Filsuf di Medan Perang
Di sebuah perbatasan utara kekaisaran Romawi bernama Germania, pagi
masih sangat gelap. Utusan tentara Romawi yang dikirim bernegosiasi
dengan kaum Barbar pulang tanpa kepala. Kudanya kembali membawa
utusan malang yang tinggal jasadnya. Jenderal Maximus (diperankan oleh
Russell Crowe) tidak melihat jalan lain kecuali menyiapkan ribuan legiun
Romawinya untuk pertempuran tak terelakkan dengan kaum Barbar.
Anak panah dan busurnya disiapkan, ketapel raksasa diisi bola api. Para
prajurit infanteri merapatkan tameng, mengenggam erat tombak dan
menghunus pedang pendek dari sarungnya. Usai memberi instruksi pada
pasukan infanteri, Maximus naik kuda, bergerak memutar memimpin
pasukan kavaleri untuk menyergap kaum Barbar dari belakang. Begitu aba-
aba “serang” dikumandangkan, ribuan anak panah, ratusan bola api
menyembur kaum Barbaryang memekik maju menyerang pasukan Romawi.
Dua bala tentara bertempur dalam gelapnya pagi buta, saling memotong,
mengayunkan pedang, kapak, dan apa pun yang bisa membuat lawannya
terjungkal mati. Maximus dengan ratusan pasukan kudanya menembus
gelapnya hutan, menyerang kaum Barbar dari belakang. Taktik Supit Urang
(jepitan udang) membuat kaum Barbar kacau dan habis dibantai legiun
Romawi di perbatasan utara Imperium Romawi, di daerah Austria sekarang
xvii
ini.
Dari kejauhan, di atas sebuah bukit kecil, duduk tenang di kudanya,
dikelilingi pasukan Pretoria (penjaga Kaisar), Marcus Aurelius
memperhatikan semuanya. Dialah yang memutuskan mengirim utusan untuk
mencoba negosiasi dengan kaum
Barbar. Sampai saat terakhir ia mengharapkan perdamaian dengan mereka.
Namun, perang tak terelakkan, la hanya bisa menjalankan tugasnya sebagai
Kaisar: memerintahkan Maximus melakukan apa yang terbaik untuk Roma.
Pada saat fajar merekah, dengan lega ia menyaksikan keberhasilan jenderalnya,
Maximus, mengalahkan kaum barbar di Germania. Namun, bukannya senang, ia
malah bertanya kepada Maximus tentang perlu tidaknya peperangan tadi
dilakukan: “Saat orang merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat, ia mulai
bertanya-tanya apakah hidupnya memiliki tujuan... Apakah aku akan dikenang
sebagai filsuf, prajurit, atau tiran?'"
Film berjudul Gladiatoryang disutradari Ridley Scott, tahun 2000, pada 15 menit
pertamanya menggambarkan Kaisar Romawi bernama Marcus Aurelius (yang
diperankan oleh Richard Harris). Kaisar pemimpin pertempuran di Germania ini
adalah seorang filsuf, la dikenal sebagai salah satu tokoh pengusung filsafat Stoa
(yang dalam artikel ini diterjemahkan sebagai ]. Bukannya berhura-
hura menikmati kemenangan, Marcus Aurelius malah melakukan permenungan
diri: apakah tindakanku tepat, apakah peperangan dengan korban demikian
banyak memang perlu dilakukan? Di film ini digambarkan bahwa pada malam hari,
Kaisar yang bijak ini tekun mencatatkan permenungan-permenungan pribadinya di
tenda peperangan.
Seorang filsuf menjadi kaisar dan memimpin peperangan? Bukankah filsafat ilmu
yang menjemukan, susah, rumit, dan cenderung tanpa faedah? Masak sih
seorang filsuf sampai difilmkan oleh Hollywood? Tontonlah film Gladiator. Untuk
saya sendiri, film itu tak terlupakan.
Marcus Aurelius adalah filsuf, dan ia menulis artikel yang sampai sekarang ini—
1.800 tahun setelah kematiannya—masih dibaca dan direnungkan banyak orang.
Judul artikel nya, paling tidak demikian yang selama ini dipercaya orang, adalah Eis
Heauton, For Himself, kadang diterjemahkan sebagai Meditations.
Marcus Aurelius hidup di abad kedua Masehi. Mengikuti filsafat Stoa, ia sibuk
beraktivitas sebagai pemimpin politik dan peperangan. Bagaimana mungkin
filsafat yang biasanya
Di sebuah perbatasan utara kekaisaran Romawi bernama Germania, pagi
masih sangat gelap. Utusan tentara Romawi yang dikirim bernegosiasi
dengan kaum Barbar pulang tanpa kepala. Kudanya kembali membawa
utusan malang yang tinggal jasadnya. Jenderal Maximus (diperankan oleh
Russell Crowe) tidak melihat jalan lain kecuali menyiapkan ribuan legiun
Romawinya untuk pertempuran tak terelakkan dengan kaum Barbar.
Anak panah dan busurnya disiapkan, ketapel raksasa diisi bola api. Para
prajurit infanteri merapatkan tameng, mengenggam erat tombak dan
menghunus pedang pendek dari sarungnya. Usai memberi instruksi pada
pasukan infanteri, Maximus naik kuda, bergerak memutar memimpin
pasukan kavaleri untuk menyergap kaum Barbar dari belakang. Begitu
aba-aba “serang” dikumandangkan, ribuan anak panah, ratusan bola api
menyembur kaum Barbaryang memekik maju menyerang pasukan
Romawi. Dua bala tentara bertempur dalam gelapnya pagi buta, saling
memotong, mengayunkan pedang, kapak, dan apa pun yang bisa
membuat lawannya terjungkal mati. Maximus dengan ratusan pasukan
kudanya menembus gelapnya hutan, menyerang kaum Barbar dari
belakang. Taktik Supit Urang (jepitan udang) membuat kaum Barbar kacau
dan habis dibantai legiun Romawi di perbatasan utara Imperium Romawi,
di daerah Austria sekarang ini.
Dari kejauhan, di atas sebuah bukit kecil, duduk tenang di kudanya,
dikelilingi pasukan Pretoria (penjaga Kaisar), Marcus Aurelius
memperhatikan semuanya. Dialah yang memutuskan mengirim utusan
untuk mencoba negosiasi dengan kaum
Barbar. Sampai saat terakhir ia mengharapkan perdamaian dengan mereka.
Namun, perang tak terelakkan, la hanya bisa menjalankan tugasnya sebagai
Kaisar: memerintahkan Maximus melakukan apa yang terbaik untuk Roma.
Pada saat fajar merekah, dengan lega ia menyaksikan keberhasilan jenderalnya,
Maximus, mengalahkan kaum barbar di Germania. Namun, bukannya senang, ia
malah bertanya kepada Maximus tentang perlu tidaknya peperangan tadi
dilakukan: “Saat orang merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat, ia mulai
bertanya-tanya apakah hidupnya memiliki tujuan... Apakah aku akan dikenang
sebagai filsuf, prajurit, atau tiran?'"
Film berjudul Gladiatoryang disutradari Ridley Scott, tahun 2000, pada 15 menit
xvii
pertamanya menggambarkan Kaisar Romawi bernama Marcus Aurelius (yang
diperankan oleh Richard Harris). Kaisar pemimpin pertempuran di Germania ini
adalah seorang filsuf, la dikenal sebagai salah satu tokoh pengusung filsafat Stoa
(yang dalam artikel ini diterjemahkan sebagai ]. Bukannya berhura-
hura menikmati kemenangan, Marcus Aurelius malah melakukan permenungan
diri: apakah tindakanku tepat, apakah peperangan dengan korban demikian
banyak memang perlu dilakukan? Di film ini digambarkan bahwa pada malam hari,
Kaisar yang bijak ini tekun mencatatkan permenungan-permenungan pribadinya di
tenda peperangan.
Seorang filsuf menjadi kaisar dan memimpin peperangan? Bukankah filsafat ilmu
yang menjemukan, susah, rumit, dan cenderung tanpa faedah? Masak sih
seorang filsuf sampai difilmkan oleh Hollywood? Tontonlah film Gladiator. Untuk
saya sendiri, film itu tak terlupakan.
Marcus Aurelius adalah filsuf, dan ia menulis artikel yang sampai sekarang ini—
1.800 tahun setelah kematiannya—masih dibaca dan direnungkan banyak orang.
Judul artikel nya, paling tidak demikian yang selama ini dipercaya orang, adalah Eis
Heauton, For Himself, kadang diterjemahkan sebagai Meditations.
Marcus Aurelius hidup di abad kedua Masehi. Mengikuti filsafat Stoa, ia sibuk
beraktivitas sebagai pemimpin politik dan peperangan. Bagaimana mungkin
filsafat yang biasanya
dianggap membuat orang lari dari dunia justru dipraktikkan di tengah kancah
politik dan peperangan? Marcus Aurelius justru membutuhkan filsafat untuk
melindungi kedamaian jiwanya.
Lewat latihan konkret dan menuliskan setiap hari refleksi atas
pengalamannya, Marcus Aurelius membangun jiwanya seperti benteng
yang kokoh. Mengikuti Epiktetos (seorang budak Romawi), ia selalu
berlatih memilah "apa yang tergantung padaku dan apa yang tak
tergantung padaku” supaya terhindarkan dari penyakit jiwa (yaitu emosi-
emosi negatif). Selain itu, Marcus Aurelius mempraktikkan kategori sulit
dalam filsafat Stoa, yaitu, kathekonta (kewajiban-kewajiban sosial yang
sebenarnya "tidak wajib” tapi toh “selayaknya" dilakukan).
Filsafat Stoa Relevan?
