Filosofi 1


 Filsuf di Medan Perang

Di sebuah perbatasan utara kekaisaran Romawi bernama Germania, pagi 

masih sangat gelap. Utusan tentara Romawi yang dikirim bernegosiasi 

dengan kaum Barbar pulang tanpa kepala. Kudanya kembali membawa 

utusan malang yang tinggal jasadnya. Jenderal Maximus (diperankan oleh 

Russell Crowe) tidak melihat jalan lain kecuali menyiapkan ribuan legiun 

Romawinya untuk pertempuran tak terelakkan dengan kaum Barbar.

Anak panah dan busurnya disiapkan, ketapel raksasa diisi bola api. Para 

prajurit infanteri merapatkan tameng, mengenggam erat tombak dan 

menghunus pedang pendek dari sarungnya. Usai memberi instruksi pada 

pasukan infanteri, Maximus naik kuda, bergerak memutar memimpin 

pasukan kavaleri untuk menyergap kaum Barbar dari belakang. Begitu aba-

aba “serang” dikumandangkan, ribuan anak panah, ratusan bola api 

menyembur kaum Barbaryang memekik maju menyerang pasukan Romawi. 

Dua bala tentara bertempur dalam gelapnya pagi buta, saling memotong, 

mengayunkan pedang, kapak, dan apa pun yang bisa membuat lawannya 

terjungkal mati. Maximus dengan ratusan pasukan kudanya menembus 

gelapnya hutan, menyerang kaum Barbar dari belakang. Taktik Supit Urang 

(jepitan udang) membuat kaum Barbar kacau dan habis dibantai legiun 

Romawi di perbatasan utara Imperium Romawi, di daerah Austria sekarang 

xvii 

ini.

Dari kejauhan, di atas sebuah bukit kecil, duduk tenang di kudanya, 

dikelilingi pasukan Pretoria (penjaga Kaisar), Marcus Aurelius 

memperhatikan semuanya. Dialah yang memutuskan mengirim utusan untuk

mencoba negosiasi dengan kaum

Barbar. Sampai saat terakhir ia mengharapkan perdamaian dengan mereka. 

Namun, perang tak terelakkan, la hanya bisa menjalankan tugasnya sebagai 

Kaisar: memerintahkan Maximus melakukan apa yang terbaik untuk Roma.

Pada saat fajar merekah, dengan lega ia menyaksikan keberhasilan jenderalnya, 

Maximus, mengalahkan kaum barbar di Germania. Namun, bukannya senang, ia 

malah bertanya kepada Maximus tentang perlu tidaknya peperangan tadi 

dilakukan: “Saat orang merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat, ia mulai 

bertanya-tanya apakah hidupnya memiliki tujuan... Apakah aku akan dikenang 

sebagai filsuf, prajurit, atau tiran?'"

Film berjudul Gladiatoryang disutradari Ridley Scott, tahun 2000, pada 15 menit 

pertamanya menggambarkan Kaisar Romawi bernama Marcus Aurelius (yang 

diperankan oleh Richard Harris). Kaisar pemimpin pertempuran di Germania ini 

adalah seorang filsuf, la dikenal sebagai salah satu tokoh pengusung filsafat Stoa 

(yang dalam artikel  ini diterjemahkan sebagai ]. Bukannya berhura-

hura menikmati kemenangan, Marcus Aurelius malah melakukan permenungan 

diri: apakah tindakanku tepat, apakah peperangan dengan korban demikian 

banyak memang perlu dilakukan? Di film ini digambarkan bahwa pada malam hari,

Kaisar yang bijak ini tekun mencatatkan permenungan-permenungan pribadinya di

tenda peperangan.

Seorang filsuf menjadi kaisar dan memimpin peperangan? Bukankah filsafat ilmu 

yang menjemukan, susah, rumit, dan cenderung tanpa faedah? Masak sih 

seorang filsuf sampai difilmkan oleh Hollywood? Tontonlah film Gladiator. Untuk 

saya sendiri, film itu tak terlupakan.

Marcus Aurelius adalah filsuf, dan ia menulis artikel  yang sampai sekarang ini—

1.800 tahun setelah kematiannya—masih dibaca dan direnungkan banyak orang. 

Judul artikel nya, paling tidak demikian yang selama ini dipercaya orang, adalah Eis 

Heauton, For Himself, kadang diterjemahkan sebagai Meditations.

Marcus Aurelius hidup di abad kedua Masehi. Mengikuti filsafat Stoa, ia sibuk 

beraktivitas sebagai pemimpin politik dan peperangan. Bagaimana mungkin 

filsafat yang biasanya


Di sebuah perbatasan utara kekaisaran Romawi bernama Germania, pagi

masih  sangat  gelap.  Utusan  tentara  Romawi  yang  dikirim  bernegosiasi

dengan kaum  Barbar  pulang tanpa kepala.  Kudanya kembali  membawa

utusan malang yang tinggal jasadnya. Jenderal Maximus (diperankan oleh

Russell Crowe)  tidak melihat jalan lain kecuali menyiapkan ribuan legiun

Romawinya untuk pertempuran tak terelakkan dengan kaum Barbar.

Anak panah dan busurnya disiapkan, ketapel raksasa diisi bola api. Para

prajurit  infanteri  merapatkan  tameng,  mengenggam  erat  tombak  dan

menghunus pedang pendek dari sarungnya. Usai memberi instruksi pada

pasukan  infanteri,  Maximus  naik  kuda,  bergerak  memutar  memimpin

pasukan  kavaleri  untuk  menyergap  kaum  Barbar  dari  belakang.  Begitu

aba-aba “serang” dikumandangkan, ribuan anak panah, ratusan bola api

menyembur  kaum  Barbaryang  memekik  maju  menyerang  pasukan

Romawi.  Dua bala  tentara bertempur  dalam gelapnya pagi  buta,  saling

memotong,  mengayunkan  pedang,  kapak,  dan  apa  pun  yang  bisa

membuat  lawannya  terjungkal  mati.  Maximus  dengan  ratusan  pasukan

kudanya  menembus  gelapnya  hutan,  menyerang  kaum  Barbar  dari

belakang. Taktik Supit Urang (jepitan udang) membuat kaum Barbar kacau

dan habis dibantai legiun Romawi di perbatasan utara Imperium Romawi,

di daerah Austria sekarang ini.

Dari kejauhan, di atas sebuah bukit kecil, duduk tenang di kudanya, 

dikelilingi pasukan Pretoria (penjaga Kaisar), Marcus Aurelius 

memperhatikan semuanya. Dialah yang memutuskan mengirim utusan 

untuk mencoba negosiasi dengan kaum

Barbar. Sampai saat terakhir ia mengharapkan perdamaian dengan mereka. 

Namun, perang tak terelakkan, la hanya bisa menjalankan tugasnya sebagai 

Kaisar: memerintahkan Maximus melakukan apa yang terbaik untuk Roma.

Pada saat fajar merekah, dengan lega ia menyaksikan keberhasilan jenderalnya, 

Maximus, mengalahkan kaum barbar di Germania. Namun, bukannya senang, ia 

malah bertanya kepada Maximus tentang perlu tidaknya peperangan tadi 

dilakukan: “Saat orang merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat, ia mulai 

bertanya-tanya apakah hidupnya memiliki tujuan... Apakah aku akan dikenang 

sebagai filsuf, prajurit, atau tiran?'"

Film berjudul Gladiatoryang disutradari Ridley Scott, tahun 2000, pada 15 menit 

xvii 

pertamanya menggambarkan Kaisar Romawi bernama Marcus Aurelius (yang 

diperankan oleh Richard Harris). Kaisar pemimpin pertempuran di Germania ini 

adalah seorang filsuf, la dikenal sebagai salah satu tokoh pengusung filsafat Stoa 

(yang dalam artikel  ini diterjemahkan sebagai ]. Bukannya berhura-

hura menikmati kemenangan, Marcus Aurelius malah melakukan permenungan 

diri: apakah tindakanku tepat, apakah peperangan dengan korban demikian 

banyak memang perlu dilakukan? Di film ini digambarkan bahwa pada malam hari,

Kaisar yang bijak ini tekun mencatatkan permenungan-permenungan pribadinya di

tenda peperangan.

Seorang filsuf menjadi kaisar dan memimpin peperangan? Bukankah filsafat ilmu 

yang menjemukan, susah, rumit, dan cenderung tanpa faedah? Masak sih 

seorang filsuf sampai difilmkan oleh Hollywood? Tontonlah film Gladiator. Untuk 

saya sendiri, film itu tak terlupakan.

Marcus Aurelius adalah filsuf, dan ia menulis artikel  yang sampai sekarang ini—

1.800 tahun setelah kematiannya—masih dibaca dan direnungkan banyak orang. 

Judul artikel nya, paling tidak demikian yang selama ini dipercaya orang, adalah Eis 

Heauton, For Himself, kadang diterjemahkan sebagai Meditations.

Marcus Aurelius hidup di abad kedua Masehi. Mengikuti filsafat Stoa, ia sibuk 

beraktivitas sebagai pemimpin politik dan peperangan. Bagaimana mungkin 

filsafat yang biasanya 


dianggap membuat orang lari dari dunia justru dipraktikkan di tengah kancah 

politik dan peperangan? Marcus Aurelius justru membutuhkan filsafat untuk 

melindungi kedamaian jiwanya.

Lewat latihan konkret dan menuliskan setiap hari refleksi atas 

pengalamannya, Marcus Aurelius membangun jiwanya seperti benteng 

yang kokoh. Mengikuti Epiktetos (seorang budak Romawi), ia selalu 

berlatih memilah "apa yang tergantung padaku dan apa yang tak 

tergantung padaku” supaya terhindarkan dari penyakit jiwa (yaitu emosi-

emosi negatif). Selain itu, Marcus Aurelius mempraktikkan kategori sulit 

dalam filsafat Stoa, yaitu, kathekonta (kewajiban-kewajiban sosial yang 

sebenarnya "tidak wajib” tapi toh “selayaknya" dilakukan).

