meninggal pada saat Muhammad masih kecil, tetapi tidak merinci spesifik kematiannya.
Hanya Tuhan yang tahu '(Cook 1983:63 ).
Selanjutnya pada abad kesembilan tampaknya kematian Abdullah diketahui lebih
banyak. Waqidi, yang menulis lima puluh tahun kemudian memberitahu kita tidak hanya
kapan Abdullah meninggal, tetapi bagaimana dia meninggal, di mana ia meninggal, apa
usia berapa, dan tempat penguburannya secara tepat. Menurut Michael Cook, "evolusi
kisah ini dalam perjalanan setengah abad, dari ketidakpastian kepada kelimpahan detail yang
tepat, menunjukkan bahwa cukup banyak dari apa Waqidi ketahui bukanlah fakta" (Cook
1983:63-65). Ini agaknya khas Waqidi. Dia selalu bersedia memberikan tanggal dan
lokasi yang tepat, padahal Ibn Ishaqpun, yang hidup ratusan tahun setelah kematian
muhammad dan hidup sebelum Waqidi, tidak pernah mengetahui detailnya. (Crone
1987:224).
16
"Tidak mengherankan," balas Crone, “ bahwa ulama sangat menyukai Waqidi: dimana
lagi bisa kita temukan informasi sangat tepat seperti tentang segala sesuatu yang ingin
kita ketahui? Namun, mengingat bahwa informasi ini semua tidak diketahui sebelumnya
oleh Ibnu Ishaq, maka nilai kisahnya sangat diragukan. Dan jika informasi palsu
terakumulasi pada periode ini, dalam dua generasi antara Ibn Ishaq dan Waqidi, sulit
untuk menghindari kesimpulan bawa setidaknya ada 3 generasi terbentang antara
Muhammad dan Ibnu Ishaq "(Crone 1987:224).
Akibatnya, tanpa pengawasan yang nyata, atau keinginan untuk menyajikan
dokumentasi yang mendukung, para pengumpul kisah ini melebihi kewenangan mereka.
Para sarjana Muslim yang menyadari hal ini membiarkan perkembang-biakan ini
dengan berpendapat bahwa agama Islam mulai stabil saat ini. Jadi, wajar bahwa karya
sastra juga akan mulai tampil lebih banyak. Mereka katakan bahwa kisah-kisah versi
awal tidak lagi relevan bagi Islam yang baru, dan akibatnya kisah-kisah awal itu entah
dibuang atau hilang (Humphreys 1991:72).
Walaupun ada kepercayaan pada teori ini, orang akan berasumsi bahwa bahkan
beberapa dokumen ini akan tetap, terselip di perpustakaan tertentu, atau dalam koleksi
seseorang. Namun asumsi ini tidak terbukti, dan ini yang mencurigakan.
Namun, yang lebih penting lagi yaitu apakah "naskah Quran Usman" (yang konon
dijadikan naskah final yang disusun oleh Zaid ibnu Thabit pada 646-650 M, dan sumber
bagi Quran kita sekarang) bisa dimasukkan dalam skenario ini ? Tentu saja akan
dianggap relevan, sebab, seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya, menurut tradisi
semua naskah Quran dan salinan lain dibakar oleh Khalifah Usman segera setelah
empat salinan itu dibuat. Dimana salinan ini hari ini? Segmen naskah paling awal dari Al
Qur'an yang kita miliki tidak lebih awal dari tahun 690-750 M! (Schimmel 1984:4)
Apakah mereka yang memegang asumsi ini bersedia mengakui bahwa keempat salinan
juga dibuang sebab mereka tidak lagi relevan bagi Islam yang baru pada jaman itu?
Lebih jauh lagi, banyaknya jumlah hadis yang tiba-tiba muncul pada abad
kesembilan menciptakan banyak skeptisisme. Telah diklaim bahwa pada pertengahan
abad ke-sembilan ada lebih dari 600.000 hadis, atau cerita-cerita awal tentang
kehidupan nabi ! Bahkan tradisi mengatakan bahwa begitu banyak hadis sehingga
Khalifah yang berkuasa minta Al Bukhari, sarjana terkenal, untuk mengumpulkan
perkataan yang benar dari 600.000 hadis itu. Jelas, bahkan saat itu ada keraguan
mengenai kebenaran bagi begitu banyaknya hadis.
Bukhari tidak pernah menyebutkan kriteria yang ia pakai, kecuali pernyataan samar-
samar "tidak dapat diandalkan" atau "tidak sesuai" (Humphreys 1991:73). Pada
akhirnya, ia menetapkan hanya 7.397 hadis, atau kira-kira hanya 1,2%, yang bisa
dipercayai! Namun lewat seleksi berikutnya jumlahnya menjadi 2762 hadis sahih dari
600.000 (AKC 1993:12). Apakah ini berarti bahwa dari 600.000 hadis itu ada 592.603
yang palsu dan harus dibuang. Jadi hampir 99% dari hadits ini dianggap palsu.
Benar-benar mengerikan !
Ironisnya skenario macam inilah yang menciptakan keraguan tentang keaslian dari
setiap hadis. Dari mana 600.000 hadis awal ini berasal jika demikian banyak dianggap
palsu? Apakah salah satu dari hadis yang palsu itu lolos diturunkan kepada kita
sekarang? Apakah kita memiliki bukti keberadaan mereka sebelum waktu itu? Tidak ada
sama sekali!
17
Fakta bahwa mereka tiba-tiba muncul pada periode ini (pada abad kesembilan, atau
250 tahun setelah peristiwa dirujuk terjadi) dan tiba-tiba ditolak, tampaknya menunjukkan
bahwa hadis-hadis ini diciptakan atau diadopsi pada saat ini, dan bukan pada tanggal