Apa buktinya bahwa filsafat Stoa relevan? Apakah generasi milenial yang
hidup dengan gadget dan media sosial masih perlu membaca filsafat?
Untuk kita di zaman now, ajaran yang asal-usulnya sudah ribuan tahun
bukankah sudah zadul?
Pertama-tama, kita jangan berasumsi buruk dulu pada filsafat. Bisa jadi
kita memang belum pernah membaca filsafat? Bisa jadi kita salah belajar
filsafat, atau salah mendapatkan guru filsafat, sehingga bukannya senang
pada filsafat, kita malah jadi benci dan alergi pada filsafat. Filsafat Stoa
berbeda, ia adalah sebuah way of life, jalan hidup. Bukankah kita sudah
punya agama? Lha, apa salahnya beragama sambil mempelajari filsafat
supaya agama kita makin mantap?
Bagi para ahli filsafat Yunani dan Hellenistik, ajaran Platonisme,
Aristotelisme, Sinisme, Epikurisme, dan filsafat Stoa sering disebut
sebagai aliran-aliran yang mengajarkan jalan hidup. Mereka memang
aliran filsafat, namun bukan dalam arti cara berpikir ruwet dan menjelimet
serta tidak relevan dengan hidup sehari-hari. Way of life ini yang
membantu Kaisar Marcus Aurelius menjalankan tugas-tugasnya sebagai
penguasa dengan baik, la dikenang sebagai “Kaisar Baik” terakhir di
Imperium Romawi, la sangat memperhatikan warganya, hidupnya jauh dari
hedonisme, dan dikenal sebagai penguasa yang adil dan penuh belas
kasihan.
Kedua, sebab jalan hidup, maka orang dari zaman kapan pun bisa membaca
untuk berkaca, dan siapa tahu, terinspirasi darinya. Ada kisah menarik tentang
James Stockdale, pilot pesawat tempur Angkatan Laut Amerika Serikat. Sebelum
perang Vietnam, ia masuk ke kampus lagi di Stanford University untuk belajar.
Dosen filsafatnya menganjurkan agar ia mempelajari Epiktetos (salah satu filsuf
Stoa yang suka menggambarkan filsuf mirip seorang tentara).
James Stockdale sangat terkesan dengan pemikiran Epiktetos. Hal-hal pokok
yang ia ingat-ingat terus dari filsafat Stoa adalah: a) pembedaan antara apa yang
up to us (tergantung pada kita) dan not up to us (tidak tergantung pada kita); b)
soal baik atau buruk itu tergantung dari cara jiwa kita menafsirkannya; c) segala
situasi hidup yang menimpa kita bersifat indifferent (netral saja).
Saat Perang Vietnam pecah, ia ditugaskan bertempur di sana. Pesawatnya
tertembak jatuh, dan ia menjadi tahanan di Hanoi, Vietnam selama tujuh tahun! la
sering ditaruh di sel bawah tanah, disiksa, dipukuli, dan tiap hari mengalami
penistaan lahir dan batin. James Stockdale mengatakan bahwa berkat Epiktetos ia
mampu bertahan waras, meski mengalami tekanan psikologis dan siksaan fisik
selama tujuh tahun. Kisah POW {prisoner of war] James Stockdale menginspirasi
orang lain. Seorang pengusaha besar yang kehilangan kesehatan, kekayaan, dan
istrinya akhirnya menemukan hidupnya kembali berkat filsafat Stoa (bdk. roman
yang ditulis oleh Tom Wolfe, A Man in Full, 1998).
Lalu di tahun 1990-an, di Amerika Serikat berkembang sebuah metode psikologi
yang populer bernama “terapi kognitif". Katanya, ajaran ini mendapatkan inspirasi
dari Buddha dan Epiktetos2. Inti terapi kognitif menyatakan bahwa segala emosi
yang mengganggu kita sebenarnya berasal dari cara penilaian yang salah. Cara
berpikir tertentu menjadi penyebab munculnya simtom-simtom yang mengganggu.
Cara pandang kita yang keliru atas kejadian dalam hidup menyebabkan kita stres,
gelisah, depresi atau marah-marah tanpa alasan yang jelas.
Bahagia Apatheia
Mengapa membicarakan Marcus Aurelius yang berperang? Atau, James
Stockdale yang menjadi tawanan perang? Apa pula gunanya
membicarakan soal stres dan depresi dalam terapi kognitif?
Lho, justru sebab hidup kita ini setiap hari perang! Kita keluar rumah jam
05.15 sudah harus berperang menghadapi macet di jalanan di Jakarta. Kita
harus cepat-cepat ke tempat kerjaan, berebut jalan dengan kendaraan lain,
kadang emosi menjadi tinggi. Setelah dua jam menembus kemacetan, di
kantor pun segala persoalan siap membuat stres dan tekanan darah kita
naik. Belum lagi berita di teve, radio, atau media sosial yang menemani
nyaris 24 jam. Isinya cuma perang saja: perang mulut para politisi, beda
opini kaum intelektual, siasat dagang iklan-iklan yang membombardir, dan
segala keributan lainnya.
Bagaimana bisa damai di tengah suasana seperti itu? Bisakah berbahagia
dalam hidup yang dari pagi berangkat kerja sampai malam pulang kerja
selalu dipenuhi konflik dan ketegangan tanpa henti?
Filsafat Stoa mengusung kebahagiaan yang tidak lazim.
Mereka mengatakannya sebagai ataraxia, sebuah kata Yunani yang
akarnya dari ataraktos (a = not, dan tarassein = to trouble]. Ataraxia
dengan demikian berarti not troubled [untroubled, undisturbed].
Kebahagiaan—yang kita bayangkan sebagai jiwa yang tenang dan damai
—digambarkan oleh kaum Stoa sebagai situasi negative, yaitu "tiadanya
gangguan".
Dalam istilah lain, kadang juga dikatakan sebagai apatheia, kata Yunani
yang artinya a=not dan pathos=suffering, sehingga apatheia adalah situasi
di mana kita free from emotions, free form sufferings, freedom from all
passions. Sama dengan sebelumnya, kebahagiaan bagi kaum Stoa
bersifat "negatif logis”, yaitu tiadanya penderitaan, tiadanya emosi, saat
kita tidak diganggu oleh nafsu-nafsu (seperti amarah, kecewa, rasa pahit,
dan rasa iri hati).
Bagaimana caranya mencapai kebahagiaan seperti itu? Kalau kita ingat
betapa kita mudah stres, marah di jalanan; kalau kita timbang bagaimana
Facebook, grup WA, dan berita di media
sosial memicu emosi; bagaimana caranya agar bisa terlepas dari gangguan-
gangguan itu? Mengapa itu semua disebut gangguan? Kalau kita banyak marah-
marah dan gampang emosi, bukan hanya tetangga dan orang serumah yang
terganggu. Kesehatan kita pun lama-lama bermasalah.
artikel karya hadir untuk memberikan kepada
Anda jalan menuju ketenangan jiwa. Penulis artikel ini telah mengalami sendiri stres
dan kesulitan- kesulitan dalam hidupnya sebab banyak marah-marah seperti di
atas. Meski bukan alumnus Fakultas Ilmu Filsafat, penulis artikel berhasil membuat
artikel menarik tentang filsafat Stoa. Ini luar biasa. Filsafat sebagai praktik hidup ia
jalani dan jalankan betul-betul. menjadikan dirinya sendiri
kelinci percobaan.
Karya yang berada di tangan Anda sekarang ini adalah sebuah way of life yang
sudah dicoba dihayati oleh sendiri. Bila Anda hendak
mencoba menerapkan filsafat Stoa bagi diri Anda sendiri, percayalah, Marcus
Aurelius, James Stockdale, dan si penulis artikel ini juga telah memetik hasil-hasil
yang konkret.
Latihan Mengatasi Emosi3
Setiap manusia mencari kebahagiaan, hidup yang tenang. Filsafat bagi kaum Stoa
bukanlah untuk sekadar mengisi waktu atau menumpuk ide untuk bergaya di
depan kaum awam. Filsafat adalah praktik dan latihan [askesis], sebuah seni
hidup. Epiktetos dalam Enchiridion 46 mengingatkan, "Never call yourself a
philosopher, nor talk a great deal among the unlearned about theorems, but act
conformably to them". Jangan suka menyebut diri Anda sendiri sebagai filsuf,
jangan banyak berbicara di depan orang awam tentang teori-teori filsafat. Tidak
penting itu semua, sebab yang pokok adalah bagaimana Anda hidup sesuai apa
yang Anda pelajari.
Di mata Stoa, bahagia itu sederhananya adalah manakala kita
terbebaskan dari emosi atau segala rasa perasaan yang menganggu.
Orang Yunani menyebutnya pathos (dari kata kerja paskhein, artinya
mengenai atau menderita sesuatu). Pathos dalam bahasa Inggris menjadi
passion (nafsu). Dalam pemikiran Stoa, pathos atau passion terjemahan
mudahnya adalah emosi negatif (emosi yang buruk). Apa yang disebut
emosi negatif [passion] berbeda dengan hasrat [desire, Yunaninya orexis]
yang oleh kaum Stoa dianggap sebagai alamiah dan netral belaka. Hasrat
adalah impuls/dorongan meraih tertentu, dan hasrat selalu mengandungi di
dalamnya aktivitas representasi terhadap objek yang dihasrati, di mana
representasi ini mau tak mau sudah memuat persetujuan rasio
terhadap value judgement dalam representasi itu sendiri. Bila hasrat akan
sesuatu tidak terpenuhi (misalnya hasrat akan gawai terhambat) atau bila
kita menghasrati sesuatu yang tidak masuk akal (misalnya berhasrat tidak
mati), maka kita jatuh dalam emosi negatif. Bagi kaum Stoa, emosi negatif
didefinisikan sebagai hasrat yang eksesif, misalnya saat menghendaki
sesuatu yang jelas-jelas tidak masuk akal (menghasrati supaya tidak tua).