Filsafat Stoa Relevan?

Apa buktinya bahwa filsafat Stoa relevan? Apakah generasi milenial yang 

hidup dengan gadget dan media sosial masih perlu membaca filsafat? 

Untuk kita di zaman now, ajaran yang asal-usulnya sudah ribuan tahun 

bukankah sudah zadul?

Pertama-tama, kita jangan berasumsi buruk dulu pada filsafat. Bisa jadi 

kita memang belum pernah membaca filsafat? Bisa jadi kita salah belajar 

filsafat, atau salah mendapatkan guru filsafat, sehingga bukannya senang 

pada filsafat, kita malah jadi benci dan alergi pada filsafat. Filsafat Stoa 

berbeda, ia adalah sebuah way of life, jalan hidup. Bukankah kita sudah 

punya agama? Lha, apa salahnya beragama sambil mempelajari filsafat 

supaya agama kita makin mantap?

Bagi para ahli filsafat Yunani dan Hellenistik, ajaran Platonisme, 

Aristotelisme, Sinisme, Epikurisme, dan filsafat Stoa sering disebut 

sebagai aliran-aliran yang mengajarkan jalan hidup. Mereka memang 

aliran filsafat, namun  bukan dalam arti cara berpikir ruwet dan menjelimet 

serta tidak relevan dengan hidup sehari-hari. Way of life ini yang 

membantu Kaisar Marcus Aurelius menjalankan tugas-tugasnya sebagai 

penguasa dengan baik, la dikenang sebagai “Kaisar Baik” terakhir di 

Imperium Romawi, la sangat memperhatikan warganya, hidupnya jauh dari

hedonisme, dan dikenal sebagai penguasa yang adil dan penuh belas 

kasihan.

Kedua, sebab  jalan hidup, maka orang dari zaman kapan pun bisa membaca 

untuk berkaca, dan siapa tahu, terinspirasi darinya. Ada kisah menarik tentang 

James Stockdale, pilot pesawat tempur Angkatan Laut Amerika Serikat. Sebelum 

perang Vietnam, ia masuk ke kampus lagi di Stanford University untuk belajar. 

Dosen filsafatnya menganjurkan agar ia mempelajari Epiktetos (salah satu filsuf 

Stoa yang suka menggambarkan filsuf mirip seorang tentara).

James Stockdale sangat terkesan dengan pemikiran Epiktetos. Hal-hal pokok 

yang ia ingat-ingat terus dari filsafat Stoa adalah: a) pembedaan antara apa yang 

up to us (tergantung pada kita) dan not up to us (tidak tergantung pada kita); b) 

soal baik atau buruk itu tergantung dari cara jiwa kita menafsirkannya; c) segala 

situasi hidup yang menimpa kita bersifat indifferent (netral saja).

Saat Perang Vietnam pecah, ia ditugaskan bertempur di sana. Pesawatnya 

tertembak jatuh, dan ia menjadi tahanan di Hanoi, Vietnam selama tujuh tahun! la 

sering ditaruh di sel bawah tanah, disiksa, dipukuli, dan tiap hari mengalami 

penistaan lahir dan batin. James Stockdale mengatakan bahwa berkat Epiktetos ia

mampu bertahan waras, meski mengalami tekanan psikologis dan siksaan fisik 

selama tujuh tahun. Kisah POW {prisoner of war] James Stockdale menginspirasi 

orang lain. Seorang pengusaha besar yang kehilangan kesehatan, kekayaan, dan 

istrinya akhirnya menemukan hidupnya kembali berkat filsafat Stoa (bdk. roman 

yang ditulis oleh Tom Wolfe, A Man in Full, 1998).

Lalu di tahun 1990-an, di Amerika Serikat berkembang sebuah metode psikologi 

yang populer bernama “terapi kognitif". Katanya, ajaran ini mendapatkan inspirasi 

dari Buddha dan Epiktetos2. Inti terapi kognitif menyatakan bahwa segala emosi 

yang mengganggu kita sebenarnya berasal dari cara penilaian yang salah. Cara 

berpikir tertentu menjadi penyebab munculnya simtom-simtom yang mengganggu. 

Cara pandang kita yang keliru atas kejadian dalam hidup menyebabkan kita stres, 

gelisah, depresi atau marah-marah tanpa alasan yang jelas.

Bahagia Apatheia

Mengapa membicarakan Marcus Aurelius yang berperang? Atau, James 

Stockdale yang menjadi tawanan perang? Apa pula gunanya 

membicarakan soal stres dan depresi dalam terapi kognitif?

Lho, justru sebab  hidup kita ini setiap hari perang! Kita keluar rumah jam 

05.15 sudah harus berperang menghadapi macet di jalanan di Jakarta. Kita

harus cepat-cepat ke tempat kerjaan, berebut jalan dengan kendaraan lain,

kadang emosi menjadi tinggi. Setelah dua jam menembus kemacetan, di 

kantor pun segala persoalan siap membuat stres dan tekanan darah kita 

naik. Belum lagi berita di teve, radio, atau media sosial yang menemani 

nyaris 24 jam. Isinya cuma perang saja: perang mulut para politisi, beda 

opini kaum intelektual, siasat dagang iklan-iklan yang membombardir, dan 

segala keributan lainnya.

Bagaimana bisa damai di tengah suasana seperti itu? Bisakah berbahagia 

dalam hidup yang dari pagi berangkat kerja sampai malam pulang kerja 

selalu dipenuhi konflik dan ketegangan tanpa henti?

Filsafat Stoa mengusung kebahagiaan yang tidak lazim.

Mereka mengatakannya sebagai ataraxia, sebuah kata Yunani yang 

akarnya dari ataraktos (a = not, dan tarassein = to trouble]. Ataraxia 

dengan demikian berarti not troubled [untroubled, undisturbed]. 

Kebahagiaan—yang kita bayangkan sebagai jiwa yang tenang dan damai

—digambarkan oleh kaum Stoa sebagai situasi negative, yaitu "tiadanya 

gangguan". 

Dalam istilah lain, kadang juga dikatakan sebagai apatheia, kata Yunani 

yang artinya a=not dan pathos=suffering, sehingga apatheia adalah situasi 

di mana kita free from emotions, free form sufferings, freedom from all 

passions. Sama dengan sebelumnya, kebahagiaan bagi kaum Stoa 

bersifat "negatif logis”, yaitu tiadanya penderitaan, tiadanya emosi, saat 

kita tidak diganggu oleh nafsu-nafsu (seperti amarah, kecewa, rasa pahit, 

dan rasa iri hati).

Bagaimana caranya mencapai kebahagiaan seperti itu? Kalau kita ingat 

betapa kita mudah stres, marah di jalanan; kalau kita timbang bagaimana 

Facebook, grup WA, dan berita di media

sosial memicu emosi; bagaimana caranya agar bisa terlepas dari gangguan-

gangguan itu? Mengapa itu semua disebut gangguan? Kalau kita banyak marah-

marah dan gampang emosi, bukan hanya tetangga dan orang serumah yang 

terganggu. Kesehatan kita pun lama-lama bermasalah.

artikel   karya  hadir untuk memberikan kepada 

Anda jalan menuju ketenangan jiwa. Penulis artikel  ini telah mengalami sendiri stres

dan kesulitan- kesulitan dalam hidupnya sebab  banyak marah-marah seperti di 

atas. Meski bukan alumnus Fakultas Ilmu Filsafat, penulis artikel  berhasil membuat 

artikel  menarik tentang filsafat Stoa. Ini luar biasa. Filsafat sebagai praktik hidup ia 

jalani dan jalankan betul-betul.  menjadikan dirinya sendiri 

kelinci percobaan.

Karya yang berada di tangan Anda sekarang ini adalah sebuah way of life yang 

sudah dicoba dihayati oleh  sendiri. Bila Anda hendak 

mencoba menerapkan filsafat Stoa bagi diri Anda sendiri, percayalah, Marcus 

Aurelius, James Stockdale, dan si penulis artikel  ini juga telah memetik hasil-hasil 

yang konkret.

Latihan Mengatasi Emosi3

Setiap manusia mencari kebahagiaan, hidup yang tenang. Filsafat bagi kaum Stoa

bukanlah untuk sekadar mengisi waktu atau menumpuk ide untuk bergaya di 

depan kaum awam. Filsafat adalah praktik dan latihan [askesis], sebuah seni 

hidup. Epiktetos dalam Enchiridion 46 mengingatkan, "Never call yourself a 

philosopher, nor talk a great deal among the unlearned about theorems, but act 

conformably to them". Jangan suka menyebut diri Anda sendiri sebagai filsuf, 

jangan banyak berbicara di depan orang awam tentang teori-teori filsafat. Tidak 

penting itu semua, sebab  yang pokok adalah bagaimana Anda hidup sesuai apa 

yang Anda pelajari.

Di mata Stoa, bahagia itu sederhananya adalah manakala kita 

terbebaskan dari emosi atau segala rasa perasaan yang menganggu. 

Orang Yunani menyebutnya pathos (dari kata kerja paskhein, artinya 

mengenai atau menderita sesuatu). Pathos dalam bahasa Inggris menjadi 

passion (nafsu). Dalam pemikiran Stoa, pathos atau passion terjemahan 

mudahnya adalah emosi negatif (emosi yang buruk). Apa yang disebut 

emosi negatif [passion] berbeda dengan hasrat [desire, Yunaninya orexis] 

yang oleh kaum Stoa dianggap sebagai alamiah dan netral belaka. Hasrat 

adalah impuls/dorongan meraih tertentu, dan hasrat selalu mengandungi di

dalamnya aktivitas representasi terhadap objek yang dihasrati, di mana 

representasi ini  mau tak mau sudah memuat persetujuan rasio 

terhadap value judgement dalam representasi itu sendiri. Bila hasrat akan 

sesuatu tidak terpenuhi (misalnya hasrat akan gawai terhambat) atau bila 

kita menghasrati sesuatu yang tidak masuk akal (misalnya berhasrat tidak 

mati), maka kita jatuh dalam emosi negatif. Bagi kaum Stoa, emosi negatif 

didefinisikan sebagai hasrat yang eksesif, misalnya saat menghendaki 

sesuatu yang jelas-jelas tidak masuk akal (menghasrati supaya tidak tua).