Lewat latihan-latihan konkret, filsafat Stoa hendak menolong kita bebas
dari hasrat eksesif. Lalu, jelas dengan sendirinya bahwa hasrat dalam
dirinya sendiri tidak dibuang. Kadang memang ada pernyataan-pernyataan
Epiktetos yang seolah- olah kita harus “memotong semua hasrat”!
Ungkapan ini dikenakan terutama saat orang baru memulai latihan
[askesis]. Namun, pada tahap yang lebih lanjut, orang bijak tetap hidup
dengan hasratnya, namun hasrat yang lurus dan selaras dengan logos
universal.
Dalam pergaulan sehari-hari, kita tentu memiliki pengalaman yang tidak
enak manakala hidup diisi oleh rasa marah. Selalu empet sama orang
tertentu, sehingga mendengar namanya saja kita sudah misuh-misuh
kehilangan kendali diri. Marah muncul entah sebab iri hati (mengapa
orang lain lebih baik dari saya) entah sebab dari rasa sesal dan pahit
[sebab pernah merasa dijahati, difitnah, atau dikejami oleh orang yang
bersangkutan). Hidup juga menjadi sepet menjengkelkan kalau diisi oleh
paranoia (selalu melihat ancaman dan kejahatan sedang berkonspirasi
melawan diri kita). Orang menjadi paranoid
sebab dihantui oleh ketakutan di masa depan, oleh bayangan- bayangan
fantasinya sendiri bahwa orang-orang dan takdir sedang berusaha
menjatuhkannya.
Sebaliknya, jangan dikira bahwa kelekatan pada kesenangan serba nikmat
membawa bahagia. Tidak! Orang yang selalu mencari senang-senang dalam
hidupnya adalah orang yang merana manakala terlalu banyak waktu luang. Kapan
bisa happy- happy lagi? Kapan makan enak lagi? Kapan jalan-jalan lagi?
Bagaimana caranya supaya bisa bahagia, terhindar dari rasa campur aduk yang
memporakporandakan batin? Bagaimana bisa tenang, terbebaskan dari rasa
perasaan negatif? Filsafat Stoa mengajarkan untuk mencermati empat jenis emosi
negatif yang menjauhkan kita dari kebahagiaan (ketenangan batin) yaitu: iri hati,
takut, rasa sesal atau pahit, dan kesenangan (kenikmatan).
Insight tajam kaum Stoa memberi tahu kita bahwa emosi negatif bukanlah
"perasaan liar”, bukan pula "hal irasional" yang tak bisa dijelaskan asal-usulnya.
Emosi adalah bagian dari rasio. Emosi negatif adalah opini yang mengatakan
bahwa sesuatu itu buruk (sehingga muncul rasa sesal dan rasa takut) atau opini
yang mengatakan bahwa sesuatu itu baik (sehingga ada rasa senang dan rasa
mengingininya). Bila opininya berkenaan dengan masa kini yang muncul adalah
rasa senang dan rasa sesal, sedangkan bila berkaitan dengan masa depan yang
keluar adalah rasa iri dan takut. Berbagai jenis rasa-merasa yang meruyak dalam
hati kita, seperti rasa marah, empet, sepet, paranoid adalah jenis-jenis emosi yang
bisa dengan mudah dimasukkan ke dalam salah satu jenis emosi negatif tadi.
Dengan mendefinisikan emosi negatif sebagai opini, sebagai aktivitas rasio, maka
kaum Stoa memberi kita kunci untuk mengendalikan emosi negatif.
Bagi Stoa di dalam rasio kita ditemukan yang namanya hasrat, kehendak,
keinginan, nafsu, sekaligus cara berpikir. Dengan menyatakan bahwa semuanya
ada di dalam rasio yang sama, maka emosi-emosi negatif bukanlah sesuatu yang
irasional! Sejauh emosi muncul dari rasio, maka emosi adalah sebuah rasionalitas
juga, namun rasionalitas yang melenceng. Emosi negatif bagi kaum Stoa adalah
hasil rasio yang salah menilai, yang keliru. Dengan mendefinisikan emosi negatif
[pathos] sebagai sesuatu yang juga rasional, apa yang biasa disebut "perasaan
liar" bisa dipahami dan dipilah untuk akhirnya dilatih supaya menjadi emosi yang
baik [euphateia].
Kunci kebahagiaan bagi Stoa adalah manakala kita terhindarkan dari
nafsu-nafsu gak jelas, kecanduan atau addicted pada sesuatu, angkara
murka, kehilangan kendali, dendam kesumat, kecemasan yang obsesif,
rasa kesal berlebih-lebihan yang bisa dirangkum dalam empat jenis emosi
negatif: iri hati, takut, rasa sesal atau pahit, dan rasa senang- nikmat.
Selaras dengan Rasio (Alam)
Kaum Stoa mengandalkan distingsi pokok antara "apa yang tergantung
padaku" (yaitu jiwaku atau rasioku) dan "apa yang tidak tergantung
padaku” (yaitu tubuhku, lahir dan matiku, statusku, karierku, hartaku, siapa
gubernur dan presidenku). Setia dengan tradisi Sokrates, kaum Stoa
menempatkan kebahagiaan dalam ketenangan batin [peace of mind], dan
bukan dalam hal-hal eksternal. Rasa bahagia tidak sama dengan
kenikmatan (kesenangan) uang, makan, minum, seks, atau posisi jabatan
tinggi serta kekuasaan. Ketenangan batin di atas bisa dicapai lewat
askesis [exercise, latihan).
Kebahagiaan khas Stoa diupayakan lewat latihan sehari-hari. Teori-teori
Stoa tentang pembedaan apa yang tergantung padaku dan tidak
tergantung padaku, atau teori tentang korporalitas segala sesuatu, atau
kecanggihan pelurusan bahasa, tidak akan berguna bila tidak dilatihkan.
Askesis [exercise] tujuannya adalah untuk membebaskan jiwa dari
"penyakit jiwa" (yaitu emosi negatif: sebuah error of reasoning, sebuah
false belief produk dari faulty judgement].
Kebahagiaan dalam hidup sesuai Rasio Semesta tercapai lewat apatheia,
yaitu saat kita terjauhkan dari perverted reason (definisi untuk emosi
negatif). Yang perlu dipahami, apatheia bukanlah apatis! Apatheia kaum
Stoa penuh emosi-emosi yang baik seperti rasa gembira [joy], waspada
[caution] dan memiliki keteguhan kehendak.
Obat Anti Galau Politik
Menjelang tahun politik 2019, filsafat Stoa menjadi sangat penting. Saat Pilkada
DKI 2017 kedua kubu saling mencaci maki sedemikian rupa sehingga fakta atau
intepretasi tidak jelas lagi, hoax bertebaran seperti asap polusi di Jakarta. Gejala
yang sama sebentar lagi akan membuat banyak orang galau: kubu capres A dan
kubu capres B akan saling menyebar representasi mereka masing-masing. Fakta
menjadi tidak penting sebab yang genting adalah "interpretasi atas fakta” yang
Anda tebar dengan penuh keyakinan. Pertemanan rusak, silaturahmi putus, mata
saling menatap curiga, bahkan Tuhan dan agama pun bisa dibawa-bawa sebagai
representasi.
Berkaca dari Stoa, kita sekarang bisa membedakan bahwa 'yang menakutkan kita
bukanlah parpol dalam dirinya sendiri, yang menakutkan kita adalah representasi
orang bahwa parpol itu Tuhan atau Setan. Representasi seperti itulah yang
mengerikan!”
Parpol di Indonesia mah, kalau kita kembali ke fakta, ya gitu- gitu aja. Jangan
dibandingkan dengan parpol-parpol di negara maju yang punya ideologi, yang
anggotanya membayar iuran, yang kerjanya jelas, yang pengkaderannya ciamik.
Parpol di Indonesia? Udah deh, gak usah galau, Parpol kita mah ya gitu-gitu aja.
Nah, yang menakutkan adalah manakala ada yang membuat representasi bahwa
ada "Parpol Tuhan” dan ada "Parpol Setan". Bila memilih yang satu Anda pasti
masuk surga, bila memilih yang lain Anda gak layak hidup (sebab percuma Anda
hidup, wong mati saja pasti masuk neraka kok). Ini menakutkan! Representasi
seperti ini bisa memecah belah umat beragama, mengoyak kerukunan berbangsa,
dan menghancurkan kedamaian Nusantara. Selain menakutkan, representasi
seperti itu juga bohong besar! Kenapa? sebab kita tahu bahwa seandainya
Parpol Tuhan itu nanti menang, haqul yakin, ntar saat berkuasa ya korupsi juga...
Tuhan sih gak mungkin korupsi. Maka kalau ParpolTuhan nanti korupsi, yang
korupsi pasti Parpolnyalah. Istilah (representasi) "Parpol Tuhan" tidak ada
kaitannya dengan Tuhan sama sekali, sebab Tuhan tidak pernah mendaftar ikut
Parpol mana pun. Selama istilah itu hanya representasi dari orang yang
mengatakannya, maka pada orang itulah—dan bukan pada Tuhan—kita mesti
bertanya, “maksudnya Parpol Tuhan apa?
xvii
Apa Parpol mewakili Tuhan, atau Parpol itu Tuhan sendiri, atau barangkali
cuma mengatasnamakan, mengklaim nama Tuhan saja buat Parpol?”