Lewat latihan-latihan konkret, filsafat Stoa hendak menolong kita bebas 

dari hasrat eksesif. Lalu, jelas dengan sendirinya bahwa hasrat dalam 

dirinya sendiri tidak dibuang. Kadang memang ada pernyataan-pernyataan

Epiktetos yang seolah- olah kita harus “memotong semua hasrat”! 

Ungkapan ini dikenakan terutama saat  orang baru memulai latihan 

[askesis]. Namun, pada tahap yang lebih lanjut, orang bijak tetap hidup 

dengan hasratnya, namun  hasrat yang lurus dan selaras dengan logos 

universal.

Dalam pergaulan sehari-hari, kita tentu memiliki pengalaman yang tidak 

enak manakala hidup diisi oleh rasa marah. Selalu empet sama orang 

tertentu, sehingga mendengar namanya saja kita sudah misuh-misuh 

kehilangan kendali diri. Marah muncul entah sebab  iri hati (mengapa 

orang lain lebih baik dari saya) entah sebab  dari rasa sesal dan pahit 

[sebab pernah merasa dijahati, difitnah, atau dikejami oleh orang yang 

bersangkutan). Hidup juga menjadi sepet menjengkelkan kalau diisi oleh 

paranoia (selalu melihat ancaman dan kejahatan sedang berkonspirasi 

melawan diri kita). Orang menjadi paranoid 

sebab  dihantui oleh ketakutan di masa depan, oleh bayangan- bayangan 

fantasinya sendiri bahwa orang-orang dan takdir sedang berusaha 

menjatuhkannya.

Sebaliknya, jangan dikira bahwa kelekatan pada kesenangan serba nikmat 

membawa bahagia. Tidak! Orang yang selalu mencari senang-senang dalam 

hidupnya adalah orang yang merana manakala terlalu banyak waktu luang. Kapan 

bisa happy- happy lagi? Kapan makan enak lagi? Kapan jalan-jalan lagi?

Bagaimana caranya supaya bisa bahagia, terhindar dari rasa campur aduk yang 

memporakporandakan batin? Bagaimana bisa tenang, terbebaskan dari rasa 

perasaan negatif? Filsafat Stoa mengajarkan untuk mencermati empat jenis emosi 

negatif yang menjauhkan kita dari kebahagiaan (ketenangan batin) yaitu: iri hati, 

takut, rasa sesal atau pahit, dan kesenangan (kenikmatan).

Insight tajam kaum Stoa memberi tahu kita bahwa emosi negatif bukanlah 

"perasaan liar”, bukan pula "hal irasional" yang tak bisa dijelaskan asal-usulnya. 

Emosi adalah bagian dari rasio. Emosi negatif adalah opini yang mengatakan 

bahwa sesuatu itu buruk (sehingga muncul rasa sesal dan rasa takut) atau opini 

yang mengatakan bahwa sesuatu itu baik (sehingga ada rasa senang dan rasa 

mengingininya). Bila opininya berkenaan dengan masa kini yang muncul adalah 

rasa senang dan rasa sesal, sedangkan bila berkaitan dengan masa depan yang 

keluar adalah rasa iri dan takut. Berbagai jenis rasa-merasa yang meruyak dalam 

hati kita, seperti rasa marah, empet, sepet, paranoid adalah jenis-jenis emosi yang 

bisa dengan mudah dimasukkan ke dalam salah satu jenis emosi negatif tadi. 

Dengan mendefinisikan emosi negatif sebagai opini, sebagai aktivitas rasio, maka 

kaum Stoa memberi kita kunci untuk mengendalikan emosi negatif.

Bagi Stoa di dalam rasio kita ditemukan yang namanya hasrat, kehendak, 

keinginan, nafsu, sekaligus cara berpikir. Dengan menyatakan bahwa semuanya 

ada di dalam rasio yang sama, maka emosi-emosi negatif bukanlah sesuatu yang 

irasional! Sejauh emosi muncul dari rasio, maka emosi adalah sebuah rasionalitas 

juga, namun  rasionalitas yang melenceng. Emosi negatif bagi kaum Stoa adalah 

hasil rasio yang salah menilai, yang keliru. Dengan mendefinisikan emosi negatif 

[pathos] sebagai sesuatu yang juga rasional, apa yang biasa disebut "perasaan 

liar" bisa dipahami dan dipilah untuk akhirnya dilatih supaya menjadi emosi yang 

baik [euphateia].

Kunci  kebahagiaan  bagi  Stoa  adalah  manakala  kita  terhindarkan  dari

nafsu-nafsu  gak jelas,  kecanduan atau  addicted pada sesuatu,  angkara

murka,  kehilangan kendali,  dendam kesumat,  kecemasan yang obsesif,

rasa kesal berlebih-lebihan yang bisa dirangkum dalam empat jenis emosi

negatif: iri hati, takut, rasa sesal atau pahit, dan rasa senang- nikmat.

Selaras dengan Rasio (Alam)

Kaum Stoa mengandalkan distingsi  pokok antara "apa yang tergantung

padaku"  (yaitu  jiwaku  atau  rasioku)  dan  "apa  yang  tidak  tergantung

padaku” (yaitu tubuhku, lahir dan matiku, statusku, karierku, hartaku, siapa

gubernur  dan  presidenku).  Setia  dengan  tradisi  Sokrates,  kaum  Stoa

menempatkan kebahagiaan dalam ketenangan batin [peace of mind], dan

bukan  dalam  hal-hal  eksternal.  Rasa  bahagia  tidak  sama  dengan

kenikmatan (kesenangan) uang, makan, minum, seks, atau posisi jabatan

tinggi  serta  kekuasaan.  Ketenangan  batin  di  atas  bisa  dicapai  lewat

askesis [exercise, latihan).

Kebahagiaan khas Stoa diupayakan lewat latihan sehari-hari.  Teori-teori

Stoa  tentang  pembedaan  apa  yang  tergantung  padaku  dan  tidak

tergantung padaku,  atau teori  tentang  korporalitas segala  sesuatu,  atau

kecanggihan pelurusan bahasa, tidak akan berguna bila tidak dilatihkan.

Askesis  [exercise] tujuannya  adalah  untuk  membebaskan  jiwa  dari

"penyakit  jiwa"  (yaitu  emosi  negatif:  sebuah  error  of  reasoning,  sebuah

false belief produk dari faulty judgement].

Kebahagiaan dalam hidup sesuai Rasio Semesta tercapai lewat apatheia,

yaitu  saat   kita  terjauhkan  dari  perverted  reason  (definisi  untuk  emosi

negatif).  Yang perlu dipahami,  apatheia  bukanlah apatis!  Apatheia kaum

Stoa penuh emosi-emosi yang baik seperti  rasa gembira  [joy], waspada

[caution] dan memiliki keteguhan kehendak.

Obat Anti Galau Politik

Menjelang tahun politik 2019, filsafat Stoa menjadi sangat penting. Saat Pilkada 

DKI 2017 kedua kubu saling mencaci maki sedemikian rupa sehingga fakta atau 

intepretasi tidak jelas lagi, hoax bertebaran seperti asap polusi di Jakarta. Gejala 

yang sama sebentar lagi akan membuat banyak orang galau: kubu capres A dan 

kubu capres B akan saling menyebar representasi mereka masing-masing. Fakta 

menjadi tidak penting sebab  yang genting adalah "interpretasi atas fakta” yang 

Anda tebar dengan penuh keyakinan. Pertemanan rusak, silaturahmi putus, mata 

saling menatap curiga, bahkan Tuhan dan agama pun bisa dibawa-bawa sebagai 

representasi.

Berkaca dari Stoa, kita sekarang bisa membedakan bahwa 'yang menakutkan kita 

bukanlah parpol dalam dirinya sendiri, yang menakutkan kita adalah representasi 

orang bahwa parpol itu Tuhan atau Setan. Representasi seperti itulah yang 

mengerikan!”

Parpol di Indonesia mah, kalau kita kembali ke fakta, ya gitu- gitu aja. Jangan 

dibandingkan dengan parpol-parpol di negara maju yang punya ideologi, yang 

anggotanya membayar iuran, yang kerjanya jelas, yang pengkaderannya ciamik. 

Parpol di Indonesia? Udah deh, gak usah galau, Parpol kita mah ya gitu-gitu aja. 

Nah, yang menakutkan adalah manakala ada yang membuat representasi bahwa 

ada "Parpol Tuhan” dan ada "Parpol Setan". Bila memilih yang satu Anda pasti 

masuk surga, bila memilih yang lain Anda gak layak hidup (sebab  percuma Anda 

hidup, wong mati saja pasti masuk neraka kok). Ini menakutkan! Representasi 

seperti ini bisa memecah belah umat beragama, mengoyak kerukunan berbangsa,

dan menghancurkan kedamaian Nusantara. Selain menakutkan, representasi 

seperti itu juga bohong besar! Kenapa? sebab  kita tahu bahwa seandainya 

Parpol Tuhan itu nanti menang, haqul yakin, ntar saat berkuasa ya korupsi juga...

Tuhan sih gak mungkin korupsi. Maka kalau ParpolTuhan nanti korupsi, yang 

korupsi pasti Parpolnyalah. Istilah (representasi) "Parpol Tuhan" tidak ada 

kaitannya dengan Tuhan sama sekali, sebab  Tuhan tidak pernah mendaftar ikut 

Parpol mana pun. Selama istilah itu hanya representasi dari orang yang 

mengatakannya, maka pada orang itulah—dan bukan pada Tuhan—kita mesti 

bertanya, “maksudnya Parpol Tuhan apa?

xvii 

Apa Parpol mewakili Tuhan, atau Parpol itu Tuhan sendiri, atau barangkali 

cuma mengatasnamakan, mengklaim nama Tuhan saja buat Parpol?” 