Kalau dengan akal sehat kita bisa menduga jawabannya yang terakhir, ya
sudah, kita biasa-biasa aja jugalah. Pun kalau seandainya setelah menang
pemilu Parpol itu korupsi, kita juga tidak kaget. Biasa ajalah, namanya juga
politik ala Indonesia.
Maka, penting bagi kita untuk belajar bersama Stoa, agar dapat
membedakan mana fakta (parpol kita yang sejauh ini gitu-gitu aja] dan
representasi (jualan politikus yang kebelet supaya partainya menang
pemilu). Mengapa? Supaya kita tetap waras, tidak gampang galau
diombang-ambingkan hoax atau opini orang- orang yang kurang ngopi,
demi lestarinya persaudaraan dan silaturahmi antar anak bangsa.
Sebagai artikel populer, memakai data dari psikiatri, survei,
hingga wawancara dengan praktisi media sosial, sehingga artikel ini
menyentuh hal-halyang sehari-hari dialami generasi milenial sampai
mereka yang berumur 50-an tahun.
artikel ini penting, sebab kita akan memasuki tahun politik, di mana hoaks
dan fake news akan bertebaran membuat orang emosi, lalu
berdemonstrasi berjilid-jilid (ingat skenario “November 2016-Maret 2017"
saat Pilkada DKI). artikel ini bisa menyumbang banyak supaya kita waras
menyikapi hoax dan fake news. Jangan gampang baper, jangan gampang
lebay, jangan gampang terprovokasi oleh persepsi ciptaan media sosial.
Bagaimana caranya? Jadilah seperti Stoa. Kendalikan persepsi dan
pikiranmu. Itu ada di dalam kendalimu. Lalu bagaimana dengan omongan
media sosial, komentar orang lain, dan persepsi orang lain? Mereka tidak
ada di dalam kendalimu, jadi terima dan biarkan saja.
Kaum troll, Saracen, dan army apa pun yang menyelundup di media sosial
akan pusing tujuh keliling kalau orang-orang Indonesia bersikap seperti
kaum Stoa dan tidak merespon-apalagi mem- forward-berita-berita
sampah yang memang sengaja dikirim untuk mengeruhkan suasana.
Cambridge Analytica, perusahaan Rusia, Novel Ghost Fleet, atau siapa
pun yang bergerak menjadi konsultan politik ngawur-ngawuran, tak akan
bisa men-Suriah-kan dan membubarkan Indonesia kalau kita memiliki
"benteng batin" yang kokoh seperti Marcus Aurelius.
Justru sebaliknya, terinspirasi oleh kaum Stoa, kita malah diajak menanggapi
dengan ramah kaum haters dan pemancing di air keruh ini: ah, mereka hanya
menjalankan pekerjaan mereka (kan mereka memang dibayar untuk menyebarkan
hoax], atau, hmm... mereka melakukan apa yang mereka pikir baik untuk
dilakukan, padahal mereka tidak tahu apa itu yang ‘baik’, jadi kasihan saja mereka
berkeras kepala dalam ketidaktahuan mereka.
Belajar dari Filsafat Stoa, kita justru diajak untuk selalu bersyukur, bersyukur, dan
bersyukur: bahwa saat ini hidupku oke-oke saja, aku tidak stres akibat hoax dan
aku tidak down akibat bullying kaum haters- hari ini juga negaraku Indonesia
masih memberiku rezeki, kebebasan, kenyamanan, dan persaudaraan dengan
kaum haters yang ignorant; saat ini alam semesta masih memberiku oksigen untuk
hidup, alam semesta juga menyediakan kaum haters bagiku supaya aku bisa
berlatih menguji kesabaran dan keramahanku.
Saya suka dengan istilah yang dipakai oleh untuk
menggambarkan pentingnya latihan dalam filsafat Stoa. "Sama seperti otot harus
dilatih dengan berulang-ulang mengangkat barbel, maka batin pun bisa diperkokoh
lewat latihan rutin setiap hari lewat STAR [Stop, Think-Assess, Respond]". Setia
pada filsafat sebagai praktik dan latihan, artikel ini memberikan cara
latihan mental supaya kita memiliki syaraf titanium dan tidak gampang KO terkapar
kesamber galau.
artikel berjudul ini sangat penting bagi semua
yang masih ingin berakal sehat dan mencintai sesama serta alam semesta.
Filsafat Stoa adalah yang pertama mengusung konsep kosmopolis (negara seluas
kosmos]. Bukan hanya di Nusantara ini kita bersaudara. Kita adalah warga negara
dunia, semua manusia satu kerabat sebab berpartisipasi pada logos (rasio)
semesta yang sama.
Mengapa Saya Menulis artikel
Ini?
“Kamu menderita Major Depressive Disorder”
Kata-kata Sang Psikiater bagaikan petir di siang bolong. Oke, tidak
selebay itu sih. Namun, yang pasti jauh lebih mengejutkan dari teriakan
tukang sate kompleks perumahan di siang hari. “MajorDepressive
Disorder' adalah istilah keren (dan medis) dari ’‘depresi", dan tentunya
"depresi" di sini adalah kondisi medis beneran, bukan istilah yang sering
kali digunakan seenaknya oleh netizen di media sosial ["Depresi banget
gw, kata abangnya martabak nutella sudah habis!!")
Beberapa bulan sebelum menemui psikiater, saya memang mengalami
kemurungan yang tidak bisa dijelaskan. Saya diganggu pikiran-pikiran
mendung yang tidak bisa dijelaskan selalu pemicunya. Bawaannya sedih
dan negative thinking melulu, walaupun saya masih bisa
menyembunyikannya di tempat kerja (mungkin sebab belum terlalu
parah/severe).
Dari dulu, saya memang dikenal sebagai pribadi yang penuh negative
thinking. saat dihadapkan pada sebuah situasi, saya selalu terpikir
skenario jeleknya dulu. Namun, di pertengahan tahun 2017, pikiran buruk,
cemas, dan rasa tidak semangat menjalani hidup itu terasa semakin
menekan. Saya menyadari bahwa kondisi ini sudah menjadi serius saat
mulai memengaruhi orang-orang terdekat di sekitar saya.
Sejak dulu, orang-orang yang sudah mengenal saya secara dekat sering
menganjurkan saya untuk hanya berpikir hal-hal yang positif saja, namun
saya merasa tidak cocok dengan ajakan positive thinking. Entah mengapa
saya tidak pernah merasa bisa untuk "pokoknya pikirkan yang bagus-
bagus saja". Bagi saya, berat sekali untuk bisa mengubah pikiran negatif
menjadi pikiran positif semudah menyalakan saklar lampu. Selain itu,
ajakan "berpikir positif” seperti mengabaikan karakter dasar saya yang
lumayan overthinking (apa-apa dipikirin), termasuk melihat potensi negatif
yang bisa terjadi dari rencana apa pun. Yup, I am definitely the life of the
party.
Sesudah mendapat diagnosis dari psikiater, saya kemudian diberikan terapi obat-
obatan. Dari pengalaman ini, saya jadi lebih menyadari betapa topik kesehatan
jiwa dan juga terapinya masih mengalami stigma yang sangat merugikan di
Indonesia. Kesehatan jiwa sering dianggap tabu untuk dibicarakan (sebab hanya
identik dengan "gila”. "Bro, gue gak bisa ketemuan besok siang, ada janji sama
psikiater”. ”HAH, LO GILA YA? GILA KOK SADAR?”). Saya rasa hal ini
disebabkan gangguan psikis masih sering dianggap berbeda dari gangguan fisik
seperti encok, pegel linu, dan batuk pilek.
Gangguan psikis sering dianggap berada di ranah "jiwa” atau "roh”, sesuatu yang
abstrak, tak terlihat, dan kalau ada gangguan artinya hanya "gila” atau "diguna-
guna”. Masih banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa problem psikis juga
bisa berkaitan dengan fungsi organ tubuh dan kimia otak, dan ini menjadikannya
tidak berbeda dengan saat tenggorokan kita meradang dan sakit sebab serangan
bakteri.
Stigma dan salah pengertian tentang kondisi mental pun menimpa terapi dan
pengobatannya. sebab kurangnya pemahaman bahwa ada aspek fisik di balik
kondisi psikis, sering kali yang dianggap "terapi” hanya terbatas pada "curhat”,
konseling, atau, yang paling parah, disembur air kembang kumuran dukun. Terapi
obat untuk kondisi kejiwaan sering dipukul rata dianggap sebagai bahaya sebab
"tidak alami”, atau pasti akan menimbulkan "ketergantungan”. Stigma mengenai
masalah kesehatan jiwa dan terapinya yang masih menghambat ini sebenarnya
merugikan banyak orang yang seharusnya bisa mendapatkan manfaat, namun
harus memilih kena semburan mulut dukun.
Obat-obatan yang saya dapatkan terbukti efektif. Dalam tempo kira-kira dua
minggu, mood saya jauh membaik. Entah ini efek plasebo atau memang riil, yang
pasti saya merasakan perubahan nyata. Hal ini juga dirasakan oleh keluarga dan
orang-orang di sekitar saya.
Sejak itu, saya semakin mengapresiasi ilmu kesehatan jiwa dan menyadari
bahwa masalah kesehatan mental memang bisa dipengaruhi oleh
gangguan kimia di otak. Artinya, obat-obatan modern bisa membantu.
Namun, selama perjalanan terapi ini, saya juga tidak sabar untuk bisa
bebas dari pengobatan. Ibarat sakit kepala dan minum parasetamol,
tentunya kita tidak ingin terus-terusan mengonsumsi parasetamol.
Dalam artikel "We Need New Ways of Treating Depression” yang ditulis
oleh Johan Hari, disebutkan bahwa walaupun terapi depresi dengan obat-
obatan memang memberikan hasil yang menggembirakan (37% pasien
yang menjalani terapi obat melaporkan perbaikan kondisi mental mereka),
sayangnya kesembuhan ini tidak bertahan lama. Hanya 10% pasien
depresi penerima obat yang tetap bertahan sembuh dari depresi selama
satu tahun. Pengobatan memang memberikan pemulihan yang sangat
dibutuhkan, namun perlahan-lahan depresi kembali menyerang. Berarti,
obat-obatan saja tidak cukup. Ada hal lain yang diperlukan untuk bisa
memelihara kesehatan mental kita dalam jangka panjang.
Dalam artikel ini juga dikatakan bahwa fokus pada aspek biologi saja
membuat kita memandang depresi atau kecemasan sebagai sebuah
"malfungsi’’ dari otak atau gen. Namun, para ilmuwan yang meneliti faktor
sosial dan psikologi di balik depresi cenderung memiliki pendapat yang
berbeda. Bagaimana jika depresi bukanlah sebuah "kerusakan"
(malfunction), namun justru "fungsi" alarm yang memberitahukan ada
kebutuhan yang tidak terpenuhi? Ibaratnya, alarm kebakaran di gedung
yang tiba-tiba berbunyi (harusnya) bukanlah sebuah kerusakan, namun
menjadi alat yang memberi tahu para penghuni gedung bahwa kebakaran
benar-benar terjadi di gedung ini . Depresi juga harus dilihat sebagai
upaya tubuh memberi tahu ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam hidup
kita.
Tanpa disangka-sangka, jalan hidup membawa saya ke sebuah alternatif
solusi yang membantu saya memperoleh ketenangan yang lebih baik
pasca-terapi obat. Di tengah masa pengobatan, saya menemukan Filosofi
Teras (atau Stoisisme, nanti akan saya jelaskan mengapa saya
terjemahkan menjadi ), sebuah filosofi purba dengan usia
2.300 tahun (lebih tua dari agama Nasrani dan Islam).
Suatu hari, saat kondisi saya belum pulih dan masih dalam pengobatan, sambil
menunggu istri yang sedang belanja di supermarket, saya iseng melangkah masuk
ke sebuah toko artikel . Di tumpukan artikel -artikel terbaru, saya temui artikel How To
Be A Stoic karya Massimo Pigliucci. Sebelum membaca artikel ini , saya
hanya mengetahui Stoisisme sebagai salah satu cabang filsafat kuno. Itu saja.
Selain itu, dalam bahasa Inggris, definisi stoic (dengan 's’ kecil) adalah seseorang
yang tidak tampak memiliki emosi, f/af/datar banget, atau tidak mudah bereaksi
secara emosi, baik dalam situasi susah maupun senang. Gambarannya seperti ras
Vulcan yang ada di Star Trek mungkin ya, seperti Mr. Spock yang mukanya
lempeng terus, baik di saat susah ataupun senang (mungkin kamu punya teman
yang seperti demikian juga!).
Sesudah membaca artikel Pigliucci, mata saya bagaikan terbuka dan saya seperti
menemukan sebuah “terapi tanpa obat" yang bisa dipraktikkan seumur hidup.
ini sangat membantu saya merasa lebih tenang, damai, dan tidak
mudah stres dan marah-marah. Efek dari mempelajari Stoisisme ini begitu
positifnya, bahkan terapi obat oleh Sang Psikiater bisa dihentikan jauh lebih awal
dari umumnya, sebab perbaikan sikap dan mental saya yang signifikan.
Saya percaya banyak orang di luar sana yang hidup dengan kekhawatiran.
Mungkin tidak sampai depresi klinis, namun tetap saja kecemasan dan
kekhawatiran sehari-hari cukup merugikan. Stoisisme bisa menjadi alternatif untuk
membantu hidup yang lebih baik. Dalam bahasa Yunani, para filsuf Stoa menyebut
tujuan dari filosofi Stoisisme sebagai "eudaimonia" atau "hidup yang berkembang
[flourishing)".
Sayangnya, belum banyak artikel mengenai filosofi ini di dalam Bahasa Indonesia—
atau bahkan artikel filsafat secara umum— mungkin sebab kata “filsafat" punya
banyak konotasi negatif, seperti topik yang sulit dan bikin rambut beruban, atau
topik yang dianggap tidak ada relevansinya dengan kehidupan sehari-hari. Saya
berharap artikel ini bisa menjadi trigger atau pemicu untuk menumbuhkan minat—
baik bagi para pembaca, penerjemah, dan penulis artikel —akan artikel -artikel dengan
tema serupa.
artikel ini juga berisikan wawancara dengan pakar dan praktisi dari
berbagai bidang yang relevan, seperti Dr. Andri, SpKJ, FAPM., seorang
psikiater dengan spesialiasi Psychosomatic Medicine; Agstried Piethers,
seorang psikolog pendidikan; Wiwit Puspitasari seorang psikolog klinis;
Llia Halimatussadiah, seorang pengusaha dan penulis; dan Citta Cania
Irlanie, seorang aktivis dan editor. Saya tertarik melihat keterkaitan Filosofi
Teras ini dengan disiplin ilmu psikologi dan psikiatri, dan juga praktik
langsung di kehidupan sehari-hari. Ada banyak hal menarik yang saya
pelajari dari diskusi dengan para narasumber ini.
Menggunakan analogi yang kekinian, saya menemukan ini
bagaikan OS (Operating System) dari keseharian kita, seperti OS Android
di smartphone berbasis Android, atau iOS di iPhone. OS di smartphone
memastikan bahwa penggunaan dan aplikasi [apps) sehari-hari dari
smartphone kita berjalan lancar. Aplikasi tercanggih dan terseru pun akan
macet jika tidak didukung OS yang baik. Demikian dengan keseharian kita.
Kita memiliki banyak "aplikasi” dalam keseharian kita, pergi sekolah/kuliah,
pekerjaan kita, pacaran/pernikahan kita, hubungan kita dengan orang-tua,
ambisi dan mimpi kita, hobi kita, dan lain-lain. "Aplikasi-aplikasi” ini
membutuhkan OS yang baik agar bisa berfungsi optimal. Saya
menemukan sebagai sebuah OS yang bisa membantu
tujuan ini .
Akhir kata, saya menulis artikel ini untuk berbagi pengalaman saya
menemukan yang sangat membantu memperoleh hidup
yang lebih tenang. Saya berharap artikel ini bisa membantu para pembaca
yang mungkin sedang dilanda kecemasan dan kekhawatiran. artikel Filosofi
Teras rasanya memang cocok untuk mereka yang sering atau sedang
merasa khawatir akan hidup, atau sering resah dan kecewa dalam
kehidupan sehari-hari.
tidak menjanjikan rahasia untuk menghilangkan kesulitan
dan tantangan hidup, namun justru menawarkan cara- cara untuk
mengembangkan sikap mental yang lebih tangguh agar bisa tetap tenang
menghadapi terpaan hidup apa pun. Bagi pembaca lainnya, semoga artikel
kecil ini minimal dapat menambah pengetahuanmu akan adanya sebuah
pemikiran antik yang sudah berusia 2.000 tahun lebih, dan masih relevan
dengan kehidupan kita sekarang.
i bulan November 2017, saat saya sedang mempelajari Filosofi Teras,
saya terpikir untuk mencari tahu apakah orang-orang lain juga merasa
khawatir mengenai hidupnya melalui riset (baca: kepo ilmiah). Saya
kemudian membuat Survei Khawatir Nasional secara online.
D
Survei Khawatir Nasional dilakukan selama seminggu dengan rentang waktu
tanggal 11-18 November 2017, jumlah responden sebanyak 3.634 responden, dan
komposisi responden 70% perempuan. Sebagai catatan metodologi, sebab survei
ini dilakukan secara online dan disebarkan secara organik (sukarela) di media
sosial, maka hasilnya tidak bisa dianggap mewakili keseluruhan populasi, sebab
pemilihan sampel tidak acak Irandom). Dalam bahasa awam, hasil dari survei ini
hanya mewakili responden survei ini saja dan tidak bisa serta merta dianggap
mewakili populasi umum.
Survei ini menanyakan tingkat kekhawatiran responden terhadap kehidupan
secara umum dan beberapa aspek hidup yang umum bagi generasi milenial, yaitu
mereka yang dilahirkan antara tahun 1980-2000. Ini artinya, di tahun 2018,
penduduk milenial tertua berusia 38 tahun (sudah ada yang menikah dan menjadi
orang tua), dan termuda berusia 18 tahun (usia mulai kuliah/bekerja). sebab nya,
Survei Khawatir Nasional ini juga menanyakan tingkat kekhawatiran di beberapa
aspek hidup yang dirasa relevan, yaitu sekolah/studi, relationship,
pekerjaan/bisnis, sampai topik yang lebih besar seperti kondisi sosial politik di
Indonesia.
Pertanyaan mengenai rasa khawatir selalu menggunakan skala 4-poin, yaitu
sangat tidak khawatir, tidak khawatir, sedikit khawatir, sangat khawatir. Skala ganjil
dihindari untuk menghindari kebiasaan banyak orang memilih "tengah-tengah
saja".
Bagaimana hasilnya?
a. saat ditanyakan mengenai tingkat kekhawatiran tentang hidup secara
keseluruhan saat ini, hasilnya adalah 63% (hampir dua dari tiga responden)
mengaku merasa “lumayan khawatir/sangat khawatir” tentang hidup secara
umum.