Kalau dengan akal sehat kita bisa menduga jawabannya yang terakhir, ya 

sudah, kita biasa-biasa aja jugalah. Pun kalau seandainya setelah menang

pemilu Parpol itu korupsi, kita juga tidak kaget. Biasa ajalah, namanya juga

politik ala Indonesia.

Maka, penting bagi kita untuk belajar bersama Stoa, agar dapat 

membedakan mana fakta (parpol kita yang sejauh ini gitu-gitu aja] dan 

representasi (jualan politikus yang kebelet supaya partainya menang 

pemilu). Mengapa? Supaya kita tetap waras, tidak gampang galau 

diombang-ambingkan hoax atau opini orang- orang yang kurang ngopi, 

demi lestarinya persaudaraan dan silaturahmi antar anak bangsa.

Sebagai artikel  populer,  memakai data dari psikiatri, survei, 

hingga wawancara dengan praktisi media sosial, sehingga artikel  ini 

menyentuh hal-halyang sehari-hari dialami generasi milenial sampai 

mereka yang berumur 50-an tahun.

artikel  ini penting, sebab  kita akan memasuki tahun politik, di mana hoaks 

dan fake news akan bertebaran membuat orang emosi, lalu 

berdemonstrasi berjilid-jilid (ingat skenario “November 2016-Maret 2017" 

saat Pilkada DKI). artikel  ini bisa menyumbang banyak supaya kita waras 

menyikapi hoax dan fake news. Jangan gampang baper, jangan gampang 

lebay, jangan gampang terprovokasi oleh persepsi ciptaan media sosial.

Bagaimana caranya? Jadilah seperti Stoa. Kendalikan persepsi dan 

pikiranmu. Itu ada di dalam kendalimu. Lalu bagaimana dengan omongan 

media sosial, komentar orang lain, dan persepsi orang lain? Mereka tidak 

ada di dalam kendalimu, jadi terima dan biarkan saja.

Kaum troll, Saracen, dan army apa pun yang menyelundup di media sosial

akan pusing tujuh keliling kalau orang-orang Indonesia bersikap seperti 

kaum Stoa dan tidak merespon-apalagi mem- forward-berita-berita 

sampah yang memang sengaja dikirim untuk mengeruhkan suasana. 

Cambridge Analytica, perusahaan Rusia, Novel Ghost Fleet, atau siapa 

pun yang bergerak menjadi konsultan politik ngawur-ngawuran, tak akan 

bisa men-Suriah-kan dan membubarkan Indonesia kalau kita memiliki 

"benteng batin" yang kokoh seperti Marcus Aurelius.

Justru sebaliknya, terinspirasi oleh kaum Stoa, kita malah diajak menanggapi 

dengan ramah kaum haters dan pemancing di air keruh ini: ah, mereka hanya 

menjalankan pekerjaan mereka (kan mereka memang dibayar untuk menyebarkan

hoax], atau, hmm... mereka melakukan apa yang mereka pikir baik untuk 

dilakukan, padahal mereka tidak tahu apa itu yang ‘baik’, jadi kasihan saja mereka 

berkeras kepala dalam ketidaktahuan mereka.

Belajar dari Filsafat Stoa, kita justru diajak untuk selalu bersyukur, bersyukur, dan 

bersyukur: bahwa saat ini hidupku oke-oke saja, aku tidak stres akibat hoax dan 

aku tidak down akibat bullying kaum haters- hari ini juga negaraku Indonesia 

masih memberiku rezeki, kebebasan, kenyamanan, dan persaudaraan dengan 

kaum haters yang ignorant; saat ini alam semesta masih memberiku oksigen untuk

hidup, alam semesta juga menyediakan kaum haters bagiku supaya aku bisa 

berlatih menguji kesabaran dan keramahanku.

Saya suka dengan istilah yang dipakai oleh  untuk 

menggambarkan pentingnya latihan dalam filsafat Stoa. "Sama seperti otot harus 

dilatih dengan berulang-ulang mengangkat barbel, maka batin pun bisa diperkokoh

lewat latihan rutin setiap hari lewat STAR [Stop, Think-Assess, Respond]". Setia 

pada filsafat sebagai praktik dan latihan, artikel   ini memberikan cara 

latihan mental supaya kita memiliki syaraf titanium dan tidak gampang KO terkapar

kesamber galau.

artikel   berjudul  ini sangat penting bagi semua 

yang masih ingin berakal sehat dan mencintai sesama serta alam semesta. 

Filsafat Stoa adalah yang pertama mengusung konsep kosmopolis (negara seluas 

kosmos]. Bukan hanya di Nusantara ini kita bersaudara. Kita adalah warga negara 

dunia, semua manusia satu kerabat sebab  berpartisipasi pada logos (rasio) 

semesta yang sama.


Mengapa Saya Menulis artikel  

Ini?

“Kamu menderita Major Depressive Disorder”

Kata-kata Sang Psikiater bagaikan petir di siang bolong. Oke, tidak 

selebay itu sih. Namun, yang pasti jauh lebih mengejutkan dari teriakan 

tukang sate kompleks perumahan di siang hari. “MajorDepressive 

Disorder' adalah istilah keren (dan medis) dari ’‘depresi", dan tentunya 

"depresi" di sini adalah kondisi medis beneran, bukan istilah yang sering 

kali digunakan seenaknya oleh netizen di media sosial ["Depresi banget 

gw, kata abangnya martabak nutella sudah habis!!")

Beberapa bulan sebelum menemui psikiater, saya memang mengalami 

kemurungan yang tidak bisa dijelaskan. Saya diganggu pikiran-pikiran 

mendung yang tidak bisa dijelaskan selalu pemicunya. Bawaannya sedih 

dan negative thinking melulu, walaupun saya masih bisa 

menyembunyikannya di tempat kerja (mungkin sebab  belum terlalu 

parah/severe).

Dari dulu, saya memang dikenal sebagai pribadi yang penuh negative 

thinking. saat  dihadapkan pada sebuah situasi, saya selalu terpikir 


skenario jeleknya dulu. Namun, di pertengahan tahun 2017, pikiran buruk, 

cemas, dan rasa tidak semangat menjalani hidup itu terasa semakin 

menekan. Saya menyadari bahwa kondisi ini sudah menjadi serius saat  

mulai memengaruhi orang-orang terdekat di sekitar saya.

Sejak dulu, orang-orang yang sudah mengenal saya secara dekat sering 

menganjurkan saya untuk hanya berpikir hal-hal yang positif saja, namun  

saya merasa tidak cocok dengan ajakan positive thinking. Entah mengapa 

saya tidak pernah merasa bisa untuk "pokoknya pikirkan yang bagus-

bagus saja". Bagi saya, berat sekali untuk bisa mengubah pikiran negatif 

menjadi pikiran positif semudah menyalakan saklar lampu. Selain itu, 

ajakan "berpikir positif” seperti mengabaikan karakter dasar saya yang 

lumayan overthinking (apa-apa dipikirin), termasuk melihat potensi negatif 

yang bisa terjadi dari rencana apa pun. Yup, I am definitely the life of the 

party.

Sesudah mendapat diagnosis dari psikiater, saya kemudian diberikan terapi obat-

obatan. Dari pengalaman ini, saya jadi lebih menyadari betapa topik kesehatan 

jiwa dan juga terapinya masih mengalami stigma yang sangat merugikan di 

Indonesia. Kesehatan jiwa sering dianggap tabu untuk dibicarakan (sebab  hanya 

identik dengan "gila”. "Bro, gue gak bisa ketemuan besok siang, ada janji sama 

psikiater”. ”HAH, LO GILA YA? GILA KOK SADAR?”). Saya rasa hal ini 

disebabkan gangguan psikis masih sering dianggap berbeda dari gangguan fisik 

seperti encok, pegel linu, dan batuk pilek.

Gangguan psikis sering dianggap berada di ranah "jiwa” atau "roh”, sesuatu yang 

abstrak, tak terlihat, dan kalau ada gangguan artinya hanya "gila” atau "diguna-

guna”. Masih banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa problem psikis juga

bisa berkaitan dengan fungsi organ tubuh dan kimia otak, dan ini menjadikannya 

tidak berbeda dengan saat tenggorokan kita meradang dan sakit sebab  serangan 

bakteri.

Stigma dan salah pengertian tentang kondisi mental pun menimpa terapi dan 

pengobatannya. sebab  kurangnya pemahaman bahwa ada aspek fisik di balik 

kondisi psikis, sering kali yang dianggap "terapi” hanya terbatas pada "curhat”, 

konseling, atau, yang paling parah, disembur air kembang kumuran dukun. Terapi 

obat untuk kondisi kejiwaan sering dipukul rata dianggap sebagai bahaya sebab  

"tidak alami”, atau pasti akan menimbulkan "ketergantungan”. Stigma mengenai 

masalah kesehatan jiwa dan terapinya yang masih menghambat ini sebenarnya 

merugikan banyak orang yang seharusnya bisa mendapatkan manfaat, namun  

harus memilih kena semburan mulut dukun.

Obat-obatan yang saya dapatkan terbukti efektif. Dalam tempo kira-kira dua 

minggu, mood saya jauh membaik. Entah ini efek plasebo atau memang riil, yang 

pasti saya merasakan perubahan nyata. Hal ini juga dirasakan oleh keluarga dan 

orang-orang di sekitar saya.

Sejak itu, saya semakin mengapresiasi ilmu kesehatan jiwa dan menyadari

bahwa masalah kesehatan mental memang bisa dipengaruhi oleh 

gangguan kimia di otak. Artinya, obat-obatan modern bisa membantu. 

Namun, selama perjalanan terapi ini, saya juga tidak sabar untuk bisa 

bebas dari pengobatan. Ibarat sakit kepala dan minum parasetamol, 

tentunya kita tidak ingin terus-terusan mengonsumsi parasetamol.

Dalam artikel "We Need New Ways of Treating Depression” yang ditulis 

oleh Johan Hari, disebutkan bahwa walaupun terapi depresi dengan obat-

obatan memang memberikan hasil yang menggembirakan (37% pasien 

yang menjalani terapi obat melaporkan perbaikan kondisi mental mereka), 

sayangnya kesembuhan ini tidak bertahan lama. Hanya 10% pasien 

depresi penerima obat yang tetap bertahan sembuh dari depresi selama 

satu tahun. Pengobatan memang memberikan pemulihan yang sangat 

dibutuhkan, namun  perlahan-lahan depresi kembali menyerang. Berarti, 

obat-obatan saja tidak cukup. Ada hal lain yang diperlukan untuk bisa 

memelihara kesehatan mental kita dalam jangka panjang.

Dalam artikel ini  juga dikatakan bahwa fokus pada aspek biologi saja

membuat kita memandang depresi atau kecemasan sebagai sebuah 

"malfungsi’’ dari otak atau gen. Namun, para ilmuwan yang meneliti faktor 

sosial dan psikologi di balik depresi cenderung memiliki pendapat yang 

berbeda. Bagaimana jika depresi bukanlah sebuah "kerusakan" 

(malfunction), namun  justru "fungsi" alarm yang memberitahukan ada 

kebutuhan yang tidak terpenuhi? Ibaratnya, alarm kebakaran di gedung 

yang tiba-tiba berbunyi (harusnya) bukanlah sebuah kerusakan, namun  

menjadi alat yang memberi tahu para penghuni gedung bahwa kebakaran 

benar-benar terjadi di gedung ini . Depresi juga harus dilihat sebagai 

upaya tubuh memberi tahu ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam hidup 

kita.

Tanpa disangka-sangka, jalan hidup membawa saya ke sebuah alternatif 

solusi yang membantu saya memperoleh ketenangan yang lebih baik 

pasca-terapi obat. Di tengah masa pengobatan, saya menemukan Filosofi 

Teras (atau Stoisisme, nanti akan saya jelaskan mengapa saya 

terjemahkan menjadi ), sebuah filosofi purba dengan usia 

2.300 tahun (lebih tua dari agama Nasrani dan Islam).

Suatu hari, saat kondisi saya belum pulih dan masih dalam pengobatan, sambil 

menunggu istri yang sedang belanja di supermarket, saya iseng melangkah masuk

ke sebuah toko artikel . Di tumpukan artikel -artikel  terbaru, saya temui artikel  How To 

Be A Stoic karya Massimo Pigliucci. Sebelum membaca artikel  ini , saya 

hanya mengetahui Stoisisme sebagai salah satu cabang filsafat kuno. Itu saja. 

Selain itu, dalam bahasa Inggris, definisi stoic (dengan 's’ kecil) adalah seseorang 

yang tidak tampak memiliki emosi, f/af/datar banget, atau tidak mudah bereaksi 

secara emosi, baik dalam situasi susah maupun senang. Gambarannya seperti ras

Vulcan yang ada di Star Trek mungkin ya, seperti Mr. Spock yang mukanya 

lempeng terus, baik di saat susah ataupun senang (mungkin kamu punya teman 

yang seperti demikian juga!).

Sesudah membaca artikel  Pigliucci, mata saya bagaikan terbuka dan saya seperti 

menemukan sebuah “terapi tanpa obat" yang bisa dipraktikkan seumur hidup. 

 ini sangat membantu saya merasa lebih tenang, damai, dan tidak 

mudah stres dan marah-marah. Efek dari mempelajari Stoisisme ini begitu 

positifnya, bahkan terapi obat oleh Sang Psikiater bisa dihentikan jauh lebih awal 

dari umumnya, sebab  perbaikan sikap dan mental saya yang signifikan.

Saya percaya banyak orang di luar sana yang hidup dengan kekhawatiran. 

Mungkin tidak sampai depresi klinis, namun  tetap saja kecemasan dan 

kekhawatiran sehari-hari cukup merugikan. Stoisisme bisa menjadi alternatif untuk 

membantu hidup yang lebih baik. Dalam bahasa Yunani, para filsuf Stoa menyebut

tujuan dari filosofi Stoisisme sebagai "eudaimonia" atau "hidup yang berkembang 

[flourishing)".

Sayangnya, belum banyak artikel  mengenai filosofi ini di dalam Bahasa Indonesia—

atau bahkan artikel  filsafat secara umum— mungkin sebab  kata “filsafat" punya 

banyak konotasi negatif, seperti topik yang sulit dan bikin rambut beruban, atau 

topik yang dianggap tidak ada relevansinya dengan kehidupan sehari-hari. Saya 

berharap artikel  ini bisa menjadi trigger atau pemicu untuk menumbuhkan minat—

baik bagi para pembaca, penerjemah, dan penulis artikel —akan artikel -artikel  dengan 

tema serupa.

artikel  ini juga berisikan wawancara dengan pakar dan praktisi dari 

berbagai bidang yang relevan, seperti Dr. Andri, SpKJ, FAPM., seorang 

psikiater dengan spesialiasi Psychosomatic Medicine; Agstried Piethers, 

seorang psikolog pendidikan; Wiwit Puspitasari seorang psikolog klinis; 

Llia Halimatussadiah, seorang pengusaha dan penulis; dan Citta Cania 

Irlanie, seorang aktivis dan editor. Saya tertarik melihat keterkaitan Filosofi 

Teras ini dengan disiplin ilmu psikologi dan psikiatri, dan juga praktik 

langsung di kehidupan sehari-hari. Ada banyak hal menarik yang saya 

pelajari dari diskusi dengan para narasumber ini.

Menggunakan analogi yang kekinian, saya menemukan  ini 

bagaikan OS (Operating System) dari keseharian kita, seperti OS Android 

di smartphone berbasis Android, atau iOS di iPhone. OS di smartphone 

memastikan bahwa penggunaan dan aplikasi [apps) sehari-hari dari 

smartphone kita berjalan lancar. Aplikasi tercanggih dan terseru pun akan 

macet jika tidak didukung OS yang baik. Demikian dengan keseharian kita.

Kita memiliki banyak "aplikasi” dalam keseharian kita, pergi sekolah/kuliah,

pekerjaan kita, pacaran/pernikahan kita, hubungan kita dengan orang-tua, 

ambisi dan mimpi kita, hobi kita, dan lain-lain. "Aplikasi-aplikasi” ini 

membutuhkan OS yang baik agar bisa berfungsi optimal. Saya 

menemukan  sebagai sebuah OS yang bisa membantu 

tujuan ini .

Akhir kata, saya menulis artikel  ini untuk berbagi pengalaman saya 

menemukan  yang sangat membantu memperoleh hidup 

yang lebih tenang. Saya berharap artikel  ini bisa membantu para pembaca 

yang mungkin sedang dilanda kecemasan dan kekhawatiran. artikel  Filosofi

Teras rasanya memang cocok untuk mereka yang sering atau sedang 

merasa khawatir akan hidup, atau sering resah dan kecewa dalam 

kehidupan sehari-hari.

 tidak menjanjikan rahasia untuk menghilangkan kesulitan 

dan tantangan hidup, namun  justru menawarkan cara- cara untuk 

mengembangkan sikap mental yang lebih tangguh agar bisa tetap tenang 

menghadapi terpaan hidup apa pun. Bagi pembaca lainnya, semoga artikel  

kecil ini minimal dapat menambah pengetahuanmu akan adanya sebuah 

pemikiran antik yang sudah berusia 2.000 tahun lebih, dan masih relevan 

dengan kehidupan kita sekarang.


i  bulan  November  2017,  saat  saya sedang mempelajari  Filosofi  Teras,

saya terpikir  untuk mencari  tahu apakah orang-orang lain juga merasa

khawatir  mengenai  hidupnya  melalui  riset  (baca:  kepo  ilmiah).  Saya

kemudian membuat Survei Khawatir Nasional secara online.

D

Survei  Khawatir  Nasional  dilakukan  selama  seminggu  dengan  rentang  waktu

tanggal 11-18 November 2017, jumlah responden sebanyak 3.634 responden, dan

komposisi responden 70% perempuan. Sebagai catatan metodologi, sebab  survei

ini  dilakukan secara  online dan  disebarkan secara  organik  (sukarela)  di  media

sosial, maka hasilnya tidak bisa dianggap mewakili keseluruhan populasi, sebab 

pemilihan sampel tidak acak Irandom). Dalam bahasa awam, hasil dari survei ini

hanya mewakili  responden survei  ini  saja  dan tidak  bisa serta  merta  dianggap

mewakili populasi umum.

Survei  ini  menanyakan  tingkat  kekhawatiran  responden  terhadap  kehidupan

secara umum dan beberapa aspek hidup yang umum bagi generasi milenial, yaitu

mereka  yang  dilahirkan  antara  tahun  1980-2000.  Ini  artinya,  di  tahun  2018,

penduduk milenial tertua berusia 38 tahun (sudah ada yang menikah dan menjadi

orang tua), dan termuda berusia 18 tahun (usia mulai kuliah/bekerja). sebab nya,

Survei Khawatir Nasional ini juga menanyakan tingkat kekhawatiran di beberapa

aspek  hidup  yang  dirasa  relevan,  yaitu  sekolah/studi,  relationship,

pekerjaan/bisnis,  sampai  topik  yang  lebih  besar  seperti  kondisi  sosial  politik  di

Indonesia.

Pertanyaan mengenai rasa khawatir selalu menggunakan skala 4-poin, yaitu 

sangat tidak khawatir, tidak khawatir, sedikit khawatir, sangat khawatir. Skala ganjil

dihindari untuk menghindari kebiasaan banyak orang memilih "tengah-tengah 

saja".

Bagaimana hasilnya?

a. saat  ditanyakan mengenai tingkat kekhawatiran tentang hidup secara 

keseluruhan saat ini, hasilnya adalah 63% (hampir dua dari tiga responden) 

mengaku merasa “lumayan khawatir/sangat khawatir” tentang hidup secara 

umum.