3
b. Dari responden yang masih bersekolah/kuliah, separuhnya (53%)
merasa khawatir dengan pendidikan mereka. Tiga penyebab
kekhawatiran tertinggi adalah tugas/paper yang tidak lancar, hilangnya
motivasi belajar, dan nilai jelek/tidak lulus. “Biaya” ada di urutan
keempat, dipilih oleh seperempat dari mereka yang khawatir
mengenai pendidikan mereka.
c. Untuk responden yang berada di dalam relationship
(pacaran/menikah), mereka yang mengaku "agak khawatir” dan
"sangat khawatir” mengenai hubungan mereka ternyata minoritas
dengan persentase 30%. Ini artinya, mereka yang tidak khawatir
mengenai relationship (pacaran/pernikahan) lebih banyak dari yang
merasa khawatir.
d. Bagi mereka yang merasa khawatir soal relationship mereka, tiga
kekhawatiran utama adalah:
/. Relationship mau dibawa ke manaa? [Udah kayak lagu aja).
ii. Relationship yang terasa sudah hambar.
iii. Pasangan selingkuh, sangat dekat dengan pilihan keempat, yaitu
"hubungan tidak direstui orang tua”.
e. Bagaimana dengan responden jomblo? Apakah yang jomblo merasa
lebih khawatir soal status jomblo mereka? Ternyata hasilnya
TIDAK. Tingkat kekhawatiran jomblo mengenai
ke-jomblo-an mereka ternyata sama dengan kekhawatiran mereka
yang sudah berpasangan mengenai hubungan mereka, yaitu sekitar
30% dari responden. Jadi, dari hasil survei ini saja bisa terlihat kalau
memiliki pasangan tidak membuat kekhawatiran kamu lebih berkurang
dibandingkan dengan saat kamu jomblo. Good news dong bagi kaum
tuna- asmara atau jomblo!
f. Di antara mereka yang mengaku agak/sangat khawatir soal status
jomblo mereka, tiga kekhawatiran utamanya adalah:
i. Khawatir tidak akan pernah mendapatkan pasangan.
ii. Khawatir dengan umur.
iii. Khawatir tidak menarik lagi.
4
sebab penasaran dan kepo, saya menanyakan kepada para jomblo yang
TIDAK khawatir soal relationship mengenai apa alasan mereka tidak
khawatir. Hasilnya, tiga alasan tertinggi mereka tidak khawatir dengan
kejombloannya adalah:
iv. Memang sedang senang sendiri.
v. . Jodoh di tangan Tuhan (dipilih separuh dari mereka yang tidak khawatir).
vi. . Sedang terlalu sibuk di kehidupannya untuk punya waktu memikirkan
pasangan.
g. Bagi mereka yang memiliki pekerjaan/bisnis, kekhawatiran akan
pekerjaan/bisnis dialami oleh sekitar sepertiga responden (33%).
Kekhawatiran terbesar mengenai pekerjaan/bisnis adalah:
/. Stuck di karier sekarang.
ii. Gaji tidak mencukupi.
iii. Khawatir performa (di kantor) tidak memuaskan.
h. Mengenai aspek keuangan: sekitar separuh responden (53%) mengaku
khawatir/stres soal kondisi keuangan mereka. Bayangkan, satu dari dua
responden khawatir soal ini!
i. Kekhawatiran sebagai orang tua. Menjadi orang tua umumnya adalah fase
hidup yang dinanti-nantikan oleh banyak orang, namun siapa sangka menjadi
orang tua juga bisa jadi sumber kekhawatiran lho! Ternyata, separuh
responden orang tua (53%) mengaku merasa khawatir, sama dengan
proporsi mereka yang khawatir soal uang. Apa saja yang dikhawatirkan saat
menjadi orang tua?
i. Biaya sekolah anak! Opsi ini dipilih oleh lebih dari separuh responden
orang tua yang merasa khawatir. Bagi yang akan menikah dan menjadi
orang tua, apakah sudah memikirkan ini? Memiliki anak memang sumber
kebahagiaan yang besar, namun jika kita tidak siap dengan biaya
pendidikannya ke depan, hal ini malah bisa menjadi sumber kekhawatiran.
ii. Anak sakit/kecelakaan.
PENDAFTARAN TERIMA
SISWA BARU JUAL GINJAL
5
iii. Biaya kesehatan anak.
Surprisingly (atau tidak?), dua dari tiga kekhawatiran utama para
orang tua berkaitan dengan uang. Masalah lain seperti kenakalan
anak, penyalahgunaan narkoba, dan ibadah anak/agama ternyata
berada di bawahnya.
j. Sosial Politik. Surpriseee (atau nggak ya?)! Kondisi sosial politik ternyata
menjadi sumber kekhawatiran terbesar dengan 76% (atau tiga dari
empat responden) merasa agak/ sangat khawatir mengenai ini.
Berikut tiga kekhawatiran tertinggi mengenai kondisi sosial politik:
i. Hoaks, fake news.
ii. Diskriminasi suku dan agama makin meningkat.
iii. Bangkitnya kaum radikal/intoleran.
Bisa dibayangkan saat kita memasuki tahun Pemilihan Presiden 2019
nanti, mungkin saja tingkat kekhawatiran semakin meningkat saat
suhu politik memanas.
The Cost of Worrying-.
Berdasarkan Survei Khawatir Nasional, ada lebih banyak orang yang merasa
khawatir di dalam hidup ini, dengan dua dari tiga responden merasa khawatir
secara umum. Aspek hidup yang berbeda memiliki tingkat kekhawatiran yang
berbeda pula. Relationship ternyata tidak menjadi sumber kekhawatiran tertinggi,
sementara peran menjadi orang tua dan keuangan cukup menjadi kekhawatiran.
Di luar kehidupan pribadi, kondisi sosial politik Indonesia juga sesuatu yang
sangat dikhawatirkan.
So what? Mungkin kamu berpikir, tidakkah kekhawatiran akan hidup itu normal?
6
Untuk apa dipusingkan atau 'dikhawatirkan' (khawatir tentang khawatir!)? Menurut
saya, kekhawatiran adalah sesuatu yang bisa—dan seharusnya—dikurangi,
sebab menimbulkan banyak “biaya”. Apa saja “biaya” dari kekhawatiran?
1. Menghabiskan energi pikiran. Berpikir, termasuk di
dalamnya merasa khawatir berlebihan, adalah aktivitas
yang membutuhkan energi. Artinya, setiap kalori energi
tubuh yang dipakai untuk khawatir adalah kalori yang tidak
bisa digunakan untuk hal-hal lain yang lebih produktif.
2. Menghabiskan waktu dan juga uang. Saat kita khawatir soal
studi, orang tua, keuangan, atau sosial politik negara tanpa
menghasilkan solusi, kita sudah membuang waktu yang
sebenarnya bisa digunakan untuk hal-hal lain yang lebih
berguna. Tidak hanya waktu, kekhawatiran juga bisa
menghabiskan uang, apabila rasa khawatir ini
membuat kita mengeluarkan uang untuk hal- hal yang
(dianggap) menenangkan pikiran, padahal tidak efektif.
Misalnya, sebagian orang yang merasa khawatir
menjadikan makanan sebagai pelipur lara, berkelakuan
menyebalkan di depan keluarga dan teman-teman sekitar,
atau memutuskan untuk kawin lagi, dan lain sebagainya.
3. Mengganggu kesehatan tubuh! Masih banyak orang yang
memisahkan kebutuhan "pikiran” dan “tubuh”, seolah-olah
apa yang terjadi di pikiran tidak memiliki hubungan dengan
tubuh fisik kita. Padahal, sudah lama
7
para ilmuwan kesehatan menemukan bahwa pikiran dan
kesehatan tubuh memiliki hubungan dua arah yang saling
memengaruhi. Untuk topik ini, saya khusus mewawancarai
Dr. Andri, seorang Spesialis Kesehatan Jiwa yang
tergabung dalam Academy of Psychosomatic Medicine
(USA).
Wawancara
dengan Dr. Andri
SpKJ FAPM
"Masalah
khawatir
bukan masalah ‘di pikiran’ saja!
Bagaimana latar belakang sampai dokter memilih kuliah psikiatri dan
kemudian mendalami Psychosomatic Medicine?
Saya lahir dan besar di Tangerang. Saya memilih bersekolah di SMA
negeri, sebab zaman dulu katanya lebih mudah masuk FKUI (Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia) kalau datang dari sekolah negeri. Saat
memulai kuliah di tahun 1997, pembangunan lagi berjalan pesat-pesatnya.
Indonesia saat itu baru mengenal istilah konglomerat. Waktu itu saya
8
kepikir, kalau jadi pengusaha harus seperti konglomerat yang punya sifat
"makanin orang”, kayaknya cara mendapatkan duitnya kok kurang bagus.
Jadi, saya memikirkan (profesi) apa yang bisa mendapatkan uang, tapi
juga menolong orang.
sebab kondisi keuangan, Papa nggak mungkin menyekolahkan saya ke sekolah
kedokteran swasta. Selain mahal, lulusnya gak jelas. Kalo gak masuk UI, saya
harus masuk swasta. Nah, seperti umumnya orang keturunan China kebanyakan,
swasta yang saya pilih waktu itu adalah Untar (Universitas Tarumanegara), tapi
ngambilnya (Teknik) Sipil, sebab jargon pembangunan. Mikirnya, nanti kalo lulus
banyak yang pake. Tapi, ternyata saya lulus UMPTN (FKUI).
Sesudah menjadi mahasiswa kedokteran, mengapa tertarik untuk mengambil
jurusan psikiatri?
Kalau keinginan menjadi psikiater sendiri sudah sejak dari kuliah tingkat satu.
artikel yang berpengaruh kenapa saya memilih psikiatri adalah The Doctors karya
Erich Segal.