3

b. Dari responden yang masih bersekolah/kuliah, separuhnya (53%) 

merasa khawatir dengan pendidikan mereka. Tiga penyebab 

kekhawatiran tertinggi adalah tugas/paper yang tidak lancar, hilangnya

motivasi belajar, dan nilai jelek/tidak lulus. “Biaya” ada di urutan 

keempat, dipilih oleh seperempat dari mereka yang khawatir 

mengenai pendidikan mereka.

c. Untuk responden yang berada di dalam relationship 

(pacaran/menikah), mereka yang mengaku "agak khawatir” dan 

"sangat khawatir” mengenai hubungan mereka ternyata minoritas 

dengan persentase 30%. Ini artinya, mereka yang tidak khawatir 

mengenai relationship (pacaran/pernikahan) lebih banyak dari yang 

merasa khawatir.

d. Bagi mereka yang merasa khawatir soal relationship mereka, tiga 

kekhawatiran utama adalah:

/. Relationship mau dibawa ke manaa? [Udah kayak lagu aja).

ii. Relationship yang terasa sudah hambar.

iii. Pasangan selingkuh, sangat dekat dengan pilihan keempat, yaitu 

"hubungan tidak direstui orang tua”.

e. Bagaimana dengan responden jomblo? Apakah yang jomblo merasa

lebih  khawatir  soal  status  jomblo  mereka?  Ternyata  hasilnya

TIDAK. Tingkat kekhawatiran jomblo mengenai

ke-jomblo-an mereka ternyata sama dengan kekhawatiran mereka 

yang sudah berpasangan mengenai hubungan mereka, yaitu sekitar 

30% dari responden. Jadi, dari hasil survei ini saja bisa terlihat kalau 

memiliki pasangan tidak membuat kekhawatiran kamu lebih berkurang

dibandingkan dengan saat kamu jomblo. Good news dong bagi kaum 

tuna- asmara atau jomblo!

f. Di antara mereka yang mengaku agak/sangat khawatir soal status 

jomblo mereka, tiga kekhawatiran utamanya adalah:

i. Khawatir tidak akan pernah mendapatkan pasangan.

ii. Khawatir dengan umur.

iii. Khawatir tidak menarik lagi.

 4

sebab  penasaran dan kepo, saya menanyakan kepada para jomblo yang 

TIDAK khawatir soal relationship mengenai apa alasan mereka tidak 

khawatir. Hasilnya, tiga alasan tertinggi mereka tidak khawatir dengan 

kejombloannya adalah:

iv. Memang sedang senang sendiri.

v. . Jodoh di tangan Tuhan (dipilih separuh dari mereka yang tidak khawatir).

vi. . Sedang terlalu sibuk di kehidupannya untuk punya waktu memikirkan 

pasangan.

g. Bagi mereka yang memiliki pekerjaan/bisnis, kekhawatiran akan 

pekerjaan/bisnis dialami oleh sekitar sepertiga responden (33%). 

Kekhawatiran terbesar mengenai pekerjaan/bisnis adalah:

/. Stuck di karier sekarang.

ii. Gaji tidak mencukupi.

iii. Khawatir performa (di kantor) tidak memuaskan.

h. Mengenai aspek keuangan: sekitar separuh responden (53%) mengaku 

khawatir/stres soal kondisi keuangan mereka. Bayangkan, satu dari dua 

responden khawatir soal ini!

i. Kekhawatiran sebagai orang tua. Menjadi orang tua umumnya adalah fase 

hidup yang dinanti-nantikan oleh banyak orang, namun  siapa sangka menjadi 

orang tua juga bisa jadi sumber kekhawatiran lho! Ternyata, separuh 

responden orang tua (53%) mengaku merasa khawatir, sama dengan 

proporsi mereka yang khawatir soal uang. Apa saja yang dikhawatirkan saat 

menjadi orang tua?

i. Biaya sekolah anak! Opsi ini dipilih oleh lebih dari separuh responden 

orang tua yang merasa khawatir. Bagi yang akan menikah dan menjadi 

orang tua, apakah sudah memikirkan ini? Memiliki anak memang sumber 

kebahagiaan yang besar, namun  jika kita tidak siap dengan biaya 

pendidikannya ke depan, hal ini malah bisa menjadi sumber kekhawatiran.

ii. Anak sakit/kecelakaan.

PENDAFTARAN TERIMA

SISWA BARU JUAL GINJAL

iii. Biaya kesehatan anak.

Surprisingly (atau tidak?), dua dari tiga kekhawatiran utama para 

orang tua berkaitan dengan uang. Masalah lain seperti kenakalan 

anak, penyalahgunaan narkoba, dan ibadah anak/agama ternyata 

berada di bawahnya.

j. Sosial Politik. Surpriseee (atau nggak ya?)! Kondisi sosial politik ternyata 

menjadi sumber kekhawatiran terbesar dengan 76% (atau tiga dari 

empat responden) merasa agak/ sangat khawatir mengenai ini. 

Berikut tiga kekhawatiran tertinggi mengenai kondisi sosial politik:

i. Hoaks, fake news.

ii. Diskriminasi suku dan agama makin meningkat.

iii. Bangkitnya kaum radikal/intoleran.

Bisa dibayangkan saat kita memasuki tahun Pemilihan Presiden 2019

nanti, mungkin saja tingkat kekhawatiran semakin meningkat saat  

suhu politik memanas.

The Cost of Worrying-.

Berdasarkan Survei Khawatir Nasional, ada lebih banyak orang yang merasa 

khawatir di dalam hidup ini, dengan dua dari tiga responden merasa khawatir 

secara umum. Aspek hidup yang berbeda memiliki tingkat kekhawatiran yang 

berbeda pula. Relationship ternyata tidak menjadi sumber kekhawatiran tertinggi, 

sementara peran menjadi orang tua dan keuangan cukup menjadi kekhawatiran. 

Di luar kehidupan pribadi, kondisi sosial politik Indonesia juga sesuatu yang 

sangat dikhawatirkan.

So what? Mungkin kamu berpikir, tidakkah kekhawatiran akan hidup itu normal? 

 6

Untuk apa dipusingkan atau 'dikhawatirkan' (khawatir tentang khawatir!)? Menurut 

saya, kekhawatiran adalah sesuatu yang bisa—dan seharusnya—dikurangi, 

sebab  menimbulkan banyak “biaya”. Apa saja “biaya” dari kekhawatiran?

1. Menghabiskan energi pikiran. Berpikir, termasuk di 

dalamnya merasa khawatir berlebihan, adalah aktivitas 

yang membutuhkan energi. Artinya, setiap kalori energi 

tubuh yang dipakai untuk khawatir adalah kalori yang tidak 

bisa digunakan untuk hal-hal lain yang lebih produktif.

2. Menghabiskan waktu dan juga uang. Saat kita khawatir soal

studi, orang tua, keuangan, atau sosial politik negara tanpa 

menghasilkan solusi, kita sudah membuang waktu yang 

sebenarnya bisa digunakan untuk hal-hal lain yang lebih 

berguna. Tidak hanya waktu, kekhawatiran juga bisa 

menghabiskan uang, apabila rasa khawatir ini  

membuat kita mengeluarkan uang untuk hal- hal yang 

(dianggap) menenangkan pikiran, padahal tidak efektif. 

Misalnya, sebagian orang yang merasa khawatir 

menjadikan makanan sebagai pelipur lara, berkelakuan 

menyebalkan di depan keluarga dan teman-teman sekitar, 

atau memutuskan untuk kawin lagi, dan lain sebagainya.

3. Mengganggu kesehatan tubuh! Masih banyak orang yang 

memisahkan kebutuhan "pikiran” dan “tubuh”, seolah-olah 

apa yang terjadi di pikiran tidak memiliki hubungan dengan 

tubuh fisik kita. Padahal, sudah lama 

para ilmuwan kesehatan menemukan bahwa pikiran dan 

kesehatan tubuh memiliki hubungan dua arah yang saling 

memengaruhi. Untuk topik ini, saya khusus mewawancarai 

Dr. Andri, seorang Spesialis Kesehatan Jiwa yang 

tergabung dalam Academy of Psychosomatic Medicine 

(USA).

Wawancara

dengan Dr. Andri

SpKJ FAPM

"Masalah

khawatir

bukan masalah ‘di pikiran’ saja!

Bagaimana latar belakang sampai dokter memilih kuliah psikiatri dan 

kemudian mendalami Psychosomatic Medicine?

Saya lahir dan besar di Tangerang. Saya memilih bersekolah di SMA 

negeri, sebab  zaman dulu katanya lebih mudah masuk FKUI (Fakultas 

Kedokteran Universitas Indonesia) kalau datang dari sekolah negeri. Saat 

memulai kuliah di tahun 1997, pembangunan lagi berjalan pesat-pesatnya. 

Indonesia saat itu baru mengenal istilah konglomerat. Waktu itu saya 

 8

kepikir, kalau jadi pengusaha harus seperti konglomerat yang punya sifat 

"makanin orang”, kayaknya cara mendapatkan duitnya kok kurang bagus. 

Jadi, saya memikirkan (profesi) apa yang bisa mendapatkan uang, tapi 

juga menolong orang.

sebab  kondisi keuangan, Papa nggak mungkin menyekolahkan saya ke sekolah 

kedokteran swasta. Selain mahal, lulusnya gak jelas. Kalo gak masuk UI, saya 

harus masuk swasta. Nah, seperti umumnya orang keturunan China kebanyakan, 

swasta yang saya pilih waktu itu adalah Untar (Universitas Tarumanegara), tapi 

ngambilnya (Teknik) Sipil, sebab  jargon pembangunan. Mikirnya, nanti kalo lulus 

banyak yang pake. Tapi, ternyata saya lulus UMPTN (FKUI).

Sesudah menjadi mahasiswa kedokteran, mengapa tertarik untuk mengambil 

jurusan psikiatri?

Kalau keinginan menjadi psikiater sendiri sudah sejak dari kuliah tingkat satu. 

artikel  yang berpengaruh kenapa saya memilih psikiatri adalah The Doctors karya 

Erich Segal.

Salah satu tokoh di artikel  itu adalah seorang psikiater lulusan Harvard. Di situ saya

mengenal konsep Freudian dan mulai membeli artikel -artikel  mengenai Freud 

(Sigmund Freud, Bapak Psikoanalisis) di tingkat dua.

Kemudian, dulu kan ada mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Kebetulan, di kampus 

saya (mata kuliah ini ) dibawakan oleh seorang psikiater. Dia bicara tentang 

cara memahami perilaku manusia, bagaimana menciptakan kebiasaan, dan, dia 

selalu bilang, kalau ingin mempelajari kebiasaan dan otak manusia, belajarlah 

psikiatri. Kalau hanya belajar psikologi, sepertinya hanya mempelajari perilakunya 

saja. Sementara kalau kita belajar psikiatri, sebab  kita seorang dokter, kita juga 

tahu sakitnya bagaimana. Kita tidak kehilangan "sense of doctor" dengan menjadi 

psikiater. Dari situ saya terpikir, berarti di profesi ini saya masih bisa bantu orang 

nih.

Dalam perjalanannya, sesudah lulus kedokteran, saya langsung mengambil 

spesialisasi psikiatri. Zaman dulu kita bisa langsung mengambil spesialis tanpa 

harus PPT.

Kenapa psikiatri? sebab  menarik, bisa mempelajari perilaku manusia, dan

sebagai dokter kita tahu bahwa sumbernya di otak. Semua fenomena bisa

dijelaskan di otak kita. Masalahnya ilmunya belum nyampe aja, sehingga

kita  belum  bisa  menjelaskan  kenapa  orang  bisa  menjadi  depresi,  jadi

cemas, dll.

Saya  menjadi  dokter  dan  mengambil  psikiatri  untuk  melawan  stigma

bahwa  psikiater  itu  hanya  ngurusin  orang  gila  aja.  Secara  statistik  di

Indonesia, dari Survei Kesehatan Dasar Rumah Tangga 2012, sebenarnya

yang  psikotik  (yang  disebut  “gila”  itu)  itu  hanya  0,7%.  Jadi,  pekerjaan

psikiater  sebenarnya  lebih  banyak  merawat  yang  depresi  cemas.  Dari

berbagai literatur bisa 20- 30% (insiden).

Kalau ketertarikan pada pengobatan psikosomatik (bagian dari ilmu 

psikiatri yang menghubungkan psikiatri dan disiplin kedokteran lainnya, 

seperti penyakit dalam, alergi, syaraf, dan lain-lain)?

Di tahun kedua belajar psikiatri, saya berkenalan dengan psikosomatik. Di

Indonesia, psikosomatik ada dua sisi. Dari sisi penyakit dalam dan dari sisi

psikiatri.  Kalau  penyakit  dalam,  lebih  ke  organ,  sebab   dulu  ada istilah

"penyakit-penyakit  psikosomatik",  seperti  hipertensi,  neurodermatitis,

asthma  bronchiale, dan  lainnya.  Ini  adalah  penyakit-penyakit  yang

dianggap  banyak  hubungannya  dengan  psikologi.  Makanya  ada  istilah

seperti "Lo jangan marah-marah melulu dong, nanti darah tinggi!", "Nanti

kalo stres,  lambung lo sakit”.  Jadi,  sebenarnya orang sejak dulu sudah

mengetahui adanya psikosomatik.

Alasan  lain  memilih  psikosomatik:  di  ilmu  kedokteran  ada  sebagian

spesialisasi  yang merasa dirinya  lebih  tinggi  dari  yang lain.  Psikiatri  ini

dianggap "gak  terlalu  medis",  terlalu  banyak  memikirkan  kejiwaan yang

tidak  ada  hubungannya  dengan  kedokteran.  Ada  anggapan  bahwa

sesudah  menjadi  psikiater,  kami  gak  bakal  lagi  menjadi  dokter.  Kami

hanyalah "psikolog yang bisa mengobati dengan obat".

Jadi, sederhananya, apakah itu “pengobatan psikosomatik”?

Di ilmu pengobatan psikosomatis dijelaskan bahwa apa yang terjadi di otak kita bisa

memengaruhi badan secara keseluruhan. Maka, tidak heran ada orang stres 

mengalami tegang leher. Kalau sakit kepala, bisa kemudian mengalami sakit 

lambung juga, sebab  ada interconnection (keterkaitan).

Kita sebagai psikiater gak cuma bilang, “Kamu ini sakit kepala sebab  banyak 

mikir.” Betul, saya lagi mikirin utang sampai jadi sakit kepala. Tapi pertanyaannya, 

kenapa jadi sakit kepala? sebab  dengan mikirin hutang, otak saya bekerja lebih 

keras. Stres sebab  utang itu persepsinya negatif. saat  ada persepsi negatif, otak 

harus bekerja keras untuk beradaptasi dengan persepsi negatif itu. Otak kita selalu 

berusaha agar segala sesuatu menjadi seimbang. saat  ada persepsi negatif, 

maka otak itu akan mencoba beradaptasi.

Jadi, bagaimana stres bisa merusak kesehatan tubuh kita?

Ada quote dari Hans Seyle, “Bukan stres yang membunuh kita, tapi reaksi kita 

terhadapnya.” sebab  sebenarnya masalahnya bukan di stres itu sendiri, namun  

persepsi kita. Misalnya, “Duh jalanan macet nih!”, atau, “Utang gue banyak.” Itulah 

yang menyebabkan badan mengeluarkan zat. Pertama, respon adrenalin 

meningkat. Adrenalin meningkatkan tekanan darah (sebab  jantung menjadi makin 

berdebar), pembuluh darah menyempit, dan sebab nya kepala kita menjadi tegang.

Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini akan meningkatkan hormon stres, 

namanya kortisol. Kortisol adalah zat yang sifatnya oksidatif, merusak apa pun di 

dalam tubuh kita. Jika dia menempel di pankreas, dia meningkatkan insulin. 

Makanya, ada orang yang kalau stres bawaannya mau makan. Badannya 

memanggil- manggil sebab  berpikir dia sedang membutuhkan energi.

Jika stresnya akut atau sementara, maka reaksi tubuh juga sementara. namun  jika 

stresnya lama, maka reaksi tubuh juga akan lama. Makanya saya suka bilang 

kepada pasien, jangan stres lama-lama, nanti adaptasinya berubah. Nanti anda 

tidak tahu lagi bahwa anda sedang stres, sebab  sudah terbiasa hidup dalam stres.

Jika kita stres kelamaan, badan akan merespon dengan hal- hal yang kita 

tidak tahu sebagai bagian dari stres. Contohnya penyakit dispepsia atau 

gangguan lambung. In the long run, bisa muncul gangguan jantung, 

hipertensi, dan diabetes.

Adakah perbedaan antara ‘takut’, ‘stres’, ‘khawatir/cemas’, dan depresi?

Kalo “takut’’, kita tahu sumbernya, misalnya takut setan atau takut ujian. 

Kalau cemas, berdasarkan definisinya, gak jelas penyebabnya, pokoknya 

merasa cemas saja. sebab nya, ada diagnosis “gangguan cemas 

menyeluruh”, yaitu orang yang suka khawatir berlebihan terhadap segala 

sesuatu di dalam hidupnya, khususnya terhadap orang-orang yang 

dicintai.

Gangguan cemas itu tidak muncul tiba-tiba, seperti di Survei (Khawatir) itu.

Di satu sisi, saya merasa ini opportunity (kesempatan), sehingga saya 

bilang kepada koas-koas (ko- asisten) saya, kamu jadi psikiater deh, 

dibutuhkan banget sebab  banyak orang khawatir. Apalagi dengan 

ketidakpastian sekarang. Orang menjadi cemas sebab  dia tidak bisa 

mengendalikan hidup di situasi ketidakpastian.

Kalo stres artinya “tekanan”, sesuatu yang mengganggu keseimbangan di 

hidup kita. Ada stres fisik, stres psikis. Kalau olahraga sampai kecapean 

itu stres fisik. Kalau stres mental, saya merasa exhausted, kelelahan. Ada 

sumber stresnya.

Jika stres meningkat terus, pada kondisi orang sudah tidak tahu stresnya 

datang dari mana, artinya dia sudah masuk fase cemas. Makin jauh lagi, 

jika cemasnya dibiarkan, bisa menjadi depresi.

11 

Banyak orang yang awalnya cemas biasa saja—merasa khawatir akan 

kehidupan—kemudian tidak mendapat solusi dan dia menjadi depresi. 

Tidak ada solusi, jadi hopeless, lalu jadi depresi. Ada dua gejala penting 

depresi: pertama adalah mood yang sedih, lalu yang kedua adalah putus 

asa—tidak ada harapan, hidup kok begini-begini aja. Kita harus hati-hati 

dengan teman-teman yang berkata, "Hidup gue kok begini-begini aja", 

jangan-jangan dia sudah mengalami gejala awal depresi. sebab  apa yang

terucap oleh seseorang bisa jadi memang refleksi dari (hidup) dia.

Depresi dan cemas tidak berbeda jauh. Dan secara organ otak juga sama, 

sebab nya obatnya pun sama. Depresi, mendapat obat antidepresan. Cemas 

panik, dikasih antidepresan juga.

Apakah gangguan tubuh sebab  pikiran hanya terjadi saat sudah parah saja? Atau

bahkan cemas "sehari-hari” saja sudah bisa bermanifestasi fisik?

Cemas sehari-hari pun sudah bisa memengaruhi fisik. Contohnya, saat mau 

presentasi kita bolak-balik ke kamar mandi. Penjelasannya adalah saat kita stres, 

atau tubuh kita memersepsikan adanya stres, maka terjadi peningkatan aktivitas 

saraf otonom (saraf yang bertanggung jawab atas organ-organ yang berfungsi 

sendiri tanpa perintah, seperti jantung, paru, kandung kemih), makanya jadi 

pengen pipis.