Salah satu tokoh di artikel itu adalah seorang psikiater lulusan Harvard. Di situ saya
mengenal konsep Freudian dan mulai membeli artikel -artikel mengenai Freud
(Sigmund Freud, Bapak Psikoanalisis) di tingkat dua.
Kemudian, dulu kan ada mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Kebetulan, di kampus
saya (mata kuliah ini ) dibawakan oleh seorang psikiater. Dia bicara tentang
cara memahami perilaku manusia, bagaimana menciptakan kebiasaan, dan, dia
selalu bilang, kalau ingin mempelajari kebiasaan dan otak manusia, belajarlah
psikiatri. Kalau hanya belajar psikologi, sepertinya hanya mempelajari perilakunya
saja. Sementara kalau kita belajar psikiatri, sebab kita seorang dokter, kita juga
tahu sakitnya bagaimana. Kita tidak kehilangan "sense of doctor" dengan menjadi
psikiater. Dari situ saya terpikir, berarti di profesi ini saya masih bisa bantu orang
nih.
Dalam perjalanannya, sesudah lulus kedokteran, saya langsung mengambil
spesialisasi psikiatri. Zaman dulu kita bisa langsung mengambil spesialis tanpa
harus PPT.
Kenapa psikiatri? sebab menarik, bisa mempelajari perilaku manusia, dan
sebagai dokter kita tahu bahwa sumbernya di otak. Semua fenomena bisa
dijelaskan di otak kita. Masalahnya ilmunya belum nyampe aja, sehingga
kita belum bisa menjelaskan kenapa orang bisa menjadi depresi, jadi
cemas, dll.
Saya menjadi dokter dan mengambil psikiatri untuk melawan stigma
bahwa psikiater itu hanya ngurusin orang gila aja. Secara statistik di
Indonesia, dari Survei Kesehatan Dasar Rumah Tangga 2012, sebenarnya
9
yang psikotik (yang disebut “gila” itu) itu hanya 0,7%. Jadi, pekerjaan
psikiater sebenarnya lebih banyak merawat yang depresi cemas. Dari
berbagai literatur bisa 20- 30% (insiden).
Kalau ketertarikan pada pengobatan psikosomatik (bagian dari ilmu
psikiatri yang menghubungkan psikiatri dan disiplin kedokteran lainnya,
seperti penyakit dalam, alergi, syaraf, dan lain-lain)?
Di tahun kedua belajar psikiatri, saya berkenalan dengan psikosomatik. Di
Indonesia, psikosomatik ada dua sisi. Dari sisi penyakit dalam dan dari sisi
psikiatri. Kalau penyakit dalam, lebih ke organ, sebab dulu ada istilah
"penyakit-penyakit psikosomatik", seperti hipertensi, neurodermatitis,
asthma bronchiale, dan lainnya. Ini adalah penyakit-penyakit yang
dianggap banyak hubungannya dengan psikologi. Makanya ada istilah
seperti "Lo jangan marah-marah melulu dong, nanti darah tinggi!", "Nanti
kalo stres, lambung lo sakit”. Jadi, sebenarnya orang sejak dulu sudah
mengetahui adanya psikosomatik.
Alasan lain memilih psikosomatik: di ilmu kedokteran ada sebagian
spesialisasi yang merasa dirinya lebih tinggi dari yang lain. Psikiatri ini
dianggap "gak terlalu medis", terlalu banyak memikirkan kejiwaan yang
tidak ada hubungannya dengan kedokteran. Ada anggapan bahwa
sesudah menjadi psikiater, kami gak bakal lagi menjadi dokter. Kami
hanyalah "psikolog yang bisa mengobati dengan obat".
Jadi, sederhananya, apakah itu “pengobatan psikosomatik”?
Di ilmu pengobatan psikosomatis dijelaskan bahwa apa yang terjadi di otak kita bisa
memengaruhi badan secara keseluruhan. Maka, tidak heran ada orang stres
mengalami tegang leher. Kalau sakit kepala, bisa kemudian mengalami sakit
lambung juga, sebab ada interconnection (keterkaitan).
Kita sebagai psikiater gak cuma bilang, “Kamu ini sakit kepala sebab banyak
mikir.” Betul, saya lagi mikirin utang sampai jadi sakit kepala. Tapi pertanyaannya,
kenapa jadi sakit kepala? sebab dengan mikirin hutang, otak saya bekerja lebih
keras. Stres sebab utang itu persepsinya negatif. saat ada persepsi negatif, otak
harus bekerja keras untuk beradaptasi dengan persepsi negatif itu. Otak kita selalu
berusaha agar segala sesuatu menjadi seimbang. saat ada persepsi negatif,
maka otak itu akan mencoba beradaptasi.
Jadi, bagaimana stres bisa merusak kesehatan tubuh kita?
Ada quote dari Hans Seyle, “Bukan stres yang membunuh kita, tapi reaksi kita
terhadapnya.” sebab sebenarnya masalahnya bukan di stres itu sendiri, namun
persepsi kita. Misalnya, “Duh jalanan macet nih!”, atau, “Utang gue banyak.” Itulah
yang menyebabkan badan mengeluarkan zat. Pertama, respon adrenalin
meningkat. Adrenalin meningkatkan tekanan darah (sebab jantung menjadi makin
berdebar), pembuluh darah menyempit, dan sebab nya kepala kita menjadi tegang.
Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini akan meningkatkan hormon stres,
namanya kortisol. Kortisol adalah zat yang sifatnya oksidatif, merusak apa pun di
dalam tubuh kita. Jika dia menempel di pankreas, dia meningkatkan insulin.
Makanya, ada orang yang kalau stres bawaannya mau makan. Badannya
memanggil- manggil sebab berpikir dia sedang membutuhkan energi.
Jika stresnya akut atau sementara, maka reaksi tubuh juga sementara. namun jika
stresnya lama, maka reaksi tubuh juga akan lama. Makanya saya suka bilang
kepada pasien, jangan stres lama-lama, nanti adaptasinya berubah. Nanti anda
tidak tahu lagi bahwa anda sedang stres, sebab sudah terbiasa hidup dalam stres.
Jika kita stres kelamaan, badan akan merespon dengan hal- hal yang kita
tidak tahu sebagai bagian dari stres. Contohnya penyakit dispepsia atau
gangguan lambung. In the long run, bisa muncul gangguan jantung,
hipertensi, dan diabetes.
Adakah perbedaan antara ‘takut’, ‘stres’, ‘khawatir/cemas’, dan depresi?
Kalo “takut’’, kita tahu sumbernya, misalnya takut setan atau takut ujian.
Kalau cemas, berdasarkan definisinya, gak jelas penyebabnya, pokoknya
merasa cemas saja. sebab nya, ada diagnosis “gangguan cemas
menyeluruh”, yaitu orang yang suka khawatir berlebihan terhadap segala
sesuatu di dalam hidupnya, khususnya terhadap orang-orang yang
dicintai.
Gangguan cemas itu tidak muncul tiba-tiba, seperti di Survei (Khawatir) itu.
Di satu sisi, saya merasa ini opportunity (kesempatan), sehingga saya
bilang kepada koas-koas (ko- asisten) saya, kamu jadi psikiater deh,
dibutuhkan banget sebab banyak orang khawatir. Apalagi dengan
ketidakpastian sekarang. Orang menjadi cemas sebab dia tidak bisa
mengendalikan hidup di situasi ketidakpastian.
Kalo stres artinya “tekanan”, sesuatu yang mengganggu keseimbangan di
hidup kita. Ada stres fisik, stres psikis. Kalau olahraga sampai kecapean
itu stres fisik. Kalau stres mental, saya merasa exhausted, kelelahan. Ada
sumber stresnya.
Jika stres meningkat terus, pada kondisi orang sudah tidak tahu stresnya
datang dari mana, artinya dia sudah masuk fase cemas. Makin jauh lagi,
jika cemasnya dibiarkan, bisa menjadi depresi.
11
Banyak orang yang awalnya cemas biasa saja—merasa khawatir akan
kehidupan—kemudian tidak mendapat solusi dan dia menjadi depresi.
Tidak ada solusi, jadi hopeless, lalu jadi depresi. Ada dua gejala penting
depresi: pertama adalah mood yang sedih, lalu yang kedua adalah putus
asa—tidak ada harapan, hidup kok begini-begini aja. Kita harus hati-hati
dengan teman-teman yang berkata, "Hidup gue kok begini-begini aja",
jangan-jangan dia sudah mengalami gejala awal depresi. sebab apa yang
terucap oleh seseorang bisa jadi memang refleksi dari (hidup) dia.
Depresi dan cemas tidak berbeda jauh. Dan secara organ otak juga sama,
sebab nya obatnya pun sama. Depresi, mendapat obat antidepresan. Cemas
panik, dikasih antidepresan juga.
Apakah gangguan tubuh sebab pikiran hanya terjadi saat sudah parah saja? Atau
bahkan cemas "sehari-hari” saja sudah bisa bermanifestasi fisik?
Cemas sehari-hari pun sudah bisa memengaruhi fisik. Contohnya, saat mau
presentasi kita bolak-balik ke kamar mandi. Penjelasannya adalah saat kita stres,
atau tubuh kita memersepsikan adanya stres, maka terjadi peningkatan aktivitas
saraf otonom (saraf yang bertanggung jawab atas organ-organ yang berfungsi
sendiri tanpa perintah, seperti jantung, paru, kandung kemih), makanya jadi
pengen pipis.