Asthma bronchiale, misalnya. Asma yang dipicu stres. saat  orang stres, 

merangsang reaksi alergi imunologi, maka timbullah asmanya. Gangguan cemas 

tidak datang tiba-tiba. Biasanya pasien datang ke saya sesudah berkeliling ke 

beberapa dokter, seperti dokter penyakit dalam, dokter jantung, dokter saraf, atau 

dokter THT, sebab  gejalanya seperti vertigo, tapi kemudian dinyatakan tidak apa-

apa. Tidak ada organ yang rusak. Kata saya, makronya memang tidak, artinya 

jantungnya masih bagus. Tapi bayangkan, jantung berdetak 95 kali per menit, 

dibandingkan 65 kali per menit, lebih berat mana bebannya?

Bisakah saya artikan bahwa pesannya di sini adalah: jangan anggap remeh 

khawatir/cemas “kecil” yang terjadi sehari-hari?

Secara umum, kita memiliki kemampuan adaptasi. Bayangkan stress threshold 

sebagai gelas, lalu kita isi sedikit-sedikit dengan stres. Kita harus cari tahu cara 

supaya gelas itu tidak terlalu penuh, dikeluarkan sedikit-sedikit. Caranya macam-

macam, misalnya dengan berbicara. Kadang-kadang kita feeling relieved (lega) 

hanya dengan berbicara kepada orang. Atau rekreasi.

Mengapa saya katakan persepsi itu penting. Contoh: liburan itu lebih melelahkan 

dibandingkan praktik/kerja, jalan ke sana sini, tapi rasanya senang sebab  kita 

berkumpul bersama keluarga. Makanya, ada yang bilang, coba ganti suasana biar 

 12

gak stres. sebab  sekarang lagi trennya ke CBT [Cognitive Behavioral Therapy], 

maka yang paling penting itu perception.

Catat hal-hal

dalam hidup

yang bisa atau

pernah

membuat

kita bahagia.

Misalnya olahraga,

ngobrol, punya

teman. Lalu; lakukan aktivitas

yang membahagiakan. jd

Ada juga alternatif “membohongi” pikiran dengan sementara, dengan zat. Misalnya 

dengan alkohol, menekan kesadaran sehingga lupa sementara. Tapi besoknya 

muncul lagi. Kalau narkoba bekerja dengan mengelabui (otak), seperti sabu, yang 

meningkatkan dopamin dan serotonin, sehingga seseorang happy berlebihan. 

Setiap kita pakai sabu di otak kita sebenarnya seperti ada luka/rusak permanen 

yang tidak hilang selama 10 tahun.

Depression hurts. Depresi itu melukai. Melukai otak, namun  juga bisa diartikan 

melukai orang-orang di sekitar penderita, sebab  penderita memandang segala 

sesuatu "gelap”.

Apakah artinya manajemen cemas sehari-hari sama dengan manajemen persepsi?

Benar. Misalnya terjebak di tengah macet, wah sialan gue gak bisa jalan, itu 

persepsi negatifnya. Tapi persepsi positifnya, wah terjebak macet di jalan di 

sebelah cewek cakep (istri), gue bisa ngobrol lama-lama sama dia. Sama 

macetnya, tapi beda cara bersikapnya. Mengapa? sebab  beda persepsi. Dan 

jadinya less stress bagi kita.

Benarkah bahwa saat ini lebih banyak orang muda yang berkonsultasi pada 

psikiater?

Yang saya amati memang seperti itu. Penyebabnya beberapa: mereka semakin 

well-informed mengenai kesehatan jiwa. Awalnya adalah para sarjana yang 

sebelumnya kuliah di luar negeri yang kemudian kembali ke Indonesia untuk 

menetap. Masalah timbul sebab  penyesuaian. Mulanya, pas kuliah di luar negeri 

mereka culture shock, sesudah lama di sana dan menyesuaikan diri dengan 

budaya di sana, saat kembali ke Indonesia kembali culture shock.

Belakangan makin banyak yang datang sebab  isu relationship. Baper, galau, itu 

kan bahasa awamnya, namun , dalam bahasa kedokteran, ada beberapa perilaku 

baper/galau yang sudah masuk sindrom depresi. saat  dia kehilangan seseorang 

yang sangat dia sayangi, dia merasa terganggu, diagnosis klinisnya mungkin yang 

disebut “depresi ringan”, tidak sampai gejala ingin bunuh diri.

Menariknya, kalau saya ngobrol dengan pasien yang sudah berumah 

tangga selama lima tahun ke atas, banyak yang bilang, "Saya sudah 

mengertilah suami saya kayak apa. Jadi, saya tidak usah berharap 

banyak.” Menurut saya, penerimaan itu mungkin stressful juga loh buat dia. 

Dia berusaha menerima bahwa seseorang yang setiap hari dia temui di 

dalam kehidupannya sebenarnya adalah sumber stres. Tapi masalah ini 

dianggap tidak ada oleh pasien. saat  pasien ditanya apa sumber stres 

mereka, rata-rata mereka menjawab tidak tahu. Menarik kan?

Kalau pasiennya anak muda, saya lebih sering mendengar masalah 

relationship dengan teman dan orang tua. Dengan teman sebaya, 

umumnya masalahnya dengan teman dekat, best friend mereka. Atau, 

hubungan dengan kolega di pekerjaan. Lewat ilmu kedokteran jiwa, kami 

tahu kalau sebenarnya yang bermasalah bukan temannya, kerjaannya, 

atau lingkungannya, tapi dia (pasien). Jadi, ujung-ujungnya dia.

Sekarang kita bicara konteks lebih besar, tahun Pilkada dan Pilpres akan 

memanas. Ada efeknya pada tingkat kecemasan individu?

Mungkin kita harus membatasi punya WhatsApp Group. Saya percaya too 

much information will kill you. Terlalu banyak informasi dari mana-mana, 

informasi itu belum tentu benar. "Tapi kan itu hanya informasi doang?” kata 

orang. Saya percaya kalau karakter kita pada dasarnya sudah negatif, lalu 

misalnya kita sedang stres dengan kehidupan pribadi kita, kemudian kita 

membaca berita yang jelek, efeknya akan beda dengan jika kita membaca 

berita ini  saat sedang normal.

Dulu, ada situs abal-abal. Sekarang sudah jarang, orang abal-abalyang 

banyak, yaitu teman-teman kita sendiri (yang turut menyebarkan berita 

hoaks). Apakah mereka memang kerjaannya seperti ini ya? Sebenarnya, 

kalau kita sibuk, harusnya tidak terlalu banyak main media sosial. Kok 

mereka kayaknya terus-terusan gitu, selalu aja ada waktu.

Adakah pesan-pesan untuk pembaca?

Coba kenali sumber stresnya. Kalau kita merasa sedang berada dalam sebuah 

keadaan, kenali kenapa. Kalau kita bisa mengenali sumbernya, maka kita bisa 

melawannya.

Catat hal-hal dalam hidup yang bisa atau pernah membuat kita bahagia. Misalnya 

olahraga, ngobrol, punya teman. Lalu, lakukan aktivitas yang membahagiakan.

(Catatan: Dr. Andri SpKJ, FAPM saat ini praktik di RS Omni Alam Sutra, 

Tangerang. Beliau bisa dihubungi di email: andri(3ukrida.

ac.id. dan Twitter: (dmbahndi.)

Intisari Wawancara dengan Dr. Andri:

• Kondisi psikis berkaitan dengan kesehatan tubuh kita.

• Jika dalam keseharian kita terbiasa hidup dengan cemas dan stres untuk 

jangka waktu panjang, maka tubuh juga beradaptasi dalam rentang waktu 

ini .

• Bukan situasi penyebab stresnya yang menjadi masalah, namun  persepsi kita 

akan situasi ini . Manajemen cemas = manajemen persepsi.

• Dengan media sosial, kita mengalami banjir informasi yang belum tentu benar.

Ini bisa menambah kekhawatiran.


dulu, saya sering kagum, dan iri, pada teman-teman yang punya kepribadian 

ceria, ekstrover, dan rasanya hidupnya tidak ada masalah. Rasanya setiap 

bertemu mereka, senyum, canda dan tawa selalu mengelilingi keseharian 

mereka. Ini sungguh kontras dengan penampakan saya yang selalu digambarkan 

'terlalu serius. Jika berjalan saja saya sering menundukkan kepala. sebab nya dulu 

saya terkadang memikirkan bagaimana mengubah kepribadian saya. Bagi saya, 

seseorang yang ‘bahagia" harus seperti teman- teman saya tadi, selalu tampak 

tersenyum dan tertawa. Bisa ditebak, usaha mengubah kepribadian ini gagal total. 

'Cetakan saya sudah seperti ini. Saya mulai terpikir, bisakah saya “bahagia" tanpa 

mengubah kepribadian asli saya?

D

The Problem with Positive Thinking

Setelah membaca hasil Survei Khawatir Nasional dan mendengarkan penjelasan 

Dr. Andri, saya jadi berpikir bahwa kekhawatiran sehari-hari bukanlah sebuah 

kondisi yang bisa dianggap remeh. Selain membuat kita jadi sulit merasakan damai, 

ada risiko lain yaitu ancaman atas kesehatan fisik kita sendiri. Terus, bagaimana 

dong solusinya? Adakah cara mengatasi kekhawatiran sehari-hari dan juga emosi 

negatif lainnya?

Saya dikenal memiliki karakter yang pesimis dan sering kali berpikiran negatif. 

saat  berkumpul dengan teman-teman atau keluarga, lalu ada yang mengusulkan 

ide untuk bersenang- senang, saya pasti mampu melihat semua kemungkinan buruk

yang bisa terjadi dari ide ini . Yuk kita main ke tempat paling gaul saat ini! 

/saya: Ah males, nanti sudah capek mengantri gak dapet tempat]. Yuk jalan-jalan ke

luar kota! /saya: Ah nanti macet, hanya capek saja jadinya]. Yup, bisa terbayang kan

betapa populernya saya di pertemanan?

Sering kali nasihat yang saya dapatkan adalah, "Jangan berpikiran negatif melulu 

dong. Think positive ajal" Pada umumnya, pernyataan itu berarti sebaiknya saya 

hanya memikirkan kemungki