Asthma bronchiale, misalnya. Asma yang dipicu stres. saat orang stres,
merangsang reaksi alergi imunologi, maka timbullah asmanya. Gangguan cemas
tidak datang tiba-tiba. Biasanya pasien datang ke saya sesudah berkeliling ke
beberapa dokter, seperti dokter penyakit dalam, dokter jantung, dokter saraf, atau
dokter THT, sebab gejalanya seperti vertigo, tapi kemudian dinyatakan tidak apa-
apa. Tidak ada organ yang rusak. Kata saya, makronya memang tidak, artinya
jantungnya masih bagus. Tapi bayangkan, jantung berdetak 95 kali per menit,
dibandingkan 65 kali per menit, lebih berat mana bebannya?
Bisakah saya artikan bahwa pesannya di sini adalah: jangan anggap remeh
khawatir/cemas “kecil” yang terjadi sehari-hari?
Secara umum, kita memiliki kemampuan adaptasi. Bayangkan stress threshold
sebagai gelas, lalu kita isi sedikit-sedikit dengan stres. Kita harus cari tahu cara
supaya gelas itu tidak terlalu penuh, dikeluarkan sedikit-sedikit. Caranya macam-
macam, misalnya dengan berbicara. Kadang-kadang kita feeling relieved (lega)
hanya dengan berbicara kepada orang. Atau rekreasi.
Mengapa saya katakan persepsi itu penting. Contoh: liburan itu lebih melelahkan
dibandingkan praktik/kerja, jalan ke sana sini, tapi rasanya senang sebab kita
berkumpul bersama keluarga. Makanya, ada yang bilang, coba ganti suasana biar
12
gak stres. sebab sekarang lagi trennya ke CBT [Cognitive Behavioral Therapy],
maka yang paling penting itu perception.
Catat hal-hal
dalam hidup
yang bisa atau
pernah
membuat
kita bahagia.
Misalnya olahraga,
ngobrol, punya
teman. Lalu; lakukan aktivitas
yang membahagiakan. jd
Ada juga alternatif “membohongi” pikiran dengan sementara, dengan zat. Misalnya
dengan alkohol, menekan kesadaran sehingga lupa sementara. Tapi besoknya
muncul lagi. Kalau narkoba bekerja dengan mengelabui (otak), seperti sabu, yang
meningkatkan dopamin dan serotonin, sehingga seseorang happy berlebihan.
Setiap kita pakai sabu di otak kita sebenarnya seperti ada luka/rusak permanen
yang tidak hilang selama 10 tahun.
Depression hurts. Depresi itu melukai. Melukai otak, namun juga bisa diartikan
melukai orang-orang di sekitar penderita, sebab penderita memandang segala
sesuatu "gelap”.
Apakah artinya manajemen cemas sehari-hari sama dengan manajemen persepsi?
Benar. Misalnya terjebak di tengah macet, wah sialan gue gak bisa jalan, itu
persepsi negatifnya. Tapi persepsi positifnya, wah terjebak macet di jalan di
sebelah cewek cakep (istri), gue bisa ngobrol lama-lama sama dia. Sama
macetnya, tapi beda cara bersikapnya. Mengapa? sebab beda persepsi. Dan
jadinya less stress bagi kita.
Benarkah bahwa saat ini lebih banyak orang muda yang berkonsultasi pada
psikiater?
Yang saya amati memang seperti itu. Penyebabnya beberapa: mereka semakin
well-informed mengenai kesehatan jiwa. Awalnya adalah para sarjana yang
sebelumnya kuliah di luar negeri yang kemudian kembali ke Indonesia untuk
menetap. Masalah timbul sebab penyesuaian. Mulanya, pas kuliah di luar negeri
mereka culture shock, sesudah lama di sana dan menyesuaikan diri dengan
budaya di sana, saat kembali ke Indonesia kembali culture shock.
Belakangan makin banyak yang datang sebab isu relationship. Baper, galau, itu
kan bahasa awamnya, namun , dalam bahasa kedokteran, ada beberapa perilaku
baper/galau yang sudah masuk sindrom depresi. saat dia kehilangan seseorang
yang sangat dia sayangi, dia merasa terganggu, diagnosis klinisnya mungkin yang
disebut “depresi ringan”, tidak sampai gejala ingin bunuh diri.
Menariknya, kalau saya ngobrol dengan pasien yang sudah berumah
tangga selama lima tahun ke atas, banyak yang bilang, "Saya sudah
mengertilah suami saya kayak apa. Jadi, saya tidak usah berharap
banyak.” Menurut saya, penerimaan itu mungkin stressful juga loh buat dia.
Dia berusaha menerima bahwa seseorang yang setiap hari dia temui di
dalam kehidupannya sebenarnya adalah sumber stres. Tapi masalah ini
dianggap tidak ada oleh pasien. saat pasien ditanya apa sumber stres
mereka, rata-rata mereka menjawab tidak tahu. Menarik kan?
Kalau pasiennya anak muda, saya lebih sering mendengar masalah
relationship dengan teman dan orang tua. Dengan teman sebaya,
umumnya masalahnya dengan teman dekat, best friend mereka. Atau,
hubungan dengan kolega di pekerjaan. Lewat ilmu kedokteran jiwa, kami
tahu kalau sebenarnya yang bermasalah bukan temannya, kerjaannya,
atau lingkungannya, tapi dia (pasien). Jadi, ujung-ujungnya dia.
Sekarang kita bicara konteks lebih besar, tahun Pilkada dan Pilpres akan
memanas. Ada efeknya pada tingkat kecemasan individu?
Mungkin kita harus membatasi punya WhatsApp Group. Saya percaya too
much information will kill you. Terlalu banyak informasi dari mana-mana,
informasi itu belum tentu benar. "Tapi kan itu hanya informasi doang?” kata
orang. Saya percaya kalau karakter kita pada dasarnya sudah negatif, lalu
misalnya kita sedang stres dengan kehidupan pribadi kita, kemudian kita
membaca berita yang jelek, efeknya akan beda dengan jika kita membaca
berita ini saat sedang normal.
Dulu, ada situs abal-abal. Sekarang sudah jarang, orang abal-abalyang
banyak, yaitu teman-teman kita sendiri (yang turut menyebarkan berita
hoaks). Apakah mereka memang kerjaannya seperti ini ya? Sebenarnya,
kalau kita sibuk, harusnya tidak terlalu banyak main media sosial. Kok
mereka kayaknya terus-terusan gitu, selalu aja ada waktu.
Adakah pesan-pesan untuk pembaca?
Coba kenali sumber stresnya. Kalau kita merasa sedang berada dalam sebuah
keadaan, kenali kenapa. Kalau kita bisa mengenali sumbernya, maka kita bisa
melawannya.
Catat hal-hal dalam hidup yang bisa atau pernah membuat kita bahagia. Misalnya
olahraga, ngobrol, punya teman. Lalu, lakukan aktivitas yang membahagiakan.
(Catatan: Dr. Andri SpKJ, FAPM saat ini praktik di RS Omni Alam Sutra,
Tangerang. Beliau bisa dihubungi di email: andri(3ukrida.
ac.id. dan Twitter: (dmbahndi.)
Intisari Wawancara dengan Dr. Andri:
• Kondisi psikis berkaitan dengan kesehatan tubuh kita.
• Jika dalam keseharian kita terbiasa hidup dengan cemas dan stres untuk
jangka waktu panjang, maka tubuh juga beradaptasi dalam rentang waktu
ini .
• Bukan situasi penyebab stresnya yang menjadi masalah, namun persepsi kita
akan situasi ini . Manajemen cemas = manajemen persepsi.
• Dengan media sosial, kita mengalami banjir informasi yang belum tentu benar.
Ini bisa menambah kekhawatiran.
dulu, saya sering kagum, dan iri, pada teman-teman yang punya kepribadian
ceria, ekstrover, dan rasanya hidupnya tidak ada masalah. Rasanya setiap
bertemu mereka, senyum, canda dan tawa selalu mengelilingi keseharian
mereka. Ini sungguh kontras dengan penampakan saya yang selalu digambarkan
'terlalu serius. Jika berjalan saja saya sering menundukkan kepala. sebab nya dulu
saya terkadang memikirkan bagaimana mengubah kepribadian saya. Bagi saya,
seseorang yang ‘bahagia" harus seperti teman- teman saya tadi, selalu tampak
tersenyum dan tertawa. Bisa ditebak, usaha mengubah kepribadian ini gagal total.
'Cetakan saya sudah seperti ini. Saya mulai terpikir, bisakah saya “bahagia" tanpa
mengubah kepribadian asli saya?
D
The Problem with Positive Thinking
Setelah membaca hasil Survei Khawatir Nasional dan mendengarkan penjelasan
Dr. Andri, saya jadi berpikir bahwa kekhawatiran sehari-hari bukanlah sebuah
kondisi yang bisa dianggap remeh. Selain membuat kita jadi sulit merasakan damai,
ada risiko lain yaitu ancaman atas kesehatan fisik kita sendiri. Terus, bagaimana
dong solusinya? Adakah cara mengatasi kekhawatiran sehari-hari dan juga emosi
negatif lainnya?
Saya dikenal memiliki karakter yang pesimis dan sering kali berpikiran negatif.
saat berkumpul dengan teman-teman atau keluarga, lalu ada yang mengusulkan
ide untuk bersenang- senang, saya pasti mampu melihat semua kemungkinan buruk
yang bisa terjadi dari ide ini . Yuk kita main ke tempat paling gaul saat ini!
/saya: Ah males, nanti sudah capek mengantri gak dapet tempat]. Yuk jalan-jalan ke
luar kota! /saya: Ah nanti macet, hanya capek saja jadinya]. Yup, bisa terbayang kan
betapa populernya saya di pertemanan?
Sering kali nasihat yang saya dapatkan adalah, "Jangan berpikiran negatif melulu
dong. Think positive ajal" Pada umumnya, pernyataan itu berarti sebaiknya saya
hanya memikirkan kemungki











